Selasa, 05 Januari 2016

Merry Christin Sirait. 7A - RESUME EMPAT BUKU ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA

BAB IV
Pada bab ke 4 ini, Henry Guntur Tarigan dalam bukunya Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa membahas mengenai Antarbahasa atau Interlanguange. Pada dasarnya Analisis Kontrastif dan Analisis Kesalahan berbeda dengan Antarbahasa dalam hal sebagai berikut, yaitu pada sikap terhadap performansi, terutama sekali terhadap “kesalahan”, dan performansi pembelajar yang dapat dihubungkan dengan ciri-ciri bahasa ibunya.
Istilah “antarbahasa” bersinonim dengan “dialek idiosinkratik” dan “sistem aproksimatif”; tetapi “antarbahasa”lebih mapan dan lebih luas terpakai karena istilah itu:
a)      Lebih netral;
b)      Mencakup status yang tidak menentukan dari sistem sang pembelajar (antara bahasa aslinya dan bahasa sasaran);
c)      Menggambarkan “kecepatan yang tidak normal” yang dapat bertindak sebagai sarana pengubah bahasa pembelajar;
d)     Secara eksplisit mengakui dan menghargai hakikat performansi pembelajar yang sistematis.
Adapun tujuan dari telaah Antarbahasa yaitu untuk:
a.       Memberi informasi perilaku pembelajar bagi perencanaan strategi pedagogik;
b.      Bertindak sebagai prasyarat bagi validasi tuntutan keras dan tuntutan lemah pendekatan kontrastif;
c.       Mencari hubungan antara pembelajaran masa kini, dulu, dan nanti;
d.      Memberi sumbangan bagi teori linguistik umum.
Telaah Antarbahasa memang mengandung implikasi pedagogis; terutama sekali dalam penjernihan hal-hal berikut ini:
(i)       Kriteria untuk membedakan antara kesalahan yang merupakan hipotesis-hipotesis produktif dan kesalahan yang berakibat dari generalisasi-generalisasi yang keliru;
(ii)     Metodologi untuk mengenali secara jelas sumber-sumber kesalahan
(iii)   Suatu hierarki tipe-tipe kesalahan dalam kaitannya dengan komunikasi efektif dan reaksi sikap-sikap;
(iv)   Gagasan “kesalahan” versus “penyimpangan” yang berterima dalam konteks-konteks pembelajaran bahasa kedua atau B2.

Lainhal dengan buku Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa karya Markhamah, dkk, pada bab 4 dibahasa mengenai kalimat bervariasi. Keefektifan kalimat, selain dilihat dari ciri gramatikal, keselarasan, kepaduan, dan kehematan juga dilihat dari kevariasian. Kevariasian memang tidak langsung berdampak pada kesalahan, tetapi lebih berdampak pada ketpatan, gaya, atau keindahan. Kevariasian dapat menghindarkan pendengar dan atau pembaca dari kebosanan. Artinya seseorang dalam berkomunikasi dituntut memilih kata, klausa, kalimat, bahkan paragraf yang bervariasi.
Soedjito (1988) membedakan variasi berdasarkan urutan dan jenis kalimat. Yang dimaksud variasi urutan adalah urutan unsur-unsur fungsi yang berbeda. Berbeda urutan yang dimaksud adalah urutan biasa dan ururtan inversi. Adapun variasi berdasarkan jenis kalimat dibedakan menjadi dua. Pertama, variasi antara aktif dan pasif yang disebut variasi aktif-pasif. Kedua variasi antara kalimat berita dengan kalimat perintah dan dengan kalimat Tanya. Variasi kedua ini disebut variasi berita-perintah-tanya.
Berbeda lagi, dalam buku Analisis Kesalahan karya Mansoer Pateda. Bab 4 pada bukunya membahas mengenai sumber dan penyebab kesalahan. Pendapat popular menyebutkan kesalahan bersumber pada ketidakhati-hatian si terdidik dan yang lain karena pengetahuan mereka terhadap bahasa yang dipelajari, dan interferensi. Kategori kesalahan ini, ada yang sifatnya prasistematis, sistematis, dan pascasistematis. Sifat kesalahan ini berhubungan dengan kompetensi dan yang mengacu pada kesalahan yang belum mengganggu komunikasi atau sudah dapat menimbulkan salah paham (sistematis), dan sifat kesalahan yang memfosil. Beberapa faktor kesalah ini, yaitu.
1.        Bahasa Ibu
Istilah bahasa ibu biasa dipadankan dengan istilah first language, native laguange, mother tounge, dan bagi orang Indonesia biasa dipadankan dengan istilah daerah. Berdasarkan temuan tetntang pengaruh bahasa ibu, penganut analisis kontrastif menghipotesiskan bahwa ada petunjuk keras bahasa ibu mempengaruhi akusisi bahasa yang sedang dipelajari. Di Indonesia terasa pengaruh bahasa ibu atau bahasa daerah.
2.        Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan yang turut mempengaruhi penguasaan bahasa si terdidik. Lingkungan ini meliputi lingkungan di rumah, di sekolah, dan lingkungan di masyarakat. Melihat kenyataan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, kesalahan yang bersumber dari lingkungan disebabkan oleh, (i) penggunaan bahasa di lingkungan keluarga seisi rumah, (ii) teman sekolah, (iii) teman sepermainan, (iv) pemimpin di masyarakat, (v) siaran radio, (vi) siaran televise, (vii) surat kabar/ majalah, dan (viii) kegiatan yang menggunakan kebahasaan, misalnya spanduk, selebaran.
3.        Kebiasaan
Kebiasaan bertalian dengan pengaruh bahasa ibu dan lingkungan. Si terdidik terbiasa dengan pola-pola bahasa yang didengarnya. Oleh karena pola atau bentuk sudah menjadi kebiasaan, kesalahan sulit dihilangkan.
4.        Interlingual
Untuk menerangkan gejala interlingual kita hanya daoat mengobservasinya melalui data performansi dalam berbagai situasi dan mengidentifikasi interlingual itu melalui (i) ujaran si terdidik atau pembicara dalam bahasa pertama, (ii) interlingual yang diujarkan oelh si terdidik, dan (iii) bahasa kedua atau bahasa yang sedang dipelajari yang diujarkan oleh si terdidik. Dengan mengobservasi dan mengidentifikasi proses interlingual, kita dapat mempelajari proses psikolinguistik melalui 5 proses, yakni:
a.       Transfer bahasa
b.      Transfer latihan
c.       Strategi belajar bahasa kedua
d.      Strategi komunikasi bahasa kedua
e.       Pemukulrataan materi linguistik bahasa yang sedang dipelajari

5.        Interferensi
Memahami pengertian interferensi terdapat prinsip, (i) terdapat pengaruh, (ii) pengaruh itu berasal dari bahasa pertama atau bahasa ibu, (iii) bahasa pertama itu sistemnya berbeda dengan bahasa yang sedang dipelajari, dan (iv) bahasa pertama mempengaruhi si terdidik ketika ia mempelajari bahasa kedua. Dengan kata lain interferensi ialah adanya tuturan seseorang yang menyimpang dari norma-norma L1, sebagai akibat dari perkenalannya dengan L2 atau sebaliknya, yaitu menyimpang dari L2 sebagia akibat dari kuatnya daya tarik pola-pola yang terdapat pada L1.
Sedangkan pada buku Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik karya Nanik Setyawati, bab 4 membahas mengenai kesalahan berbahasa pada tataran morfologi. Kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi disebabkan oleh berbagai hal. Klasifikasi kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi antara lain: (a) penghilangan afiks, (b) bunyi yang seharusnya luluh tetapi tidak diluluhkan, (c) peluluhan bunyi yang seharusnya tidak luluh, (d) penggantian morf, (e) penyingkatan morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-, (f) pemakaiana afiks yang tidak tepat, (g) penentuan bentuk dasar yang tidak tepat, (h) penempatan afiks yang tidak tepat pada gabungan kata, dan (i) pengulangan kata majemuk yang tidak tepat.



BAB V
Dalam bukunya Analisis Kesalahan karya Mansoer Pateda, Bab V membahas mengenai kesalahan dalam hal menyimak dan berbicara. Menyimak adalah pengertian yang mengacu pada proses bahwa si penyimak tidak hanya mengerti dan membuat penafisran tentang apa yang diinformasikan oleh materi yang disimaknya. Menyimak dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya yaitu menyimak pasif, menyimak sebentar-sebentar, menyimak tanpa reaksi, menyimak terbatas, menyimak dengan perasaan, menyimak hati-hati, menyimak kritis, menyimak perseptif, dan menyimak kreatif.
Tidak hanya itu, satu komite pada  The National Council of Teachers of English menyebutkan 4 jenis menyimak, yakni:
1.      Marginal yaitu penyimak mengetahui bunyi-bunyi di sekeliling, tetapi ia tidak mereaksi terhadap apa yang didengarnya.
2.      Apresiatif yaitu penyimak mereaksi terhadap kegiatan kesenian berupa puisi, musik, cerita, dan ia mereaksi dalam bentuk senang atau tidak terhadap apa yang didengarnya.
3.      Atentif yaitu penyimak memusatkan perhatian untuk memperoleh informasi dan ia berpatisipasi aktif.
4.      Analisis yaitu penyimak menafsirkan  dan menilai bahan yang didengarnya.
Maka menyimak merupakan proses kognitif yang oleh karena itu kesalahan menyimak harus dilihat dari proses kognitif itu sendiri. Dengan demikian kesalahan menyimak berkisar pada kesalahan mengidentifikasi bunyi-bunyi bahasa  seperti apabila sei terdidik mendengar bunyi-bunyi bahasa yang asing baginya, si terdidik cenderung membuat kesalahan atau ia akan menyamakan bunyi-bunyi yang didengarnya itu dengan bunyi-bunyi yang agak mirip dengan bahasa ibunya. Kesalahan ini disebut kesalahan menyamakan.
Seperti juga menyimak, setiap hari manusia berbicara. Berbicara berarti menggunakan bahasa lisan secara aktif. Penggunaan bahasa lisan secara aktif ini boleh saja berwujud perintah, pertanyaan, dorongan, harapan, permintaan, pengakuan, penjelasan, pidato, berbicarara pada siding dan lain-lainnya.
Namun, karena berbicara merupakan aktivitas manusia yang menggunakan bahasa secara lisan, maka yang penting adalah pelafalan dan kata-kata atau kalimat yang digunakan. Berdasarkan hal-hal itu, kesalahan yang didapati kalau si terdidik berbicara adalah:
1.      Kesalahan melafalkan bunyi-bunyi bahasa
2.      Kesalahan memilih kata-kata atau istilah yang tepat
3.      Kesalahan dalam penggunaan kalimat yang samar-samar
4.      Kesalahan  berbicara dalam pengungkapan pikiran yang tidak jelas atau kacau
5.      Kesalahan dalam struktur kalimat itu sendiri
6.      Kesalahan menggunakan kata-kata yang mubazir

Sedangkan dalam bukunya yang berjudul Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa, Markhamah dkk membahas mengenai kesalahan struktur dalam bab v. Kesalahan struktur yang pertama adalah kesalahan struktur karena kerancuan aktif-pasif. Yang dimaksud kalimat yang rancu adalah kalimat yang sebagian unsurnya miliki kalimat aktif, sementara unsur lainnya milik kalimat pasif. Kalimat seperti ii menimbulkan ketaksaan/ kemenduaan makna.
Kesalahan selanjutnya yaitu kesalahan struktur  karena subjek dan keterangan. Dalam hal ini penulis atau penutur sering tidak memperhatikan apakah kalimat yang dihasilkannya sesuai dengan syarat kalimat lengkap atau tidak, apakah kalimat yang disusunnya mudah dipahami atau tidak. Kadang-kadang penulis juga kurang memperhatikan apakah suatu unsur bercampur dengan unsur lainnya. Sering terjadi seorang pemakai bahasa tidak menyadari bahwa dirinya telah mencampurkan komponen lain pada subjek.
Berikutnya kesalahan ditemukan dalam stuktur karena pengantar kalimat. Seringkali kita membaca kalimat yang diawali oleh kata menurut, berdasarkan, sebagaimana kita ketahui, seperti disebutkan di muka, seperti telah kami sampaikan sebelumnya, dan sejenisnya. Kata-kata itu merupakan pengantar kalimat. Jika bagian kalimat itu kemudian diikuti nomina pelaku orang pertama sering menimbulkan ketaksaan antara ungkapan pengantar kalimat dengan predikat kalimat.
Kesalahan struktur selanjutnya yaitu dikarenakan penghubung terbagi yang kurang tepat. Dalam kalimat sering ditemukan kalimat yang menggunakan penghubung yang berupa pasangan atau dua penghubung. Dua penghubung yang dimaksud, misalnya:
Meskipun…, tetapi
Walaupun…, namun
Biarpun…, akan tapi… (Sugono, 2002)
Adapula kesalahan struktur karena ketiadaan induk kalimat. Kalimat yang efektif (baik dan benar) strukturnya harus tepat. Ketepatan struktur berhubungan dengan ketepatan letak unsur-unsur kalimat yang berupa S, P, O (Pel), K dan kelengkapannya. Dalam pemakaian bahasa sering ditemui kalimat yang panjang, tetapi unsur-unsur tidak lengkap. Hal seperti ini terjadi apabila anak kalimat dan induk kalimat sama-sama didahului oleh kata penghubung atau kongjungsi.
Lain lagi dalam buku karya Nanik Setyawati, M. Hum, Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik. Dalam bab V pembahasannya yaitu mengenai kesalahan berbahasa pada tataran sintaksis. Kesalahan dalam tataran sintaksis antara lain berupa: kesalahan dalam bidang frasa dan kesalahan dalam bidang kalimat. Kesalahan berbahasa dalam bidang frasa sering terjadi dalam kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis. Kesalahan berbahasa dalam bidang frasa dapat disebabkan oleh berbagai hal, di antaranya: (a) adanya pengaruh bahasa daerah, (b) penggunaan preposisi yang tidak tepat, (c) kesalahan susunan kata, (d) penggunaan unsur yang berlebihan atau mubazir, (e) penggunaan bentuk superlatif yang berlebihan, (f) penjamakan yang ganda, dan (g) penggunaan bentuk resiprokal yang tidak tepat.
Sedangkan kesalahan yang terjadi dalam bidang kalimat dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti (a) kalimat tidak bersubjek, (b) kalimat tidak berpredikat, (c) kalimat tidak bersubjek dan tidak berpredikat/ kalimat bunting, (d) penggandaan subjek, (e) antara predikat dan objek yang tersisipi, (f) kalimat yang tidak logis, (g) kalimat yang ambiguitas, (h) penghilangan konjungsi, (i) penggunaan konjungsi yang berlebihan, (j) urutan yang tidak pararel, (k) penggunaan istilah asing, dan (l) penggunaan kata Tanya yang tidak perlu.
Dan yang terakhir, dalam buku Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa karya Henry Guntur Tarigan. Pada bukunya, pembahasan dalam bab V yaitu mengenai pengertian dan ragam kesalahan berbahasa, taksonomi kategori linguistik, taksonomi siasat permukaan, taksonomi komparatif, taksonomi efek komunikatif, analisis kesalahan berbahasa, koreksi kesalahan berbahasa dan sebuah model analisis kesalahan berbahasa Indonesia secara berurutan.
Kesalahan adalah bagian konversasi atau komposisi yang menyimpang dari beberapa norma baku (atau norma yang terpilih) dari performansi bahasa orang dewasa.  Kesalahan berbahasa memang beraneka ragam jenisnya dan dapat dikelompok-kelompokkan dengan berbagai cara sesuai dengan cara kita memandangnya. Beberapa di antaranya yaitu dikarenakan kesalahan performansi dan kesalahan kompetensi. Adapula kesalahan kategori berbahasa seperti Interference-like Goofs, LI Developmental Goofs, Ambigous Goofs, dan Unique Goofs.
Selajutnya terdapat beberapa taksonomi kesalahan berbahasa yang telah didasarkan pada butir linguistik yang dipengaruhi oleh kesalahan. Taksonomi-taksonomi kategori linguistic tersebut mengkalsifikasikan kesalahan-kesalahan berbahasa berdasarkan komponen lingustik atau unsur linguistik tertentu yang dipengaruhi oleh kesalahan, ataupun berdasarkan kedua-duanya. Sealin itu ada taksonomi siasat permukaan yang menyoroti bagaimana cara-caranya struktur-sturktur permukaan berubah. Juga taksonomi komparatif yang didasarkan pada perbandingan-perbandingan antara struktur kesalahan-kesalahan B2 dan tipe-tipe konstruksi tertentu lainnya.
Kalau taksonomi siasat permukaan dan taksonomi komparatif memusatkan perhatian pada aspek-aspek kesalahan itu sendiri, maka taksonomi efek komunikatif memandang serta menghadapi kesalahan-kesalahan dari perspektif efeknya terhadap penyimak atau pembaca.  Pusat perhatian tertuju pada pembedaan antara kesalahan-kesalahan yang seolah-olah menyebabkan salah-komunikasi.
Selanjutnya kesalahan berbahasa adalah suatu proses yang prosedurnya harus dituruti selaku pedoman kerja. Berikut ini merupakan tahap-tahapnya secara ringkas.
1.      Memilih korpus bahasa
2.      Mengenali kesalahan dalam korpus
3.      Mengklasifikasikan kesalahan
4.      Menjelaskan kesalahan
5.      Mengevaluasi kesalahan



BAB VI
Pada bab vi buku Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik, karya Nanik Setyawati, M. Hum membahas mengenai kesalahan berbahasa pada tataran semantik. Kesalahan berbahasa dalam tataran semantik ini penekanannya pada penyimpangan makna, baik yang berkaian dengan fonologi, morfologi, maupun sintaksis. Jadi, jika ada sebuah bunyi, bentuk kata, ataupun kalimat yang maknanya menyimpang dari makna yang seharusnya maka tergolong ke dalam kesalahan berbahasa ini.
Banyak penyimpangan terjadi dalam penggunaan bahasa sehari-hari yang berkaitan degan makna yang tidak tepat. Makna yang tidak tepat tersebut berupa:
a)      Kesalahan penggunaan kata-kata yang mirip
Kata-kata yang bermiripan tersebut dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok, yakni (i) pasangan yang seasal, (ii) pasangan yang bersaing, dan (iii) pasangan yang terancukan.
b)      Kesalahan pilihan kata atau diksi
Penggunaan kata-kata yang saling menggantikan yang dipaksakan akan menimbulkan perubahan makna kalimat bahkan merusak struktur kalimat, jika tidak disesuaikan dengan makna atau maksud kalimat yang sebenarnya. Pilihan kata yang tidak tepat sering penggunaannya divariasikan secara bebas, sehingga menimbulkan kesalahan.
Sedangkan bab vi dalam buku Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa karya Markahmah dkk, membahas tentang kesantuanan sosiolinguistik dalam teks keagamaan. Dalam kaitan dengan komunikasi, beberapa akhlak Islam ini dapat disejajarkan dengan norma tutur, khususnya norma tutur, khususnya norma interaksi yang dikemukakan oleh Hymes (1975) yang juga dikutip oleh Suwito (1992). Norma tutur adalah aturan-aturan bertutur yang mempengaruhi alternative-alternatif pemilihan bentuk tutur. Dengan demikian, norma tutur bertalian dengan santun bertutur, dan santun itu harus tampak dalam pemilihan bentuk tutur yang diungkapkan oleh penuturnya (Suwito, 1992: 141).
Berdasarkan analisis yang dilakukan peneliti, dalam teks keagamaan, khususnya terjemahan Quran yang mengandung etika berbahasa terdapat bermacam-macam kesantunan sosiolinguistik. Kesantunan yang dimaksud adalah merendahkan diri sendiri, menanyakan secara lebih rinci pertanyaan yang sebenernya tidak perlu ditanyakan sebagai bentuk penolakan terhadap perintah, menggunakan sindiran meminang secara halus, mengucapkan salam dan menjawab salam, eufimisme, meungucapkan ‘hiththah’ sambil mengucapkan kata-kata yang baik. Selain itu, kesantunan berbahasa juga ditempuh dengan cara: berbicara dengan sabar dan berbicara dengan suara lunak. Kesantunan lainnya adalah mengucapkan kaliamt doa, menyelamatkan muka mitra bicara, memberi keputusan dengan adil, mematuhi perintah dan panggilan.
Dalam bab vi buku Analisis Kesalahan karya Mansoer Pateda membahas mengenai kesalahan pada saat membaca dan menulis. Membaca merupakan pengenalan dan persepsi struktur bahasa sebagai keseluruhan untuk memadukan makna tersurat dan yang tersirat dengan mengkomunikasikan struktur-sruktur bahasa itu.  wahidji dkk (1985: 44-45) melaporkan bahwa kesalahan membaca murid kelas VI SD di daerah Gorontalo, Sulawesi Utara adalah:
a.       Lafal yang sangat dipengaruhi oleh lafal dalam bahasa ibu. Misalnya /e/ yang dilfalkan /o/, /f,v/ dilafalkan /p/, /z/ dilafalkan /j/ atau /s/.
b.      Salah membaca kelompok kata, misalnya : “untuk menambah penghasilan ibu Budi berjualan bumbu dapur”, dibaca, untuk /menambah/ penghasilan ibu/ Budi berjualan/ bumbu dapur.
c.       Penggunaan unsur suprasegmental yang tidak tepat, terutama yang berhubungan dengan jeda luar
d.      Pungtuasi belum dikuasai
Apa yang dipaparkan di atas berhubungan dengan kesalahan membaca nyaring. Kita menyuruh seseorang membaca lalu kita simak. Kita mendengar bunyi-bunyi, dan kita dapat menentukan kesalahannya. Tetapi tidak selamanya kita menyuruh orang membaca. Ada orang membaca tetapi tidak mengeluarkan bunyi. Membaca jenis ini disebut membaca diam atau membaca di dalam hati.
Kesalahan utama jenis membaca diam, ialah kesalahan menangkap pikiran penulis. Apa yang dipaparkan oleh penulis tidak dipahami. Hal ini berhubungan dengan penguasaan kosa kata dan maknanya, menghubung-hubungkan kata dengan maknanya, kalimat dengan kalimat, paragraf dengan paragraf, bahkan wacana sebagai keseluruhan. Kesalahan penafsiran seperti ini telah ditunjukkan oleh Williams (1978: 90) yang menyebutkan 4 sebab salah tafsir, yakni:
1.      Tidak mampu menangkap maksud penulis
2.      Sikap kritis terhadap apa yang dibaca, kurang
3.      Menghubung-hubungkan tafsiran yang tidak tepat
4.      Tidak ada predisposisi kritis antara pembaca dan evaluasi metode penulis.



BAB VII
 Bab vii dalam Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa karya Markhamah, dkk membahas mengenai kesantunan linguistik dalam terjemahan Al qur’an.  Kesantunan linguistik yang terdapat pada teks terjemahan Al qur’an berupa: konstruksi deklaratif, konstruksi imperatif dan konstruksi interogatif, kontruksi pengandaian dan konstruksi langsung. Terdapat tiga konstruksi dominan dalam teks terjemahan Al quran, yaitu konstruksi deklaratif, imperatif dan interogatif.
Dengan memperhatikan banyaknya perintah dan larangan ini dapat dipahami karena Quran adalah petunjuk dari Allah swt. kepada manusia. Secara kultural pemberi perintah diinterpretasikan sebagai pihak yang mempertahankan status dan dianggap memiliki status tinggi, dan pihak yang diperintah adalah orang/ pihak yang memiliki status rendah. Kesantunan linguistic dalam teks terjemahan Quran lebih banyak berupa perintah dan larangan karena ketidaksederajatan antara penutur dan pertutur atau pendengar.
Sebagian besar kesantunan linguistik diungkapkan dalam konstruksi imperatif, yang kemudian disusul dengan konstruksi deklaratif, interogatif, dan pengandaian. Hal ini menyiratkan adanya tingkatan kesantunan dari rendah ke tinggi. Kesantunan linguistik dalam konstruksi imperatif ditandai dengan  penonjolan pelaku, bermakna antonim, bermakna peringatan, dan penonjolan penderita.
Sedangkan bab vii pada buku Analisis Kesalahan karya Mansoer Pateda, pembahasan di fokuskan pada penerapan analisis kesalahan yang diuraikan (i) teknik analisis, (ii) implikasi pedagogis analisis kesalahan, (iii) dukungan terhadap analisis kesalahan, (iv) prosedur analisis kesalahan, (v) format analisis kesalahan, (vii) kesulitan menerapkan analisis kesalahan, dan (vii analisis.
Norrish (1983: 80-81) mengemukakan dua mekanisme menganalisis kesalahan. Mekanisme yang diusulkan yakni membuat kategori kesalahan dan mengelompokkan jenis kesalahan itu berdasarkan daerahnya. Secara teknis mekanisme ini dilaksanakan dengan cara (i) melaksanakan kategori seleksi awal, (ii) menentukan kategori kesalahan, dan (iii) mencek cepat.
Tiga cara memperbaiki kesalahan si terdidik adalah:
1.      Mengoreksi kesalahan di kelas
2.      Menjelaskan bentuk gramatikal yang benar
3.      Memolakan bahan yang dikaitkan
Corder (Allen dan Corder, Ed. 1974 : 126) mengemukakan tiga tahap menganalisis kesalahan, yakni (i) pengenalan, (ii) pemerian deskripsi’, dan penjelasan. Ketiga langkah ini berhubungan satu sama lain. tujuan analisis kesalahan adalah membantu si terdidik mengetahui kesalahannya dan sekaligus membantunya memahami bahasa yang sedang dipelajari.
Banyak kesulitan yang akan dialami, apabila kita akan menganalisis kesalahan. Kesulitan itu terutama berpangkal dari penganalisis, yakni kemampuan menentukan bentuk yang benar dan yang salah. Penganalisis kadang-kadang ragu-ragu menentukan kaidah yang benar. Keragu-raguan muncul karena terdapat perbedaan pendapat antara para ahli mengenai persoalan yang sama.
Kesulitan berikut yang akan dialami, yakni kesulitan menentukan daerah, sifat, sumber dan jenis kesalahan. Kesulitan lain yang perlu mendapat perhatian, yakni kecepatan berbicara atau membaca dan ketidakjelasan tulisan. Yang dimaksud dengan ketidakjelasan tulisan di sini, ialah tulisan yang sulit dibaca, kotor atau sulit membedakan huruf yang digunakan. Orang yang berbicara cepat atau membaca cepat, sulit dianalisis karena ketika kita masih sulit mengklasifikasi kesalahan, pembaca atau pembicara telah melanjutkan bahan yang dibaca atau yang dibicarakan.
Pada buku selanjutnya yaitu Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik karya Nanik Setyawati, M. Hum, bab vii membahas kesalahan berbahasa pada tataran wacana. Wacana merupakan sauna linguistic tertinggi. Wacana dapat direaliasikan dalam bentuk karangan utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dan sebagainya), paragraf, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 1993: 231). Sebagai satuan gramatikal teringgi atau terbesar berarti wacana itu dibentuk dari kalimat atau kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan lainnya.
Persyaratan gramatikal dalam wacana dapat dipenuhi jika dalam wacana itu sudah terbina kekohesian, yaitu adanya keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana tersebut adanya hubungan bentuk. Alat-alat wacana yang dapat membuat kekohesian sebuah wacana antara lain: (a) pengacauan atau referensi, (b) penyulihan atau subtitusi, (c) pelepasan atau ellipsis, dan (d) perangkaian atau konjungsi (Sumarlam, 2009: 23).
Jika wacana itu kohesif akan terciptalah kekoherensian, yaitu isi wacana yang apik dan benar atau adanya hubungan makna atau hubungan semantis. Adapun kesalahan-kesalahan dalam kohesi yaitu (i) kesalahan penggunaan pengacuan (ii) kesalahan penggunaan penyulihan (iii) kekurangefektifan wacana karena tidak ada pelepasan (iv) kesalahan penggunaan konjungsi sedangkan kesalahan pada koherensi adalah wacana yang tidak koherens.

BAB VIII
Bab terakhir yaitu bab viii hanya dibahas dalam buku Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik. Dalam bab ini pembahasan fokus pada kesalahan berbahasa dalam penerapan kaidah ejan bahasa Indonesia yang disempurnakan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996: 250) ejaan didefenisikan sebagai kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Jelaslah bawa ejaan tidak hanya berkaitan dengan cara mengeja suatu kata, tetapi yang lebih utama berkaitan dengan cara mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar, misalnya kata, kelompok kata, atau kalimat. Kecuai itu, ejaan berkaitan pula dengan penggunaan tanda baca pada satuan-satuan huruf tersebut.
Berikut ini berturut-turut akan penulis kemukakan kesalahan dalam penerapan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), diantaranya meliputi: (a) kesalahan penulisan huruf besar atau huruf capital, (b) kesalahan penulisan huruf miring, (c) kesalahan penulisan kata, (d) kesalahan memenggal kata, (e) kesalahan penulisan lambang bilang, (f) kesalahan penulisan unsur serapan, dan (g) kesalahan penulisan tanda baca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar