Rabu, 21 Oktober 2015

Perbandingan 4 Buku Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia

Nama : Fernanda Yusi Listeani
NIM : 2222121726
Kelas : VII D



BAB I
Kesalahan Berbahasa

Ketika seseorang berkomunikasi perlu memperhatikan beberapa tata cara dalam berkomunikasi seperti yang dituturkan oleh Markhamah,dkk (2009:3) bahwa  ada dua sisi yang perlu mendapatkan perhatian ketika seseorang berkomunikasi. Pertama, bahasanya sendiri dan sikap atau prilaku ketika berkomunikasi. Terkait dengan bahasanya terdapat kaidah kebahasaan yang perlu ditaati, termasuk kedalam kaidah kebahasaan seperti fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik yang dipilihnya sebagai alat komunikasi. Selain itu, seseorang berkomunikasi perlu memperhatikan etika berbahasa. Hal-hal yang berkaitan dengan etika berbahasa diantaranya kaidah-kaidah dan norma sosial yang berlaku pada masyarakat tempat seseorang berkomunikasi dengan orang lain, sistem kekerabatan yang berlaku pada masyarakat, norma agama yang dianut oleh masyarakat yang bersangkutan, dan sistem kultural lainya yang berpengaruh dalam pemakaian bahasa seseorang dalam suatu masyarakat.
Lebih dari setengah penduduk dunia merupakan dwibahasawan, sebagian besar manusia di bumi ini menggunakan dua bahasa sebagai alat komunikasi. Bangsa Indonesia menggunakan bahasa Indonesia ketika mereka berkomunikasi antar suku. Orang bisa menggunakan dua bahasa atau lebih secara bergantian untuk tujuan yang berbeda pada hakikatnya merupakan agen kontak dua bahasa.
Menurut Setyawati (2010:1) bahasa Indonesia memiliki dua kedudukan, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara. Bahasa Indonesia digunakan sebagai alat komunikasi dipakai dalam berbagai keperluan tidak seragam, atau berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi. Ragam bahasa atau variasi pemakaian bahasa dapat diamati berdasarkan sarananya, suasananya, norma pemakaiannya, tempat atau daerahnya, bidang penggunaannya dan lain-lain.
Dilihat dari sarana pemakaiannya, ragam bahasa dibedakan menjadi dua yaitu ragam bahasa lisan dan tulis. Jika ragam bahasa lisan, informasi yang disampaikan dengan intonasi, gerak anggota tubuh, dan situasi. Sedangkan ragam bahasa tulisan, informasi yang disampaikan secara tertulis, jadi unsur bahasa yang digunakan harus lengkap. Bila unsur-unsur yang digunakan tidak lengkap maka informasi yang disampaikan tidak dapat dipahami secara tepat. Dilihat dari suasananya, ragam bahasa dibedakan menjadi dua yaitu ragam resmi dan ragam tidak resmi. Ditinjau berdasarkan norma pemakaiannya dapat dibedakan atas ragam baku dan ragam tidak baku. Ragam baku merupakan ragam bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah yang berlaku, sedangkan ragam tidak baku merupakan ragam bahasa yang pemakaiannya menyimpang dari kaidah yang berlaku. Jika dilihat berdasarkan tempat atau daerahnya, bahasa Indonesia terdiri dari berbagai dialek. Ragam bahasa dapat pula dibedakan berdasarkan bidang penggunaannya. Berdasarkan bidang penggunaannya, ragam bahsa dapat dibedakan atas ragam bahasa ilmu, sastra, hukum, jurnalistik, dan sebagainya.
Menurut Setyawati (2010:5) bahasa Indonesia sebagai ragam ilmu dibagi menjadi dua yaitu: a) Ragam bahasa Ilmu bukan dialek. Setiap dialek mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membedakan dialek yang satu dengan dialek yang lain, sehingga suatu dialek sedapat mungkin menghindarkan diri dari penggunaan kata-kata dan struktur dialek.b) ragam bahasa ilmu merupakan ragam resmi. Ragam bahasa resmi yang digunakan dalam ragam bahasa ilmu pada umumnya patuh mengikuti kaidah bahasa Indonesia. Namun, pembakuan bahasa Indonesia tidak dapat diubah setiap saat.
Adapun, proses kesalahan bahasa bermula dari pengajaran bahasa kemudian pemerolehan bahasa, kemudian kewibahasaan, interferensi dan terjadi kesalahan berbahasa (Tarigan dan Tarigan,1995:8).
Skema yang dijelaskan oleh Tarigan, kesalahan berbahasa bermula dari pengajaran bahasa, kemudian pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa didapatkan melalui jalur pendidikan atau pengajaran informal (didapatkan di lingkungan sekitar) dan melalui jalur pendidikan (didapatkan melalui proses belajar) dan bisa saja penutur memperoleh bahasa dari kedua jalur tersebut. Setelah terjadi pemerolehan bahasa terjadi kedwibahasaan, Kedwibahasaan merupakan kemampuan seseorang menghasilkan ujaran yang bermakna di dalam bahasa kedua.
Pengajaran dwibahasawan dibagi menjadi dua jenis, yaitu dwibahasawan terpadu merupakan seseorang dapat memadukan kedua sistem bahasa yang dikuasainya. Pengajaran bahasa ini tidak menggunakan metode langsung tetapi sering menterjemahkan kembali B2 ke dalam B1. Dan dwibahasawan koordinatif adalah seseorang yang tidak dapat memadukan kedua sistem yang dikuasainya. Kedua bahasanya dapat dikuasai namun penerjemah berkualitas kurang mahir. Pelbagai faktor yang menyebabkan berkembangnya pendidikan kedwibahasaan, seperti faktor idiologi, faktor politik, faktor budaya, faktor demografis, faktor agama, faktor ekonomi, faktor sejarah dan faktor militer/ pertahanan.
Setelah terjadi kedwibahasawan menimbulkan saling pengaruh antara B1 dan B2. Pengaruh tersebut akan semakin intensif apabila jumlah kedwibahasawan yang menggunakan kedua bahasa tersebut semakin besar. Biasanya B1 dan B2 saling mempengaruhi. Pada setiap unsur bahasa seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis. Bahasa yang paling dikuasai oleh seorang dwibahasawan berpengaruh besar terhadap pemerolehan bahasa selanjutnya. Penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut transfer. Bila sistem bahasa yang digunakan itu sama maka transfer tersebut disebut transfer positif. Sedangkan bila sistem bahasa yang digunakan berlainan maka di sebut transfer negatif. Transfer negatif menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran B2 dan sekaligus merupakan salah satu sumber kesalahan berbahasa. Transfer negatif ini biasa dikenal dengan interferensi. Interferensi dapat diartikan sebagai penggunaan sistem B1 dalam menggunakan B2.
Sedangkan menurut Pateda (1989:13) analisis kesalahan berbahasa dapat dipelajari menurut teori dan aliran yang mendasarinya. Kesalahan yang dibuat oleh peserta didik ketika menggunakan atau memperlajari bahasa bukan bahasa ibunya. Di Indonesia pada umumnya merupakan kedwibahasawan sehingga bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua bagi mereka. persoalan kebahasaan yang dihadapi dalam pengajaran bahasa Indonesia merupakan pengaruh bahasa daerah (bahasa ibu) ke dalam bahasa Indonesia (B2). Pengaruh tersebut berhubungan dengan fonologi, morfologi, dan sintaksis. Dalam kasus ini pendekatan konstratif akan membantu guru.
Analisis kontrastif merupakan pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara bahasa ibu dengan bahasa kedua atau bahasa yang sedang dipelajari sehingga guru dapat meramalkan kesalahan peserta didik dan peserta didik dapat menguasai bahasa yang bukan bahasa ibunya yang sedang dipelajari.
Dengan membandingkan budaya peserta didik dengan budaya asing, akan diperoleh gambaran yang sering menyebabkan kesalahan antara kedua budaya tersebut. Analisis kontrastif terbatas pada perbandingan dua bahasa yakni bahasa ibu dan bahasa yang sedang dipelajari. Hasil analisis perbandingan, terutama perbandingan unsur kebahasaan yang berbeda akan menolong guru menganalisis kesalahan peserta didik. Menurut Whitman (Pateda,1989:21) mengemukakan empat prosedur untuk menerapkan analisis kontrastif, yang terdiri atas: Deskripsi, seleksi, mengkonstraskan unsur-unsur itu, dan menentukan kesalahan yang dibuat peserta didik terhadap bahasa yang sedang dipelajari. Hipotesis penganut pendekatan analisis kontrastif dibagi menjadi dua yaitu; hipotesis analisis kontrastif aliran keras. Penganut aliran ini berpendapat bahwa kesulitan terbesar akan timbul apabila terdapat perbedaan besar antara bahasa ibu dengan bahasa yang sedang dipelajari.  Sedangkan hipotesis analisis kontrastif aliran lunak. Penganut aliran ini berpendapat bahwa bahasa ibu tidak terlalu menghambat proses belajar bahasa yang sedang dipelajari oleh peserta didik. Analisis kesalahan bertujuan untuk menemukan kesalahan, mengklasifikasi dan terutama untuk melakukan tindakan perbaikan. Dengan analisis kesalahan guru dapat merencanakan pengajaran remedial dan dengan demikian dapat pula menentukan bahan yang akan diujikannya. 

Daftar Pustaka :
Markhamah,dkk. 2009. Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa. Surakarta : Muhammadiyah University Press.
Pateda, Mansoer.1989. Analisis Kesalahan. Flores : Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Teori Dan Praktik. Surakarta : Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur.,dan Djago Tarigan. 1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Angkasa.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar