Rabu, 21 Oktober 2015

Perbandingan 4 Buku Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia

Nama : Fernanda Yusi Listeani
NIM : 2222121726
Kelas : VII D



BAB II

Dalam berkomunikasi secara lisan seseorang harus memperhatikan kalimat yang diucapkan. Penutur harus memperhatikan kalimat yang diucapkan dipahami oleh orang lain atau menimbulkan pelbagai tafsir. Penutur juga harus memperhatikan struktur kalimat yang digunakan merupakan kalimat efektif, baik digunakan secara lisan maupun tulisan. Adapun ciri kalimat gramatikal mempunyai pelbagai tataran sintaksis seperti morfologi dan sintaksis. Ciri gramatikal merupakan ciri yang harus dipenuhi oleh pemakaian bahasa dalam keterkaitan ketertatabahasaan. Sedangkan ciri diktis adalah ciri kalimat yang berkaitan dengan pemilihan kata. Kata yang dirangkai menjadi satu kalimat merupakan kata-kata yang tepat bentuknya, seksama dan lazim.
Terkadang pemilihan kata bisa menimbulkan nilai rasa kepada mitra tutur. Kata berasa ini sering digunakan orang sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulisan. Nilai rasa merupakan kandungan makna yang terdapat pada suatu kata yang secara sosial berhubungan dengan moral atau etika; kata yang berhubungan dengan halus atau kasar (Markhamah,dkk,2009:18). Pada pengajaran tingkat usia dini dan sekolah dasar dibutuhkan kata-kata yang konkret atau sesuai dengan kenyataannya yang bisa dilihat oleh panca indra. Kata konkret merupakan kata yang merujuk kepada objek yang dapat diindra, seperti diraba, dibau, dilihat, dirasakan atau didengar. Kata konkret sering dipakai untuk menulis tulisan-tulisan yang bersifat praktis dan deskriptif. Salah satu bentuk pengorganisasian pada bahasa adalah adanya sekelompok kata-kata atau istilah yang mencakupi kata lain. Kata yang mampu mencakupi kata-kata lain disebut superordinat, sedangkan kata-kata yang tercakup lebih luas lagi disebut hiponim.
Pada dasarnya kalimat efektif merupakan kalimat yang memenuhi penalaran. Artinya kalimatsecara nalar dapat diterima oleh akal sehat. Kalimat ini dapat dipahami dengan mudah, cepat, tepat dan tidak menimbulkan salah pengertian. Adapun beberapa komponen agar tercapainya kalimat logis yaitu kelogisan hubungan makna antara subjek dengan predikat, kelogisan hubungan makna antara subjek dengan predikat dan pelaku, kelogisan antara predikat dengan pelengkap atau objek. (Markhamah,dkk,2009:31).
Adapun kesalahan berbahasa merupakan penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tertulis yang menyimpang dari faktor-faktor penentu komunikasi atau menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia (Setyawati,2010:14). Adapun kemungkinan penyebab kesalahan berbahasa terdiri atas:
1.      Terpengaruh bahasa yang lebih dahulu dikuasainya. Kesalahan berbahasa disebabkan oleh interferensi bahasa ibu atau bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2) yang sedang dipelajari. Sumber kesalahan terletak pada sistem linguistik B1 dengan sistem linguistik B2.
2.      Kekurang pahaman pemakaian bahasa terhadap bahasa yang dipakainya. Kesalahan yang merefeksikan ciri-ciri umum kaidah bahasa yang dipelajari. Kesalahan ini disebabkan oleh : a) penyamarataan berlebihan; b) ketidaktahuan pembatasan kaidah; c) penerapan kaidah yang tidak sempurna; dan d) salah menghipotesiskan konsep.
3.      Pengajaran bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna. Cara pengajaran menyangkut maslah pemilihan teknik penyajian, langkah-langkah dan urutan penyajian, intensitas dan kesinambungan pengajaran, dan alat-alat bantu dalam pengajaran.
Langkah kerja analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa, yang meliputi kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan,mengidentifikasi kesalahan yang terdapat pada sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasi kesalahan itu, dan mengevaluasi taraf keseriusan keslahan itu.
Analisis kesalahan berguna sebagai alat tingkat variasi progam pengajaran target dilaksanakan. Tindakan pada pemula dapat membuka pikiran guru, perencanaan khusu bahasa, penulis buku pelajaran, atau pemerhati bahasa untuk membatasi keruwetan bidang bahasa yang dihadapkan pada siswa. Analisis kesalahan terhadap belajar  bahasa mempunyai dampak positif. Bahasa sebagai perangkat kebiasaan dimiliki setiap orang sebagai media komunikasi. Ada kecendrungan setiap pemakai bahasa lebih sering mengikuti jalan pikiran tanpa mempertimbangkan kaidah-kaidah yang ada dalam tata bahasa. Sebaiknya, pemakaian bahasa selalu mempertimbangkan kaidah-kaidah tata bahasa berupayah menghasilkan konsep sesuai dengan struktur bahasa.
Terkadang kita tidak menyadari telah terjadi kesalahan ketika sedang berbicara atau sedang menuliskan sesuatu. Kesalahan merupakan penyimpangan yang bersifat sistematis yang dilakukan seseorang ketika menggunakan bahasa (Pateda,1989:38). Kesalahan berbahasa memiliki pelbagai jenis, namun tidak semuanya dapat dikategorikan sebagai kesalahan yang berhubungan dengan kompetensi. Adapun pelbagai kesalahan diantaranya terdiri atas: 1) Kesalahan acuan (referential errors) kesalahan ini sering dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Kesalahan acuan berkaitan dengan realisasi benda, proses, atau peristiwa yang tidak sesuai dengan acuan yang dikehendaki pembicara atau penulis. Untuk menghindari kesalahan acuan sebaiknya pesan disampaikan secara jelas dan tidak menimbulkan pelbagai tafsir. 2) Kesalahan register (register errors) keslahan ini berhubungan dengan variasi bahasa yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang. 3) Kesalahan sosial (social errors) kesalahan memilih kata yang berkaitan dengan status sosial orang yang diajak bicara akan menimbulkan kesalahan. 4) Kesalahan tekstual (textual errors) muncul sebagai akibat kesalahan menafsirkan pesan yang tersirat dalam kalimat atau wacana. Namun, tidak ada penanda untuk menunjukan makna yang tersirat pada kalimat. Jadi, dalam kehidupan sehari-hari kesalahan tekstual selalu muncul. 5) Kesalahan penerimaan (receptive errors) kesalahan ini biasanya berhubungan dengan keterampilan menyimak dan membaca. Adapun sebab kesalahan penerimaan diantaranya pendengar kurang memperhatikan pesan yang disampaikan oleh pembicara, alat dengar pendengar, suasana hati pendengar, lingkungan pendengar, ujaran yang disampaikan tidak jelas, dll. 6) Kesalahan pengungkapan (expressive errors) kesalahan ini berkaitan dengan pembicara. Pembicara atau penulis salah menggungkapan atau menyampaikan yang dipikirannya, yang dirasakan/yang diinginkan. 7) Kesalahan perseorangan (errors of induvidual) kesalahan yang dibuat oleh seseorang di antara kawan-kawannya sekelas. 8) Kesalahan kelompok (errors of group) hanya bisa dilihat ketika suatu kelompok itu homogeny, misalnya menggunakan bahasa ibu yang sama dan semuanya mempunyai latar belakang yang sama baik intelektual maupun sosialnya. 9) Kesalahan menanalogi (errors of overgeneralization/analogical errors) kesalahan pada mitra tutur yang menguasai suatu bentuk bahasa yang dipelajari lalu menerapkannya pada konteks, padalah bentuk itu tidak dapat diterapkan. 10) Kesalahan transfer (transfer errors) terjadi apabila kebiasan-kebiasaan pada bahasa pertama diterapkan pada bahasa yang dipelajari. 11) Kesalahan local (local errors) kesalahan yang tidak menghambat komunikasi yang pesannya diungkapkan dalam sebuah kalimat. 12) Kesalahan global (global erros) kesalahan karena efek makna seluruh kalimat. Kalimat yang digunakan menimbulkan pelbagai tafsiran.
Digunakan analisis kontrastif berguna membantu para guru bahasa untuk mengaplikasikannya di dalam kelas. Mereka dapat membandingkannya dengan teori yang lainnya dan kemudian dapat mengembangkan, memodifikasi serta dapat menciptakan cara-cara mengajarkan bahasa berdasarkan contoh-contoh yang ada. Pemahaman terhadap Anakon kontrastif dapat mendalam apabila diadakan pengkajian secara menyeluruh terhadap berbagai segi Anakon. Menurut Tarigan, Djago (1988:21) adapun butir-butir yang diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang mendalam terdiri atas: Batas/pengertian Anakon; Hipotesis Anakon; Tuntutan pedagogis Anakon; Aspek linguistik dan psikologi Anakon; Metodologi Anakon; Cakupan telaah Anakon; Kritik terhadap Anakon; Implikasi pedagogis Anakon di dalam kelas; Anakon sebagai sarana pemrediksi kesalahan berbahasa.
Menurut Tarigan, Djago (1988:23) Analisis kontrastif adalah aktivitas atau kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan stuktur B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan di antara kedua bahasa. Perbedaan–perbedaan antara kedua bahasa yang diperoleh dan dihasilkan melalui analisis kontrastif dapat digunakan sebagai landasan dalam meramalkan dan memprediksi kesulitan-kesulitan berlajar berbahasa yang akan dihadapi para siswa di sekolah.
Dua versi hipotesis analisis Anakon yang disebutkan oleh Tarigan (1988:23) yaitu; versi pertama dikenal dengan dengan istilah “strong form” dan “weak form”. Hipotesis berbentuk kuat (strong form hypothesis) menyatakan bahwa “semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara B1 dan B2 yang dipelajari oleh para siswa”. Hipotesis bentuk lemah (Weak form hypothesis ) menyatakan bahwa Akon hanyalah bersifat diagnostik belaka. Karena itu Akon dan Analisi kesalahan (Anakes) harus saling melengkapi. Sedangkan Hipotesis berbentuk kuat didasarkan pada asumsi-asumsi seperti: a) penyebab utama atau penyebab tunggalkesulitan belajar dan kesalahan dalam pembelajaran bahasa asing adalah interferensi bahasa ibu; b) kesulitan belajar sebgaian atau seluruhnya disebabkan oleh perbedaan B1 dan B2; c) semakin besar perbedaan antara B1 dan B2 semakin akut atau gawat kesulitan belajar; d) hasil perbandingan antara B1 dan B2 diperlukan untuk meramalkan kesulitan dan kesalahan yang akan terjadi dalam belajar bahasa asing; e) bahan pengajaran dapat ditentukan secara tepat dengan membandingkan kedua bahasa itu, kemudian dikurangi dengan bagian yang sama, sehingga apa yang harus dipelajari oleh siswa adalah sejumlah perbedaan yang disusun berdasarkan analisis kontrastif.

Daftar Pustaka :
Markhamah,dkk. 2009. Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa. Surakarta : Muhammadiyah University Press.
Pateda, Mansoer.1989. Analisis Kesalahan. Flores : Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Teori Dan Praktik. Surakarta : Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur.,dan Djago Tarigan. 1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar