NIM : 2222121726
Kelas : VII D
BAB
II
Dalam berkomunikasi secara
lisan seseorang harus memperhatikan kalimat yang diucapkan. Penutur harus
memperhatikan kalimat yang diucapkan dipahami oleh orang lain atau menimbulkan
pelbagai tafsir. Penutur juga harus memperhatikan struktur kalimat yang
digunakan merupakan kalimat efektif, baik digunakan secara lisan maupun
tulisan. Adapun ciri kalimat gramatikal mempunyai pelbagai tataran sintaksis
seperti morfologi dan sintaksis. Ciri gramatikal merupakan ciri yang harus
dipenuhi oleh pemakaian bahasa dalam keterkaitan ketertatabahasaan. Sedangkan
ciri diktis adalah ciri kalimat yang berkaitan dengan pemilihan kata. Kata yang
dirangkai menjadi satu kalimat merupakan kata-kata yang tepat bentuknya,
seksama dan lazim.
Terkadang pemilihan
kata bisa menimbulkan nilai rasa kepada mitra tutur. Kata berasa ini sering
digunakan orang sebagai alat komunikasi baik lisan maupun tulisan. Nilai rasa
merupakan kandungan makna yang terdapat pada suatu kata yang secara sosial
berhubungan dengan moral atau etika; kata yang berhubungan dengan halus atau
kasar (Markhamah,dkk,2009:18). Pada pengajaran tingkat usia dini dan sekolah
dasar dibutuhkan kata-kata yang konkret atau sesuai dengan kenyataannya yang
bisa dilihat oleh panca indra. Kata konkret merupakan kata yang merujuk kepada
objek yang dapat diindra, seperti diraba, dibau, dilihat, dirasakan atau
didengar. Kata konkret sering dipakai untuk menulis tulisan-tulisan yang
bersifat praktis dan deskriptif. Salah satu bentuk pengorganisasian pada bahasa
adalah adanya sekelompok kata-kata atau istilah yang mencakupi kata lain. Kata
yang mampu mencakupi kata-kata lain disebut superordinat, sedangkan kata-kata
yang tercakup lebih luas lagi disebut hiponim.
Pada dasarnya kalimat
efektif merupakan kalimat yang memenuhi penalaran. Artinya kalimatsecara nalar
dapat diterima oleh akal sehat. Kalimat ini dapat dipahami dengan mudah, cepat,
tepat dan tidak menimbulkan salah pengertian. Adapun beberapa komponen agar
tercapainya kalimat logis yaitu kelogisan hubungan makna antara subjek dengan
predikat, kelogisan hubungan makna antara subjek dengan predikat dan pelaku,
kelogisan antara predikat dengan pelengkap atau objek. (Markhamah,dkk,2009:31).
Adapun kesalahan
berbahasa merupakan penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tertulis yang
menyimpang dari faktor-faktor penentu komunikasi atau menyimpang dari kaidah
tata bahasa Indonesia (Setyawati,2010:14).
Adapun kemungkinan penyebab kesalahan berbahasa terdiri atas:
1. Terpengaruh
bahasa yang lebih dahulu dikuasainya. Kesalahan berbahasa disebabkan oleh
interferensi bahasa ibu atau bahasa pertama (B1) terhadap bahasa kedua (B2)
yang sedang dipelajari. Sumber kesalahan terletak pada sistem linguistik B1
dengan sistem linguistik B2.
2. Kekurang
pahaman pemakaian bahasa terhadap bahasa yang dipakainya. Kesalahan yang
merefeksikan ciri-ciri umum kaidah bahasa yang dipelajari. Kesalahan ini
disebabkan oleh : a) penyamarataan berlebihan; b) ketidaktahuan pembatasan
kaidah; c) penerapan kaidah yang tidak sempurna; dan d) salah menghipotesiskan
konsep.
3. Pengajaran
bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna. Cara pengajaran menyangkut
maslah pemilihan teknik penyajian, langkah-langkah dan urutan penyajian,
intensitas dan kesinambungan pengajaran, dan alat-alat bantu dalam pengajaran.
Langkah
kerja analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa
digunakan oleh peneliti atau guru bahasa, yang meliputi kegiatan mengumpulkan
sampel kesalahan,mengidentifikasi kesalahan yang terdapat pada sampel,
menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasi kesalahan itu, dan mengevaluasi
taraf keseriusan keslahan itu.
Analisis
kesalahan berguna sebagai alat tingkat variasi progam pengajaran target
dilaksanakan. Tindakan pada pemula dapat membuka pikiran guru, perencanaan
khusu bahasa, penulis buku pelajaran, atau pemerhati bahasa untuk membatasi
keruwetan bidang bahasa yang dihadapkan pada siswa. Analisis kesalahan terhadap
belajar bahasa mempunyai dampak positif.
Bahasa sebagai perangkat kebiasaan dimiliki setiap orang sebagai media
komunikasi. Ada kecendrungan setiap pemakai bahasa lebih sering mengikuti jalan
pikiran tanpa mempertimbangkan kaidah-kaidah yang ada dalam tata bahasa.
Sebaiknya, pemakaian bahasa selalu mempertimbangkan kaidah-kaidah tata bahasa
berupayah menghasilkan konsep sesuai dengan struktur bahasa.
Terkadang
kita tidak menyadari telah terjadi kesalahan ketika sedang berbicara atau
sedang menuliskan sesuatu. Kesalahan merupakan penyimpangan yang bersifat
sistematis yang dilakukan seseorang ketika menggunakan bahasa (Pateda,1989:38).
Kesalahan berbahasa memiliki pelbagai jenis, namun tidak semuanya dapat
dikategorikan sebagai kesalahan yang berhubungan dengan kompetensi. Adapun
pelbagai kesalahan diantaranya terdiri atas: 1) Kesalahan acuan (referential errors) kesalahan ini sering
dijumpai pada kehidupan sehari-hari. Kesalahan acuan berkaitan dengan realisasi
benda, proses, atau peristiwa yang tidak sesuai dengan acuan yang dikehendaki
pembicara atau penulis. Untuk menghindari kesalahan acuan sebaiknya pesan
disampaikan secara jelas dan tidak menimbulkan pelbagai tafsir. 2) Kesalahan
register (register errors) keslahan
ini berhubungan dengan variasi bahasa yang berkaitan dengan pekerjaan
seseorang. 3) Kesalahan sosial (social
errors) kesalahan memilih kata yang berkaitan dengan status sosial orang
yang diajak bicara akan menimbulkan kesalahan. 4) Kesalahan tekstual (textual errors) muncul sebagai akibat
kesalahan menafsirkan pesan yang tersirat dalam kalimat atau wacana. Namun,
tidak ada penanda untuk menunjukan makna yang tersirat pada kalimat. Jadi,
dalam kehidupan sehari-hari kesalahan tekstual selalu muncul. 5) Kesalahan
penerimaan (receptive errors)
kesalahan ini biasanya berhubungan dengan keterampilan menyimak dan membaca.
Adapun sebab kesalahan penerimaan diantaranya pendengar kurang memperhatikan
pesan yang disampaikan oleh pembicara, alat dengar pendengar, suasana hati
pendengar, lingkungan pendengar, ujaran yang disampaikan tidak jelas, dll. 6)
Kesalahan pengungkapan (expressive errors)
kesalahan ini berkaitan dengan pembicara. Pembicara atau penulis salah
menggungkapan atau menyampaikan yang dipikirannya, yang dirasakan/yang
diinginkan. 7) Kesalahan perseorangan (errors
of induvidual) kesalahan yang dibuat oleh seseorang di antara
kawan-kawannya sekelas. 8) Kesalahan kelompok (errors of group) hanya bisa dilihat ketika suatu kelompok itu
homogeny, misalnya menggunakan bahasa ibu yang sama dan semuanya mempunyai
latar belakang yang sama baik intelektual maupun sosialnya. 9) Kesalahan
menanalogi (errors of overgeneralization/analogical errors) kesalahan pada mitra
tutur yang menguasai suatu bentuk bahasa yang dipelajari lalu menerapkannya
pada konteks, padalah bentuk itu tidak dapat diterapkan. 10) Kesalahan transfer
(transfer errors) terjadi apabila
kebiasan-kebiasaan pada bahasa pertama diterapkan pada bahasa yang dipelajari.
11) Kesalahan local (local errors)
kesalahan yang tidak menghambat komunikasi yang pesannya diungkapkan dalam
sebuah kalimat. 12) Kesalahan global (global
erros) kesalahan karena efek makna seluruh kalimat. Kalimat yang digunakan
menimbulkan pelbagai tafsiran.
Digunakan
analisis kontrastif berguna membantu para guru bahasa untuk mengaplikasikannya
di dalam kelas. Mereka dapat membandingkannya dengan teori yang lainnya dan
kemudian dapat mengembangkan, memodifikasi serta dapat menciptakan cara-cara
mengajarkan bahasa berdasarkan contoh-contoh yang ada. Pemahaman terhadap
Anakon kontrastif dapat mendalam apabila diadakan pengkajian secara menyeluruh
terhadap berbagai segi Anakon. Menurut Tarigan, Djago (1988:21) adapun
butir-butir yang diharapkan dapat menghasilkan pemahaman yang mendalam terdiri
atas: Batas/pengertian Anakon; Hipotesis Anakon; Tuntutan pedagogis Anakon; Aspek
linguistik dan psikologi Anakon; Metodologi Anakon; Cakupan telaah Anakon; Kritik
terhadap Anakon; Implikasi pedagogis Anakon di dalam kelas; Anakon sebagai
sarana pemrediksi kesalahan berbahasa.
Menurut
Tarigan, Djago (1988:23) Analisis kontrastif adalah aktivitas atau kegiatan
yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan stuktur B2 untuk mengidentifikasi
perbedaan-perbedaan di antara kedua bahasa. Perbedaan–perbedaan antara kedua
bahasa yang diperoleh dan dihasilkan melalui analisis kontrastif dapat
digunakan sebagai landasan dalam meramalkan dan memprediksi kesulitan-kesulitan
berlajar berbahasa yang akan dihadapi para siswa di sekolah.
Dua versi hipotesis
analisis Anakon yang disebutkan oleh Tarigan (1988:23) yaitu; versi pertama
dikenal dengan dengan istilah “strong form” dan “weak form”. Hipotesis
berbentuk kuat (strong form hypothesis)
menyatakan bahwa “semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan
mengidentifikasi perbedaan antara B1 dan B2 yang dipelajari oleh para siswa”.
Hipotesis bentuk lemah (Weak form hypothesis ) menyatakan bahwa Akon
hanyalah bersifat diagnostik belaka. Karena itu Akon dan Analisi kesalahan
(Anakes) harus saling melengkapi. Sedangkan Hipotesis berbentuk kuat didasarkan
pada asumsi-asumsi seperti: a) penyebab utama atau penyebab tunggalkesulitan
belajar dan kesalahan dalam pembelajaran bahasa asing adalah interferensi
bahasa ibu; b) kesulitan belajar sebgaian atau seluruhnya disebabkan oleh
perbedaan B1 dan B2; c) semakin besar perbedaan antara B1 dan B2 semakin akut
atau gawat kesulitan belajar; d) hasil perbandingan antara B1 dan B2 diperlukan
untuk meramalkan kesulitan dan kesalahan yang akan terjadi dalam belajar bahasa
asing; e) bahan pengajaran dapat ditentukan secara tepat dengan membandingkan
kedua bahasa itu, kemudian dikurangi dengan bagian yang sama, sehingga apa yang
harus dipelajari oleh siswa adalah sejumlah perbedaan yang disusun berdasarkan
analisis kontrastif.
Daftar Pustaka :
Markhamah,dkk. 2009. Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa. Surakarta :
Muhammadiyah University Press.
Pateda, Mansoer.1989. Analisis Kesalahan. Flores : Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Teori Dan Praktik. Surakarta
: Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur.,dan Djago Tarigan. 1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa.
Bandung : Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar