Rabu, 21 Oktober 2015

PERBANDINGAN ANTARA EMPAT BUKU MENGENAI KESALAHAN BERBAHASA (DINAR NURFITRI DAMAYANTI-)



Nama  : Dinar Nurfitri Damayanti
Kelas   : 7A
Pendidikan Bahasa Indonesia
Analisis Kesalahan Berbahasa

BAB I
*      Pada bab 1 di buku Nanik Setyawati, M. Hum membahas tentang ragam bahasa, bahasa Indonesia sebagai ragam ilmu dan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
1.1  Ragam bahasa
Bahasa Indonesia memiliki dua kedudukan, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki beberapa fungsi, antara lain sebagai (a) lambang kebanggan nasional, (b) lambang identitas nasional, (c) alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda latar belakang, sosial, budaya dan bahasa, (d) alat perhubungan antara budaya dan daerah.
sedangkan bahasa Negara berdasarkan kedudukannya, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
(a) bahasa resmi Negara,
(b) bahasa pengantar resmi dilembaga-lembaga pendidikan,
(c) bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional, baik untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan maupun untuk kepentingan pemerintahan.
(d) bahasa resmi di dalam kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern (Halim (Setyawati,2010:1)).
1.2 Bahasa Indonesia sebagai Ragam Ilmu
      Sifat bahasa Indonesia sebagai ragam bahasa ilmu antara lain, sebagai berikut:
(a)    Ragam bahasa ilmu bukan dialek
Dialek adalah suatu sistem kebahasaan yang digunakan oleh satu masyarakat untuk membedakannya dari masyarakat yang lain yang berlainan walaupun erat hubungannya (Ayatrohaedi (Setyawati, 2010:3)).
Setiap dialek mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membedakan dialek yang satu dengan dialek yang lain, atau dialek dengan bahasa Indonesia baku.
Dengan ini jelaslah bahwa ragam bahasa ilmu bukan merupakan suatu dialek dan sedapat mungkin  menghindarkan diri dari penggunaan kata-kata dan struktur dialek.
(b)   Ragam bahasa ilmu merupakan ragam resmi
Ragam bahasa resmi yang digunakan dalam ragam bahasa ilmu pada umumnya patuh mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku.
Ragam bahasa keilmuwan memiliki sifat antara lain : (a) kemantapan dinamis, yang berupa kaidah dan aturan yang tetap, (b) bersifat kecendikiaan, dan (c) adanya penyeragaman kaidah.
(c)    Ragam bahasa ilmu digunakan para cendikiawan untuk mengkomunikasikan ilmu
Karena ragam bahasa ilmu digunakan untuk mengkomunikasi dengan menggunakan pikiran daripada perasaan. Maka, raga mini mempunyai sifat tenang, jelas, tidak berlebihan, dan tidak emosional.
(d)   Lebih diutamakan penggunaan kalimat pasif
Dalam kalimat pasif, peristiwa lebih dikemukakan daripada pelaku perbuatan.
(e)    Banyak menggunakan kata-kata istilah
kata-kata digunakan dalam arti denotative bukan dalam arti konotatif.
(f)    Konsisten dalam segala hal, misalnya dalam penggunaan istilah, singkatan, tanda-tanda, dan juga dalam penggunaan pronominal personal.
1.3  Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar adalah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan faktor-faktor penentu berkomunikasi dan benar dalam penerapan aturan kebahasaannya.
Contoh berikut akan memperjelas pengertian bahasa indonesi dengan baik dan benar, situasi di pasar pada umumnya merupakan situasi yang tidak resmi. Oleh karena itu tidak tepat jika ingin berbelanja ikan misalnya digunakan pertanyaan seperti:
“Mbak, berapakah harga ikan ini satu kilogramnya?” kepada seorang penjual ikan di pasar.
Dari segi kaidah bahasa benar, tetapi tidak baik karena situasi atau suasana penggunaannya. Sebaiknya dalam situasi tidak resmi, seperti itu akan lebih baik menggunakan bahasa yang tidak terlalu formal, yaitu misalnya menggunakan pertayaan-pertanyaan seperti:
      Harga ikannya berapa, Mbak?, atau
      Ikannya sekilo berapa, Mbak?, atau
      Ikannya berapa, Mbak?
Dengan kalimat sederhana seperti itu, komunikasi yang terjalin justru lebih lancar karena situasinya memang memungkinkan tuturan-tuturan yang tidak begitu formal.

*      Sedangkan pada buku Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan dan Drs. Djago Tarigan di bab I dalam bukunya yang berjudul “Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa”, pada bab I membahas tentang pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, dan interferensi.
1.1  Pemerolahan Bahasa
Istilah pemerolehan bahasa atau language acquisition biasanya diikuti oleh kata pertama atau kedua, sehingga dikenal istilah pemerolehan bahasa pertama (PB1) atau first language acquisition dan pemerolehan bahasa kedua (PB2) atau second language acquisition. Pemerolehan bahasa pertama berkaitan dengan segala aktivitas seseorang dalam menguasai bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa kedua berlangsung setelah seseorang menguasai atau mempelajari bahasa pertama.
1.2  Kedwibahasaan
a)      Kedwibahasaan merupakan fenomena yang menggejala disetiap Negara di dunia ini. Pengertian kedwibahasaan menurut (Bloomfield (Tarigan, 1995:8)). Kedwibahasaan adalah penguasaan dua bahasa secara sempurna. Tentu saja penguasaan dua bahasa itu tidak dapat dijelaskan secara tepat karena penguasaan itu berjenjang atau relatif.
b)      (Encyclopedia Britanica (Tarigan, 1995:8)) kedwibahasaan adalah penguasaan dua bahasa atau lebih kedwibahasaan atau keanekabahasaan adalah suatu keterampilan khusus. Kedwibahasaan atau keanekabahasaan merupakn istilah yang relatif karena tipe dan jenjang penguasaan bahasa seseorang yang berbeda.
c)      Sedangkan menurut (Haugen (Tarigan , 1995:9)), kedwibahasaan adalah kemampuan menghasilkan ujaran yang bermakna di dalam bahasa kedua.
Maka, dapat disimpulkan bahwa kedwibahasaan adalah suatu keterampilan khusus dengan menguasai dua bahasa yang menghasilkan ujaran yang bermakna.
1.3  Interferensi
Interferensi merupakan kontak bahasa yang terjadi pada diri dwibahasawan menimbulkan saling-pengaruh antara B1 dan B2.
Saling pengaruh ini dapat terjadi pada setiap unsur bahasa, seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis. Bila penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut transfer. Bila sistem yang digunakan berlainan atau bertentangan disebut transfer negatif. Transfer negative menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran B2 dan merupakan salah satu sumber kesalahan berbahasa. Transfer negate dapat dikenal dengan istilah interferensi.

*      Namun pada bab 1 di dalam bukunya Dr. Mansoer Pateda, membahas tentang analisis kesalahan sebagai bagian linguistik dan analisis kontrastif dan analisis kesalahan.
(a). Analisis Kesalahan sebagai Bagian Linguistik
      Linguistik adalah adalah studi bahasa secara ilmiah (Lyons (Pateda, 1989:13)). Linguistik dapat dipelajari berdasarkan :
      1). Pembidangannya
      2). Sifat telaahnya
      3). Pendekatan objeknya
      4). Alat analisisnya
      5). Hubungannya dengan ilmu lain
      6). Penerapannya
      7). Teori dan aliran yang mendasarinya (Pateda, 1989:13)
      Linguistik terapan adalah subdisiplin linguistik yang menerapkan teori-teori linguistik dalam kegiatan praktis. Linguistik terapan lebih diarahkan kepada pengajaran bahasa. Penerapan teori linguistik dalam pengajaran bahasa, disebut linguistik terapan dalam pengertian sempit.
Contoh kegiatan guru yang sedang melaksanakan proses belajar mengajar di kelas, pasti ia melaksanakan bebagai kegiatan, antara lai, mengoreksi pekerjaan terdidik, atau memperbaiki kesalahan berbahasa si terdidik.
      Dalam kaitan ini diperlukan suatu keterampilan, yakni keterampilan menganalisis kesalahan berbahasa si terdidik. kesalahan tersebut dikumpulkan secara sistematis, dianalisis dan dikategorikan. Kegiatan tersebut disebut analisis kesalahan. Keterampilan menganalisis seperti itu masih termasuk ke dalam ruang lingkup terapan. Dari uraian berikut terlihat adanya hubungan antara linguistik, linguistik terapan dan analisis kesalahan.
(b). Analisis Konstratif dan Analisis Kesalahan
      a). Kesalahan yang dibuat terdidik ketika bukan bahasa ibunya telah menarik perhatian para ahli, khususnya ahli yang bergerak dibidang pengajaran bahasa.
Contoh pengaruh bahasa Gorontalo, di dalam bahasa Gorontal tidak dikenal fonem /e/. Dalam pelafalan, semua kata bahasa Indonesia yang mengandung fonem /e/ dilafalkan /o/ [ɔ]. Jadi, kata-kata bahasa Indonesia betul, dekat, gelas, kesenangan, letih dan merdeka akan dilafalkan [bɔtul, dɔkat, gɔlas, kɔsɔnangan, lɔtih, mɔrdeka].
      Seorang guru yang bijaksana seharusnya memperhatikan pengaruh itu. Guru seharusnya mengetahui bahwa ada pengaruh bahasa Gorontalo , baik yang berhubungan dengan fonologi, morfologi, atau sintaksis. Hal ini membawa konsekuensi pemahaman terhadap kedua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Gorontalo yang diusahakan oleh guru bahasa Indonesia yang bekerja di Gorontalo. Dalam kasus ini pendekatan analisis kontrastif akan membantu guru.
Analisis kontrastif adalah pendekatan dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara bahasa ibu dengan bahasa kedua atau bahasa yang sedang dipelajari sehingga guru dapat meramalkan kesalahan si terdidik dan si terdidik segera menguasai bahasa yang bukan bahasa ibunya yang sedang dipelajari.
Analisis konstratif sebagai salah satu pendekatan dalam pengajaran bahwa termasuk dalam linguistik terapan. Oleh karena itu, linguistik berobjekan bahasa, maka analisis kontrastif pun berobjekan bahasa. Bahasa ssebagai objek bukan karena kepentingan bahasa itu sendiri melainkan untuk kepentingan pengajaran bahasa.
Maka, bahasa sebagai objek dapat dilihat dari bahasa itu sendiri atau sebagai bahan pengajaran guru, yakni bertindak sebagai orang yang mengajarkan bahasa, dan si terdidik yang mempelajari bahasa.
Tujuan dari analisis kontrastif adalah;
1.      menganalisis perbedaan antara bahasa itu dengan bahasa yang sedang dipelajari
2.      menganalisis perbedaan antara bahasa ibu dengan bahasa yang sedang dipelajari agar kesalahan si terdidik dapat diramalkan.
3.      Hasil analisis digunakan untuk menuntaskan keterampilan bahasa si terdidik.
4.      membantu si terdidik untuk menyadari kesalahan berbahasa sehingga demikian si terdidik diharapkan dapat menguasai bahasa yang sedang dipelajari.
b) Analisis Kesalahan
Objek linguistik adalah bahasa. Meskipun yang menjadi objek linguistic adalah bahasa yang tentu juga adalah objek analisis kesalahan, tetapi analisis kesalahan lebih menitikberatkan pada bahasa ragam formal.
Analisis kesalahan bertujuan untuk menemukan kesalahan, mengklasifikasikan, dan terutama untuk melakukan tindakan perbaikan.
*      Kemudian pada buku Markhamah, dkk di bab I membaahas tentang sistematika yang dibahas pada buku ini. Ada dua sisi yag perlu mendapatkan perhatian ketika seseorang berkomunikasi.
(1)   Bahasanya sendiri
(2)   Sikap atau perilaku ketika berkomunikasi
(3)   Terkait dengan bahasanya terdapat kaidah bahasa, yakni fonologi, morfologi, sintaksis an semantis.
BAB II
*      Pada bab ii dibuku Nanik Setyawati, M. Hum. membahas tentang pengertian kesalahan berbahasa, penyebab kesalahan berbahasa, perngetian analisis kesalahan berbahasa, mengapa analisis kesalahan berbahasa dilakukan, klasifikasi kesalahan berbahasa, kaitan mata kuliah analisis kesalahan berbahasa dengan mata kuliah lain, sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
a.       Pengertian Kesalahan Berbahasa
Kesalahan berbahasa merupakan penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tertulis  yang menyimpang dari faktor-faktor penentu berkomunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia (Setyawati, 2010:13).
b.      Penyebab Kesalahan Berbahasa
Ada 3 penyebab kemungkinan seseorang dapat salah dalam berbahasa:
1) Terpengaruh bahasa yang lebih dahulu dikuasainya.
2) Kekuranganpahaman pemakai bahasa terhadap bahasa yang dipakainya.
3) Pengajaran bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna.
c.       Analisis Kesalahan Berbahasa
Analisis kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh peneliti atau guru bahasa, yang meliputi: kegiatan mengumpulkan sampel kesalahan, mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan kesalahan tersebut, mengklasifikasikan kesalahan itu, dan mengevaluasi taraf keseriusan kesalahan itu (Tarigan, Djago & Lilis Siti Sulistyaningsih, 2010:18).
d.      Mengapa Analisis Kesalahan Berbahasa Dilakukan
Analisis dilakukan untuk melatih berulang-ulang dengan pembetulan diberbagai hal merupakan suatu peristiwa yang wajar ketika mempelajari suatu bahasa.
Kemudian berguna juga untuk alat pada awal-awal dan selama tingkat variasinya program pengajaran target dilaksanakan.
e.       Klasifikasi Kesalahan Berbahasa
1)      berdasarkan tataran linguistik.
2)      berdasarkan kegiatan berbahasa atau keterampilan.
3)      berdasarkan sarana atau jenis bahasa.
4)      berdasarkan penyebab kesalahan tersebut terjadi dapat diklasifikasikan menjadi kesalahan berbahasa.
f.       Kaitan Mata Kuliah Analisis Kesalahan
Berbahasa dengan mata kuliah lain:
1)      Memperhatikan jenis-jenis kesalahan berbahasa yang dikaitkan dengan linguistik dan tataran linguistik.
2)      Kesalahan berbahasa dikaitkan dengan teori belajar bahasa.
3)      Mengaitkan kesalahan berbahasa dengan kegiatan berbahasa.
4)      Mengaitkn kesalahan berbahasa dengan pengajaran bahasa.
g.      Sikap Positif terhadap Bahasa Indonesia
Sikap positif ditujukan dengan cara pemakaian bahasa yang sesuai dengan situasi dan kaidahnya.

*      Sedangkan pada buku Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan dan Drs. Djago Tarigan membahas tentang “Analisis Kontrastif”.
1.      Batasan dan Pengertian Analisis Kontrastif
yakni, berupa prosedur kerja, adalah aktivitas atau kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan struktur B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan di antara kedua bahasa.
2.      Hipotesis Analisis Kontrastif
Terdapat dua versi hipotesis;
a). Versi pertama ; hipotesis bentuk kuat
b). Versi dua versi; hipotesis bentuk lemah
3.      Tumtutan Pedagogis Analisis Kontrastif
Langkah pertama, pengidentifikasian perbedaan struktur bahasa
Langkah kedua, memprediksi dan memprakirakan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa.
Langkah ketiga, berkaitan dengan cara penyampaian bahan ajaran.
4.      Aspek Linguistik dan Psikologi Anakon
Aspek linguistic anakon berkaitan pemerian bahasa dalam rangka perbandingkan dua bahasa. Rasional psikologis yang digunakan dalam mendukung hipotesis anakon menyebabkan adanya dua bentuk hipotesis.

*      Namun, pada buku Dr. Mansoer Pateda bab II beliau membahas tentang “Jenis Kesalahan”.
Kesalahan merupakan penyimpangan-penyimpangan yang bersifat sistematis yang dilkukan si terdidik ketika ia menggunakan bahasa.
Jenis-jenis kesalahan, yakni:
a)      Kesalahan acuan
b)      Kesalahan register
c)      Kesalahan sosial
d)     Kesalahan tekstual
e)      Kesalahan penerimaan
f)       Kesalahan pengungkapan
g)      Kesalahan perorangan
h)      Kesalahan kelompok
i)        Kesalahan menganalogi
j)        kesalahan transfer
k)      Kesalahan guru
l)        Kesalahan local
m)    Kesalahan global

*      Pada buku Markhamah, dkk membahas tentang “kalimat efektif”
(1)   Ciri Gramatikal kalimat efektif
Ciri gramatikal adalah ciri yang harus dipenuhi oleh pemakai bahasa dalam kaitan dengan ketatabahasaan. Ciri ini dapat dilihat dari bidang morfologi (ciri morfologis) dan bidang sintaksis (ciri sintaksis). Ciri gramatikal sintaksis adalah cirri gramatikal yang berkenalan dengan kaidah sintaksis.
(2)   Ciri Diktis Kalimat Efektif
Ciri diktis adalah ciri kalimat efektif yang berkaitan dengan pemilihan kata. Kata yang dirangkai menjadi suatu kalimat merupakan kata-kata yang: tepat bentuknya, seksama (sesuai), dan lazim.
(3)   Penalaran
Kalimat efektif aadalah kalimat yang memenuh penalaran. Kalimat yang memenuhi penalaran artinya kalimat yang secara nalar dapat diterimai kalimat yang diterima oleh akal sehat.
(4)   Keserasian
Kalimat yang efektif juga harus memenuhi keserasian. Keserasian ini bisa mengacu kepada bahasa yang baik. Bahasa yang baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi.


BAB III
*      Pada bukunya Nanik Setyawati, M.Hum. membahas tentang “Kesalahan Berbahasa Tataran Fonologi”
a.       Kesalahan pelafalan karena perubahan fonem
Terdapat banyak contoh kesalahan pelafalan karena pelafalan fonem-fonem tertentu berubah atau tidak diucapkan sesuai kaidah.
1)      Perubahan Fonem Vokal
Contoh:
·   Perubahan fonem /a/ menajdi /e/:
Lafal baku                         Lafal tidak baku
akta                                   akte
dapat                                 dapet
Kamis                                Kemis
·   Fonem /a/ menjadi /i/:
Lafal baku                         Lafal tidak baku
mayat                                mayit
moral                                 moril
operasional                                    operasionil
·   Fonem /a/ dilafalkan menjadi /o/:
Lafal baku                         Lafal tidak baku
musala                               musola
qari                                                qori
Ramadan                           Romadon
·   fonem /ề/ dilafalkan /a/:
Lafal baku                         Lafal Tidak Baku
pecềl                                  pecal
ritmề                                  ritma
sềmadi                               samadi
·   Fonem /é/ dilafalkan menjadi /i/:
Lafal baku                         Lafal tidak baku
magnet                              magnit
oksigén                              oksigin
produser                            produsir
·   Fonem /i/ dilafalkan menjadi /é/:
Lafal baku                         Lafal tidak baku
ilham                                 élham
keliru                                 keléru
nasihat                               naséhat
·   Fonem /o/ dilafalkan menjadi /u/:
Lafal baku                         Lafal tidak baku
bioskop                              bioskup
khotbah                             khutbah
pistol                                 pistol
·   Fonem /u/ dilafalkan menjadi /o/:
Lafal baku                         Lafal tidak baku
guncang                             goncang
juang                                 joang
revolusi                              revolosi
2). Perubahan Fonem Konsonan
·   Fonem /b/ dilafalkan menjadi /p/:
   Contoh:
   Lafal baku             Lafal tidak baku
   mujarab                 mujarap
   nasib                      nasip
   Rajab                     Rajap
·   Fonem /d/ dilafalkan menjadi /t/:
   Contoh:
   Lafal baku             Lafal tidak baku
   masjid                    masjit
   murid                     murit
   sujud                     sujut
·   Fonem /f/ dilafalkan menjadi /p/:
   Contoh:
   Lafal baku             Lafal tidak baku
   nafsu                     napsu
   negatif                   negatip
   paraf                      parap
3). Perubahan Fonem Vocal menjadi Fonem Konsonan
      Contoh:
      Lafal baku             Lafal tidak baku
      kualitas                  kwalitas
      miliar                     milyar
      mulia                     mulya
4). Perubahan Fonem Konsonan menjadi Fonem Vokal
      Contoh:
      Lafal baku             Lafal tidak baku
      madya                   madia
satwa                     satua
syawal                   syaual
5). Perubahan Pelafalan Kata atau Singkatan
      Contoh:
      Singkatan              Lafal baku                   Lafal tidak baku
      a.n.                        atas nama                    a en
      Bpk.                      Bapak                          be pe ka
      dst.                                    dan seterusnya            de es te
b.      Kesalahan Pelafalan Karena Penghilangan Fonem
1)      Perubahan Fonem Vokal
·         Penghilangan fonem /a/
Contoh:
Lafal baku             Lafal tidak baku
makaroni               makroni
parabola                 parabol
pena                       pen
·         Penghilangan fonem /e/
Contoh:
Lafal baku             Lafal tidak baku
Jenderal                 Jendral
Karier                    karir
2)      Perubahan Fonem Konsonan
·         Penghilangan fonem /h/
contoh:
Lafal baku             Lafal tidak baku
bahu-membahu      bau-membau
bodoh                    bodo
·         Penghilangan fonem /k/
Contoh:
Lafal baku             Lafal tidak baku
takbir                     tabir
teknisi                    tenisi
3)      Perhilangan Fonem Vokal Rangkap menjadi Vokal Tunggal
·         Fonem /ai/ dilafalkan menjadi /e/
Contoh:
Lafal baku             Lafal tidak baku
andai                     ande
pantai                    pante
pandai                   pande
c.       Kesalahan Pelafalan Karena Penambahan Fonem
1)      Penambahan Fonem Vokal
·         Penambahan fonem /a/
contoh:
Lafal baku             Lafal tidak baku
narkotik                 narkotika
narwastu                narawastu
rohaniwan             rohaniawan
·         Penambahan fonem /e/
Contoh      :
Lafal baku             Lafal tidak baku
mantra                               mantera
mantri                                manteri
mars                                   mares  
2)      Penambahan Fonem Konsonan
·         Penambahan fonem /d/
Contoh:
Lafal baku             Lafal tidak baku
stan                        stand
standar                  standard
·         Penambahan fonem /h/
Contoh
Lafal baku             Lafal tidak baku
magrib                   maghrib
nakhoda                nahkhoda
·         Pembentukan Deret Vokal
(a)    Pembentukan deret vokL /ai/ dari vokal /e/
contoh:
Lafal baku       Lafal tidak baku
primer              primair
sekunder          sekundair
syekh               syaikh
(b)   Pembentukan deret vokal /ou/ dari vokal /u/
contoh:
Lafal baku       Lafal tidak baku
misterius          misterious
souvenir           souvenir
turis                 touris
(c)    Pembentukan deret vokal /oo/ dari vokal /o/
contoh:
Lafal baku       Lafal tidak baku
mononton        monotoon
ozon                ozoon
prolog              prolog
·         Pembentukan Gabungan atau Gugus Konsonan dari fonem Konsonan Tunggal
(a)    Pembentukan gabungan atau gugus konsonan /dh/
Contoh:
Lafal baku       Lafal tidak baku
sandiwara        sandhiwara
Weda               Wedha
(b)   Pembentukan gabungan atau gugus konsonan /kh/
Contoh :
Lafal baku       Lafal tidak baku
mekanik           mekhanik
muhrim            mukhrim
nikotin             psikhiatri

*      Pada buku Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan dan Drs. Djago Tarigan, pada bab III membahas tentang “Analisis Kesalahan”.
Kajian segala aspek kesalahan itu disebut dengan analisis kesalahan. Tujuan dari aanalisis kesalahan:
1)      menentukan urutan bahan ajaran
2)      menentukan urutan jenjang penekaan bahan ajaran
3)      merencanakan latihan dan pengajaran remedial
4)      memilih butir pengujian kemahiran siswa
Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dari analisis kesalahan maka para pendukungnya pernah mengadakan reorientasi;
1)      Pengertian kesalahan
2)      Perbedaan antara keslahan dan kekeliruan
3)      Tujuan Anakes
4)      Data dan metode Anakes
5)      Sumber, sebab, signifikasi Anakes
Adanya penyebab kesalahan intrabahasa;
1)      Penyamarataan berlebihan
2)      Ketidaktahuan akan pembatasan kaidah
3)      Penerapan kaidah tidak sempurna
4)      Salah menghipotesiskan konsep
Ada beberapa kelemahan anakes, yakni:
1)      kekacauan antara aspek proses dan aspek produk anakes (antara pemerian kesalahan dan penjelasan kesalahan;
2)      Kurang/tidaknya ketepatan dan kekhususan dalam definisi kategori-kategori kesalahan;
3)      Penyederhanaan kategorisasi penyebab kesalahan siswa

*      Lalu pada buku Dr. Mansoer Pateda, pada bab III membahas tentang “Daerah dan sifat Kesalahan”
Kesalahan yang berhubungan dengan daerah fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.
a)      Daerah Kesalahan Fonologi
Berhubungan dengan pelafalan dan penulisan bunyi bahasa. Dahulu dalam bahasa Indonesia tidak dikenal fonem /v/, sehingga kata ‘’vak’’ dilafalkan ‘’pak’’.
b)      Daerah Kesalahan Morfologi
Berhubungan dengan tata bentuk kata. Dalam bahasa Indonesia kesalahan pada bidang morfologi akan menyangkut derivasi, diksi, kontaminasi dan pleonasme.
c)      Daerah Kesalahan Sintaksis
Berhubungan erat dengan kesalahan pada daerah morfologi. Karena kalimat berunsurkan kata-kata.
d)     Daerah Kesalahan Semantis
Berhubungan dengan ini guru harus menguasai makna kata, pemilihan kata, dan pemakaian kata. Karena ilmu semantis ini studi tentang makna. Apabila guru tidak menguasai makna kata, pemilihan kata dan pemakaian kata sesuai dengan makna dan fungsinya, jangan harap guru dapat memeriksa atau menentukan kesalahan si terdidik.
e)      Daerah Kesalahan Memfosil
Kesalahan memfosil tidak berkaitan dengan daerah kesalahan, tetapi menyangkut sifat kesalahan.
Menurut (James (Pateda, 1989:64)) kesalahan memfosil disebabkan oleh:
(1)   Integratif
(2)   Akulturatif
(3)   Biologis

*      Kemudian pada bab III, pada buku Markhamah, dkk. Membahas tentang “Kepaduan dan Ketepatan Makna”.
A.    Kepaduan
Kalimat efektif yang selain disebutkan dimuka adalah adanya kepaduan unsur-unsur yang ada pada suatu kalimat.
Kepaduan ini disejajarkan dengan koherensi dalam paragraf. Bedanya jika koherensi dalam paragraph kesatuan atau kepaduan yang dimaksud adalah kepaduan antara kalimat satu dengan kalimat lain.
Ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan supaya pemakai bahasa dapat menyusun kalimat yang padu;
1)      Tidak meletakkan keterangan yang berupa klausa antara subjek S dan P (predikatif)
2)      Tidak meletakkan keterangan aspek di depan S
3)      Tidak menempatkan keterangan aspek di antara pelaku dan pokok kata kerja yang merupakan kata kerja pasif bentuk diri
4)      Tidak menyisipkan kata depan di antara P dan O (objek)
B.     Ketepatan Makna
Kalimat efektif adalah kalimat yang tepat maknanya. Ketepatan makna ditentukan oleh ketepatan letak unsur-unsur kalimat yang akan memantapkan makna, bisa juga ditentukan oleh ketiadaan kata yang mubazir (kalimat hemat).

BAB IV
*      Pada buku Nanik Setyawati, M. Hum. ini, pada bab iv membahas tentang “Kesalahan Berbahasa Tataran Morfologi”
Klasifikasi kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi antara lain; (a) penghilangan afiks, (b) bunyi yang seharusnya luluh tetapi tidak diluluhkan, (c) penyuluhan bunyi yang tidak seharusnya tidak luluh, (d) penggantian morf, (e) penyingkatan morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-, (f) pemakaian afiks yang tidak tepat, (h) penempatan afiks yang tidak tepat pada penggabungan kata, dan (i) pengulangan kata majemuk yang tidak tepat.
(a)    Penghilangan Afiks
·         Penghilangan prefiks meng-
Contoh tidak baku:
Bunga mawar dan bunga matahari pamerkan keelokan mahkota mereka.

Contoh baku:
Bunga mawar dan bunga matahari memamerkan keelokan mahkota mereka.
·         Penghilangan prefiks ber-
Contoh tidak baku:
Pendapat bapakku beda dengan pendapat pamanku

Contoh baku:
Pendapat bapakku berbeda dengan pendapat pamanku.
(b)   Bunyi yang Seharusnya Luluh dan tidak diluluhkan
Sering dijumpai kata dasar yang berfonem awal /k/, /p/, /s/, atau /t/ tidak luluh jika mendapat prefiks meng- dan prefiks peng-.
Contoh tidak baku:
Kita harus ikut serta mensukseskan Pilkada bulan April 2010.

Contoh baku :
Kita harus menyukseskan Pilkada bulan April 2010.
(c)    Peluluhan Bunyi yang seharusnya tidak Luluh
·         Peluluhan bunyi /c/ yang tidak tepat
Kata dasar yang berfonem awal bunyi /c/ sering kita lihat menjadi lulu jika mendapat prefiks meng-
Contoh tidak baku:
Rama sudah lama menyintai Shinta.

Contoh baku:
Rama sudah lama mencintai Shinta.

·         Peluluhan bunyi-bunyi gugus konsonan yang tidak tepat
Pemakaian kata-kata bentukan yang berasal dari gabungan prefiks meng- dan kata dasar berfonem awal gugus konsonan.
Contoh tidak baku:
Pabrik itu setiap bulan dapat memroduksi 800 ribu baju.

Contoh baku:
Pabrik itu setiap bulan dapat memproduksi 800 ribu baju.
(d)   Penggantian Morf
·         Morf menge- Tergantikan Morf Lain
contoh tidak baku:
Siapa yang tadi pagi melap kaca mobilku?
Contoh baku:
Siapa yang tadi pagi mengelap kaca mobilku?
·         Morf be- Tergantikan Morf ber-
contoh tidak baku:
Bintang-bintang yang berkelip di langit membuat malam semakin indah.

contoh baku:
Bintang-bintang yang bekelip di langit membuat malam semakin indah.
·         Morf bel- Tergantikan Morf ber-
Contoh tidak baku:
berajar tugas utamamu, bukan hanya bermaian saja!

Contoh baku :
belajar tugas utamamu, bukan hanya bermain saja!
·         Morf pel- yang tergantikan Morf per-
Morfem per- akan beralomorf menjadi pel- jika tergabung pada kata dasar ajar.
Contoh:
Bentuk tidak baku:
Perajaran akan segera dimulai, siapkan bukunya!

Bentuk baku:
Pelajaran akan segera dimulai, siapkan bukunya!
·         Morf pe- yang Tergantikan Morf per-
Contoh :
Bentuk tidak baku:
Banyak lalat yang bertentangan di sekitar kita berasal dari perternakan milik Pak Tahir.

Bentuk baku:
Banyak lalat yang beterbangan di sekitar kita berasal dari peternakan milik Pak tahir.
·         Morf te- Tergantikan Morf ter-
Contoh tidak baku:
Jangan mudah terperdaya rayuan setan.
Contoh baku:
Jangan mudah teperdaya rayuan setan.

(e)    Penyingkatan Morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-
Salah satu morfem terikat pembentuk verba yang sangat produktif dalam bahasa Indonesia adalah prefiks meng-. Alomorf prefiks meng- adalah me-, mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-. Penyingkatan tersebut sebenarnya adalah ragam lisan yang dipakai dalam ragam tulis. Mencampur adukan ragam lisan dan ragam tulis menghasilkan kata yang salah.
Contoh tidak baku:
Setiap bulan Astuti mendapat tawaran nari di Sanggar Ketut Jelantik.

Contoh baku:
Setiap bulan Astuti mendapat tawaran menari di Sanggar Ketut Jelantik.
(f)    Penggunaan Afiks yang tidak Tepat
·         Penggunaan prefiks ke-
Contoh tidak baku:
Jangan keburu nafsu, kamu harus  bicara dengan tenang.

Contoh baku:
Jangan terburu nafsu, kamu harus bicara dengan tenang.
·         Penggunaan sufiks ir-
Contoh tidak baku:
Ijazah beberapa mahasiswa belum dilegalisir oleh Dekan.
Contoh baku:
Ijazah beberapa mahasiswa belum dilegalisir oleh Dekan.
·         Penggunaan sufiks –isasi
Contoh tidak baku:
Neonisasi jalan-jalan protokol di ibu kota sudah selesai.
Contoh baku:
Peneonan jalan-jalan protokol di ibu kota sudah selesai.


(g)   Penentuan Bentuk Dasar yang tidak Tepat
·         Pembentukan Kata dengan Konfiks di-…-ka
Contoh tidak baku:
Telah diketemukan sebuah STNK di ruang parker, yang merasa kehilangan harap mengambilnya di seksi keamanan dengan menunjukkan identitas.

Contoh baku:
Telah ditemukan sebuah STNK di ruang parker, yang merasa kehilangan harap mengambilnya di seksi keamanan dengan menunjukkan identitas.
·         Pembentukan Kata dengan Prefiks meng-…
Contoh tidak baku:
Anda harus merubah sikap anda yang kurang terpuji itu!

Contoh baku:
Anda harus mengubah sikap anda yang kurang terpuji itu!
·         Pembentukan Kata dengan Sufiks –wan
Contoh tidak baku:
beberapa ilmiawan dari berbagai disiplin ilmu menghadiri seminar.

Contoh baku:
beberapa ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu menghadiri seminar.
(h)   Penempatan Afiks yang Tidak Tepat pada Gabungan Kata
Contoh bentuk baku:
Orang yang suka bersedekah akan dilipatkan ganda rezekinya.

Contoh baku:
Orang yang suka bersedekah akan dilipatgandakan rezekinya.

(i)     Pengulangan Kata Majemuk yang Tidak Tepat
·         Pengulangan Seluruhnya
Bentuk baku                                Lafal tidak baku
besar kecil-besar kecil                   besar-besar kecil
harta benda-harta benda               harta-harta benda
kaki tangan-kaki tangan                kaki-kaki tangan

·         Pengulangan Sebagian
Bentuk Ekonomis                        Bentuk Kurang Ekonomis
abu-abu gosok                               abu gosok-abu gosok
cincin-cincin kawin                       cincin kawin-cincin kawin
hutan-hutan bakau                        hutan bakau-hutan bakau

*      Pada buku Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan dan Drs. Djago Tarigan membahas tentang “Antarbahasa atau interlanguage”
Antarbahasa mengacu kepada pengetahuan sistematik mengenai B2 yang berdikari dan bebas dari B1 pembelajar maupun bahasa sasaran. Lalu terdapat proses “Antarbahasa” mencakup:
(a)    transfer bahasa
(b)   transfer latihan
(c)    siasat pembelajaran B2
(d)   siasat komunikasi B2
(e)    Overgeneralisasi kaidah-kaidah bahasa sasaran.
Kemudian terdapat juga masalah yang dihadapi olehantarbahasa mencakup: maslah metodologis dan masalah teoritis.
Masalah metodologis : (a) analisis kesalahan
                                    (b) telaah-telaah lintas sektoral
                                    (c) telaah-telaah kasus longitudinal
dan masalah teoritis, yakni: (a) asal usul antarbahasa
                                          (b) pengabaian faktor-faktor eksternal
                                          (c) masalah variabilitas
Tujuan telaah Antarbahasa:
1)      Penelitian secara langsung dan sistematis terhadap tuturan pembelajaran sebagian terbesar telah terabaikan.
2)      Penelitian juga merupakan suatu syarat bagi validasi atau pengesahan.
3)      Agaknya dapat diperlihatkan bahwa pengujian atau penelitian langsung mengenai Antarbahasa memang sangat dibutuhkan.
4)      Akhirnya penelitian terhadap kegunaan Antarbahsa itu sendiri memang sangat menarik bagi teori linguyistik umum yang dapat dibandingkan dengan bahasa anak.

*      Pada buku Dr. Mansoer Pateda, pada bab 4 membahas tentang “Sumber dan Penyebab Kesalahan”
Sumber dan penyebab kesalahan banyak, tetapi  yang terpenting dari bahasa ibu, lingkungn, kebiasaan, interlingual, interferensi dan tidak kalah pentingnya kesadaran penutur bahasa.
1.      Pendapat Populer
Menyebutkan kesalahan bersumber pada ketidakhati-hatian si terdidik dan yang lain karena pengetahuan mereka terhadap bahasa yang dipelajari, dan interferensi (Norrish (Pateda, 2010:67)) berpendapat bahwa kesalahan bersumber pada:
-          Pemilihan bahan
-          Pengajaran
-          Contoh bahasa yang digunakan sebagai bahan
-          si terdidik
2.      Bahasa Ibu
Berdasarkan temuan tentang pengaruh bahasa ibu, penganut analisis konstratif menghipotesiskan bahwa ada petunjuk keras bahasa ibu mempengaruhi akusisi bahasa yang sedang dipelajari. Di Indonesia terasa pengaruh bahasa ibu atau bahasa daerah.
3.      Lingkungan
Lingkungan dalam hal ini adalah lingkungan yang tutur mempengaruhi penguasaan bahasa si terdidik.
Melihat kenyataan ini sumber dan penyebab kesalahan berdasarkan lingkungan disebabkan oleh: (1) Penggunaan bahasa dilingkungan keluarga seisi rumah
                            (2) teman sekolah
                            (3) teman sepermainan
                            (4) pemimpin di masyarakat
                            (5) Siaran radio
                            (6) Siaran televisI
                            (7) Surat kabar/majalah
                            (8) Kegiatan yang menggunakan kebahasaan misalnya
spanduk selebaran
4.      Kebiasaan
Kebiasaan bertalian dengan pengaruh bahasa ibu dan lingkungan. Si terdidik terbiasa dengan pola-pola bahsa yang di dengarnya. Maka, dari itu bentuk sudah menjadi kebiasaan.
5.      Interlingual
Mula-mula digunakan oleh Selinker pada tahun 1969 (Selinker (Richard, 1974:31-54). membedakan  perspektif belajar teaching perspectif dan perspektif belajar ‘learning perspektif’.
Perpektif pengajaran dihubungkan dengan usaha mengantisipasi metodologi yang ada kaitannya antara masukan dengan hasil yang akan dicapai.
6.      Interferensi
Memahami pengertian interferensi yang dikutipan di atas, terdapat prinsip:
(1)   terdapat pengaruh
(2)   pengaruh itu berasal dari bahasa pertama atau bahasa itu
(3)   bahasa pertama itu sistemnya berbeda dengan bahasa yang sedang dipelajari
(4)   bahasa pertama mempengaruhi si terdidik ketika ia mempelajari bahasa kedua
*      Kemudian pada buku Markhamah,dkk bab 4 membahas tentang “Kalimat Bervariasi”
Soedjito dalam (Markhamah, 2009:64) membedakan variasi berdasarkan urutan dan jenis kalimat. Yang dimaksud variasi urutan adalah urutan unsur-unsur fungsi berbeda. Berbeda urutan dimaksud adalah urutan biasa dan urutan inverse. Adapun berdasarkan jenis kalimat dibedakan jadi dua; varasi aktif dan pasif.
a.       Kalimat Bervariasi Urutan
Pada setiap kalimat terdapat subjek-predikat-objek-keterangan (S-P-O-K) atau bervariasi.
Contoh:
Pemuda itu bekerja dengan tekun
         S                   P
atau
Bekerja dengan tekun pemuda itu
                  P                      S
Kalimat di atas merupakan kalimat yang bersusun biasa, yaitu S-P. Kalimat (1a) adalah kalimat yang bersusun inverse, yakni P-S.
Untuk menghasilkan variasi urutan yang baik, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan:
o   Keterangan kalimat yang letaknya bebas dapat dipertukarkan tempatnya.
o   Objek sebagai bagian dari predikat tidak dapat dipisahkan.
o   Predikat yang berupa verba pasif pelaku orang 1 dan 2 pokok kata kerja tidak dapat dipisahkan.
o   Predikat yang berupa kata kerja rangkap dapat divariasikan dengan diinversikan (dibalik susunannya) atau diprolepsisikan (digeser posisinya).
o   Keteranga subjek tidak dipisahkan dengan subjeknya sebagai induknya.
o   Keterangan subjek tidak dipisahkan dengan subjeknya sebagai induknya
o   Keterangan objek tidak dapat dipisahkan dengan objeknya.
b.      Kalimat Bervariasi Aktif-Pasif
Kalimat variasi aktif-pasif adalah variasi yang terjadi pemakaian bahasa (bisa berupa kalimat atau wacana).
c.       Kalimat Bervariasi berita-perintah tanya.
Variasi ini adalah variasi jenis kalimat berdasarkan intonasinya. Berdasarkan intonasinya kalimat dibedakan menjadi kalimat berita, kalimat perintah dan kalimat tanya.
Kalimat berita, yakni kalimat yang isinya memberitahukan, kalimat tanya adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu, sedangkan kalimat perintah adalah kalimat yang isinya memerintah orang lain untuk melakukan suatu tindakan.
d.      Kalimat Bervariasi Panjang-pendek
Variasi berikutnya adalah variasi panjang pendek kalimat. Paragraf yang baik sebaiknya tidak seluruhnya kalimat panjang. Tetapi, sebaliknya paragraf itu juga tidak terdiri atas kalimat-kalimat yang pendek semua. Kalimat panjang merupakan hasil perluasan atau penggabungannya dari klausa.
Daftar Pustaka :
 Markhamah, dkk. 2009. Analisis Kesalahan dan Kesatunan Berbahasa. Surakarta:Muhammadiyah University Press.
Pateda, Mansoer. 1989. Analisis Kesalahan. Flores:Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik. Surakarta: Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur, Djago Tarigan. 1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar