Nama : Dinar Nurfitri Damayanti
Kelas : 7A
Pendidikan
Bahasa Indonesia
Analisis
Kesalahan Berbahasa
BAB
I
1.1
Ragam bahasa
Bahasa Indonesia memiliki
dua kedudukan, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa negara. Dalam
kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki beberapa
fungsi, antara lain sebagai (a) lambang kebanggan nasional, (b) lambang
identitas nasional, (c) alat pemersatu berbagai masyarakat yang berbeda-beda
latar belakang, sosial, budaya dan bahasa, (d) alat perhubungan antara budaya
dan daerah.
sedangkan bahasa Negara
berdasarkan kedudukannya, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
(a) bahasa resmi Negara,
(b) bahasa pengantar
resmi dilembaga-lembaga pendidikan,
(c) bahasa resmi dalam
perhubungan pada tingkat nasional, baik untuk kepentingan perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan maupun untuk kepentingan pemerintahan.
(d) bahasa resmi di dalam
kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern (Halim (Setyawati,2010:1)).
1.2
Bahasa Indonesia sebagai Ragam Ilmu
Sifat bahasa Indonesia sebagai ragam
bahasa ilmu antara lain, sebagai berikut:
(a)
Ragam bahasa ilmu bukan dialek
Dialek
adalah suatu sistem kebahasaan yang digunakan oleh satu masyarakat untuk
membedakannya dari masyarakat yang lain yang berlainan walaupun erat
hubungannya (Ayatrohaedi (Setyawati, 2010:3)).
Setiap
dialek mempunyai ciri-ciri tersendiri yang membedakan dialek yang satu dengan
dialek yang lain, atau dialek dengan bahasa Indonesia baku.
Dengan
ini jelaslah bahwa ragam bahasa ilmu bukan merupakan suatu dialek dan sedapat
mungkin menghindarkan diri dari
penggunaan kata-kata dan struktur dialek.
(b)
Ragam bahasa ilmu merupakan ragam resmi
Ragam
bahasa resmi yang digunakan dalam ragam bahasa ilmu pada umumnya patuh
mengikuti kaidah bahasa Indonesia baku.
Ragam
bahasa keilmuwan memiliki sifat antara lain : (a) kemantapan dinamis, yang
berupa kaidah dan aturan yang tetap, (b) bersifat kecendikiaan, dan (c) adanya
penyeragaman kaidah.
(c)
Ragam bahasa ilmu digunakan para
cendikiawan untuk mengkomunikasikan ilmu
Karena
ragam bahasa ilmu digunakan untuk mengkomunikasi dengan menggunakan pikiran
daripada perasaan. Maka, raga mini mempunyai sifat tenang, jelas, tidak
berlebihan, dan tidak emosional.
(d)
Lebih diutamakan penggunaan kalimat pasif
Dalam
kalimat pasif, peristiwa lebih dikemukakan daripada pelaku perbuatan.
(e)
Banyak menggunakan kata-kata istilah
kata-kata
digunakan dalam arti denotative bukan dalam arti konotatif.
(f)
Konsisten dalam segala hal, misalnya dalam
penggunaan istilah, singkatan, tanda-tanda, dan juga dalam penggunaan
pronominal personal.
1.3
Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar
Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar
adalah berbahasa Indonesia yang sesuai dengan faktor-faktor penentu berkomunikasi
dan benar dalam penerapan aturan kebahasaannya.
Contoh berikut akan memperjelas pengertian
bahasa indonesi dengan baik dan benar, situasi di pasar pada umumnya merupakan
situasi yang tidak resmi. Oleh karena itu tidak tepat jika ingin berbelanja
ikan misalnya digunakan pertanyaan seperti:
“Mbak, berapakah harga ikan ini satu
kilogramnya?” kepada seorang penjual ikan di pasar.
Dari segi kaidah bahasa benar, tetapi
tidak baik karena situasi atau suasana penggunaannya. Sebaiknya dalam situasi
tidak resmi, seperti itu akan lebih baik menggunakan bahasa yang tidak terlalu
formal, yaitu misalnya menggunakan pertayaan-pertanyaan seperti:
Harga ikannya berapa, Mbak?, atau
Ikannya sekilo berapa, Mbak?, atau
Ikannya berapa, Mbak?
Dengan kalimat sederhana seperti itu,
komunikasi yang terjalin justru lebih lancar karena situasinya memang
memungkinkan tuturan-tuturan yang tidak begitu formal.
1.1
Pemerolahan Bahasa
Istilah pemerolehan bahasa atau language
acquisition biasanya diikuti oleh kata pertama atau kedua, sehingga dikenal istilah
pemerolehan bahasa pertama (PB1) atau first language acquisition dan
pemerolehan bahasa kedua (PB2) atau second language acquisition. Pemerolehan
bahasa pertama berkaitan dengan segala aktivitas seseorang dalam menguasai
bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa kedua berlangsung setelah seseorang menguasai
atau mempelajari bahasa pertama.
1.2
Kedwibahasaan
a)
Kedwibahasaan merupakan fenomena yang
menggejala disetiap Negara di dunia ini. Pengertian kedwibahasaan menurut
(Bloomfield (Tarigan, 1995:8)). Kedwibahasaan adalah penguasaan dua bahasa
secara sempurna. Tentu saja penguasaan dua bahasa itu tidak dapat dijelaskan
secara tepat karena penguasaan itu berjenjang atau relatif.
b)
(Encyclopedia Britanica (Tarigan, 1995:8))
kedwibahasaan adalah penguasaan dua bahasa atau lebih kedwibahasaan atau
keanekabahasaan adalah suatu keterampilan khusus. Kedwibahasaan atau
keanekabahasaan merupakn istilah yang relatif karena tipe dan jenjang
penguasaan bahasa seseorang yang berbeda.
c)
Sedangkan menurut (Haugen (Tarigan ,
1995:9)), kedwibahasaan adalah kemampuan menghasilkan ujaran yang bermakna di
dalam bahasa kedua.
Maka, dapat disimpulkan
bahwa kedwibahasaan adalah suatu keterampilan khusus dengan menguasai dua
bahasa yang menghasilkan ujaran yang bermakna.
1.3
Interferensi
Interferensi merupakan kontak bahasa yang
terjadi pada diri dwibahasawan menimbulkan saling-pengaruh antara B1 dan B2.
Saling pengaruh ini dapat terjadi pada
setiap unsur bahasa, seperti fonologi, morfologi, dan sintaksis. Bila
penggunaan sistem bahasa tertentu pada bahasa lainnya disebut transfer. Bila
sistem yang digunakan berlainan atau bertentangan disebut transfer negatif.
Transfer negative menyebabkan timbulnya kesulitan dalam pengajaran B2 dan
merupakan salah satu sumber kesalahan berbahasa. Transfer negate dapat dikenal
dengan istilah interferensi.
(a). Analisis Kesalahan sebagai Bagian
Linguistik
Linguistik
adalah adalah studi bahasa secara ilmiah (Lyons (Pateda, 1989:13)). Linguistik
dapat dipelajari berdasarkan :
1).
Pembidangannya
2).
Sifat telaahnya
3).
Pendekatan objeknya
4).
Alat analisisnya
5).
Hubungannya dengan ilmu lain
6).
Penerapannya
7).
Teori dan aliran yang mendasarinya (Pateda, 1989:13)
Linguistik
terapan adalah subdisiplin linguistik yang menerapkan teori-teori linguistik
dalam kegiatan praktis. Linguistik terapan lebih diarahkan kepada pengajaran
bahasa. Penerapan teori linguistik dalam pengajaran bahasa, disebut linguistik
terapan dalam pengertian sempit.
Contoh kegiatan guru yang sedang
melaksanakan proses belajar mengajar di kelas, pasti ia melaksanakan bebagai
kegiatan, antara lai, mengoreksi pekerjaan terdidik, atau memperbaiki kesalahan
berbahasa si terdidik.
Dalam
kaitan ini diperlukan suatu keterampilan, yakni keterampilan menganalisis
kesalahan berbahasa si terdidik. kesalahan tersebut dikumpulkan secara
sistematis, dianalisis dan dikategorikan. Kegiatan tersebut disebut analisis
kesalahan. Keterampilan menganalisis seperti itu masih termasuk ke dalam ruang
lingkup terapan. Dari uraian berikut terlihat adanya hubungan antara
linguistik, linguistik terapan dan analisis kesalahan.
(b). Analisis Konstratif dan Analisis
Kesalahan
a).
Kesalahan yang dibuat terdidik ketika bukan bahasa ibunya telah menarik
perhatian para ahli, khususnya ahli yang bergerak dibidang pengajaran bahasa.
Contoh pengaruh bahasa Gorontalo, di dalam
bahasa Gorontal tidak dikenal fonem /e/. Dalam pelafalan, semua kata bahasa
Indonesia yang mengandung fonem /e/ dilafalkan /o/ [ɔ]. Jadi, kata-kata bahasa
Indonesia betul, dekat, gelas, kesenangan, letih dan merdeka akan dilafalkan [bɔtul,
dɔkat, gɔlas, kɔsɔnangan, lɔtih, mɔrdeka].
Seorang
guru yang bijaksana seharusnya memperhatikan pengaruh itu. Guru seharusnya
mengetahui bahwa ada pengaruh bahasa Gorontalo , baik yang berhubungan dengan
fonologi, morfologi, atau sintaksis. Hal ini membawa konsekuensi pemahaman
terhadap kedua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Gorontalo yang
diusahakan oleh guru bahasa Indonesia yang bekerja di Gorontalo. Dalam kasus
ini pendekatan analisis kontrastif akan membantu guru.
Analisis kontrastif adalah pendekatan
dalam pengajaran bahasa yang menggunakan teknik perbandingan antara bahasa ibu
dengan bahasa kedua atau bahasa yang sedang dipelajari sehingga guru dapat
meramalkan kesalahan si terdidik dan si terdidik segera menguasai bahasa yang
bukan bahasa ibunya yang sedang dipelajari.
Analisis konstratif sebagai salah satu
pendekatan dalam pengajaran bahwa termasuk dalam linguistik terapan. Oleh
karena itu, linguistik berobjekan bahasa, maka analisis kontrastif pun
berobjekan bahasa. Bahasa ssebagai objek bukan karena kepentingan bahasa itu
sendiri melainkan untuk kepentingan pengajaran bahasa.
Maka, bahasa sebagai objek dapat dilihat
dari bahasa itu sendiri atau sebagai bahan pengajaran guru, yakni bertindak
sebagai orang yang mengajarkan bahasa, dan si terdidik yang mempelajari bahasa.
Tujuan dari analisis kontrastif adalah;
1.
menganalisis perbedaan antara bahasa itu
dengan bahasa yang sedang dipelajari
2.
menganalisis perbedaan antara bahasa ibu
dengan bahasa yang sedang dipelajari agar kesalahan si terdidik dapat
diramalkan.
3.
Hasil analisis digunakan untuk menuntaskan
keterampilan bahasa si terdidik.
4.
membantu si terdidik untuk menyadari
kesalahan berbahasa sehingga demikian si terdidik diharapkan dapat menguasai
bahasa yang sedang dipelajari.
b)
Analisis Kesalahan
Objek
linguistik adalah bahasa. Meskipun yang menjadi objek linguistic adalah bahasa
yang tentu juga adalah objek analisis kesalahan, tetapi analisis kesalahan
lebih menitikberatkan pada bahasa ragam formal.
Analisis
kesalahan bertujuan untuk menemukan kesalahan, mengklasifikasikan, dan terutama
untuk melakukan tindakan perbaikan.
(1)
Bahasanya sendiri
(2)
Sikap atau perilaku ketika berkomunikasi
(3)
Terkait dengan bahasanya terdapat kaidah
bahasa, yakni fonologi, morfologi, sintaksis an semantis.
BAB
II
a. Pengertian
Kesalahan Berbahasa
Kesalahan
berbahasa merupakan penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tertulis yang menyimpang dari faktor-faktor penentu
berkomunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan menyimpang dari
norma kemasyarakatan dan menyimpang dari kaidah tata bahasa Indonesia
(Setyawati, 2010:13).
b. Penyebab
Kesalahan Berbahasa
Ada
3 penyebab kemungkinan seseorang dapat salah dalam berbahasa:
1)
Terpengaruh bahasa yang lebih dahulu dikuasainya.
2)
Kekuranganpahaman pemakai bahasa terhadap bahasa yang dipakainya.
3)
Pengajaran bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna.
c. Analisis
Kesalahan Berbahasa
Analisis
kesalahan berbahasa adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh
peneliti atau guru bahasa, yang meliputi: kegiatan mengumpulkan sampel
kesalahan, mengidentifikasi kesalahan yang terdapat dalam sampel, menjelaskan
kesalahan tersebut, mengklasifikasikan kesalahan itu, dan mengevaluasi taraf
keseriusan kesalahan itu (Tarigan, Djago & Lilis Siti Sulistyaningsih,
2010:18).
d. Mengapa
Analisis Kesalahan Berbahasa Dilakukan
Analisis
dilakukan untuk melatih berulang-ulang dengan pembetulan diberbagai hal
merupakan suatu peristiwa yang wajar ketika mempelajari suatu bahasa.
Kemudian
berguna juga untuk alat pada awal-awal dan selama tingkat variasinya program
pengajaran target dilaksanakan.
e. Klasifikasi
Kesalahan Berbahasa
1)
berdasarkan tataran linguistik.
2)
berdasarkan kegiatan berbahasa atau
keterampilan.
3)
berdasarkan sarana atau jenis bahasa.
4)
berdasarkan penyebab kesalahan tersebut
terjadi dapat diklasifikasikan menjadi kesalahan berbahasa.
f. Kaitan
Mata Kuliah Analisis Kesalahan
Berbahasa
dengan mata kuliah lain:
1)
Memperhatikan jenis-jenis kesalahan
berbahasa yang dikaitkan dengan linguistik dan tataran linguistik.
2)
Kesalahan berbahasa dikaitkan dengan teori
belajar bahasa.
3)
Mengaitkan kesalahan berbahasa dengan
kegiatan berbahasa.
4)
Mengaitkn kesalahan berbahasa dengan
pengajaran bahasa.
g. Sikap
Positif terhadap Bahasa Indonesia
Sikap
positif ditujukan dengan cara pemakaian bahasa yang sesuai dengan situasi dan
kaidahnya.
1.
Batasan dan Pengertian Analisis Kontrastif
yakni, berupa prosedur kerja, adalah
aktivitas atau kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dengan struktur
B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan di antara kedua bahasa.
2.
Hipotesis Analisis Kontrastif
Terdapat dua versi hipotesis;
a). Versi pertama ; hipotesis bentuk kuat
b). Versi dua versi; hipotesis bentuk
lemah
3.
Tumtutan Pedagogis Analisis Kontrastif
Langkah pertama, pengidentifikasian
perbedaan struktur bahasa
Langkah kedua, memprediksi dan
memprakirakan kesulitan belajar dan kesalahan berbahasa.
Langkah ketiga, berkaitan dengan cara
penyampaian bahan ajaran.
4.
Aspek Linguistik dan Psikologi Anakon
Aspek linguistic anakon berkaitan pemerian
bahasa dalam rangka perbandingkan dua bahasa. Rasional psikologis yang
digunakan dalam mendukung hipotesis anakon menyebabkan adanya dua bentuk
hipotesis.
Kesalahan
merupakan penyimpangan-penyimpangan yang bersifat sistematis yang dilkukan si
terdidik ketika ia menggunakan bahasa.
Jenis-jenis kesalahan, yakni:
a)
Kesalahan acuan
b)
Kesalahan register
c)
Kesalahan sosial
d)
Kesalahan tekstual
e)
Kesalahan penerimaan
f)
Kesalahan pengungkapan
g)
Kesalahan perorangan
h)
Kesalahan kelompok
i)
Kesalahan menganalogi
j)
kesalahan transfer
k)
Kesalahan guru
l)
Kesalahan local
m)
Kesalahan global
(1)
Ciri Gramatikal kalimat efektif
Ciri gramatikal adalah ciri yang harus
dipenuhi oleh pemakai bahasa dalam kaitan dengan ketatabahasaan. Ciri ini dapat
dilihat dari bidang morfologi (ciri morfologis) dan bidang sintaksis (ciri
sintaksis). Ciri gramatikal sintaksis adalah cirri gramatikal yang berkenalan
dengan kaidah sintaksis.
(2)
Ciri Diktis Kalimat Efektif
Ciri diktis adalah ciri kalimat efektif
yang berkaitan dengan pemilihan kata. Kata yang dirangkai menjadi suatu kalimat
merupakan kata-kata yang: tepat bentuknya, seksama (sesuai), dan lazim.
(3)
Penalaran
Kalimat efektif aadalah kalimat yang
memenuh penalaran. Kalimat yang memenuhi penalaran artinya kalimat yang secara
nalar dapat diterimai kalimat yang diterima oleh akal sehat.
(4)
Keserasian
Kalimat yang efektif juga harus memenuhi
keserasian. Keserasian ini bisa mengacu kepada bahasa yang baik. Bahasa yang
baik adalah bahasa yang sesuai dengan situasi.
BAB
III
a.
Kesalahan pelafalan karena perubahan fonem
Terdapat banyak contoh kesalahan pelafalan
karena pelafalan fonem-fonem tertentu berubah atau tidak diucapkan sesuai
kaidah.
1) Perubahan
Fonem Vokal
Contoh:
· Perubahan
fonem /a/ menajdi /e/:
Lafal baku Lafal
tidak baku
akta akte
dapat dapet
Kamis Kemis
· Fonem
/a/ menjadi /i/:
Lafal baku Lafal
tidak baku
mayat mayit
moral moril
operasional operasionil
· Fonem
/a/ dilafalkan menjadi /o/:
Lafal baku Lafal
tidak baku
musala musola
qari qori
Ramadan Romadon
· fonem
/ề/ dilafalkan /a/:
Lafal baku Lafal
Tidak Baku
pecềl pecal
ritmề ritma
sềmadi samadi
· Fonem
/é/ dilafalkan menjadi /i/:
Lafal baku Lafal
tidak baku
magnet magnit
oksigén oksigin
produser produsir
· Fonem
/i/ dilafalkan menjadi /é/:
Lafal baku Lafal
tidak baku
ilham élham
keliru keléru
nasihat naséhat
· Fonem
/o/ dilafalkan menjadi /u/:
Lafal baku Lafal
tidak baku
bioskop bioskup
khotbah khutbah
pistol pistol
· Fonem
/u/ dilafalkan menjadi /o/:
Lafal baku Lafal
tidak baku
guncang goncang
juang joang
revolusi revolosi
2).
Perubahan Fonem Konsonan
·
Fonem /b/ dilafalkan menjadi /p/:
Contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
mujarab mujarap
nasib nasip
Rajab Rajap
· Fonem
/d/ dilafalkan menjadi /t/:
Contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
masjid masjit
murid murit
sujud sujut
· Fonem
/f/ dilafalkan menjadi /p/:
Contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
nafsu napsu
negatif negatip
paraf parap
3).
Perubahan Fonem Vocal menjadi Fonem Konsonan
Contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
kualitas kwalitas
miliar milyar
mulia mulya
4).
Perubahan Fonem Konsonan menjadi Fonem Vokal
Contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
madya madia
satwa satua
syawal
syaual
5).
Perubahan Pelafalan Kata atau Singkatan
Contoh:
Singkatan Lafal
baku Lafal tidak baku
a.n. atas
nama a en
Bpk. Bapak be pe ka
dst. dan
seterusnya de es te
b. Kesalahan
Pelafalan Karena Penghilangan Fonem
1) Perubahan
Fonem Vokal
·
Penghilangan fonem /a/
Contoh:
Lafal
baku Lafal tidak baku
makaroni makroni
parabola parabol
pena pen
·
Penghilangan fonem /e/
Contoh:
Lafal
baku Lafal tidak baku
Jenderal
Jendral
Karier karir
2) Perubahan
Fonem Konsonan
·
Penghilangan fonem /h/
contoh:
Lafal
baku Lafal tidak baku
bahu-membahu bau-membau
bodoh bodo
·
Penghilangan fonem /k/
Contoh:
Lafal
baku Lafal tidak baku
takbir tabir
teknisi tenisi
3) Perhilangan
Fonem Vokal Rangkap menjadi Vokal Tunggal
·
Fonem /ai/ dilafalkan menjadi /e/
Contoh:
Lafal
baku Lafal tidak baku
andai ande
pantai pante
pandai pande
c. Kesalahan
Pelafalan Karena Penambahan Fonem
1) Penambahan
Fonem Vokal
·
Penambahan fonem /a/
contoh:
Lafal
baku Lafal tidak baku
narkotik narkotika
narwastu narawastu
rohaniwan rohaniawan
·
Penambahan fonem /e/
Contoh :
Lafal
baku Lafal tidak baku
mantra mantera
mantri manteri
mars mares
2) Penambahan
Fonem Konsonan
·
Penambahan fonem /d/
Contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
stan stand
standar standard
·
Penambahan fonem /h/
Contoh
Lafal baku Lafal
tidak baku
magrib maghrib
nakhoda nahkhoda
·
Pembentukan Deret Vokal
(a)
Pembentukan deret vokL /ai/ dari vokal /e/
contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
primer primair
sekunder sekundair
syekh syaikh
(b)
Pembentukan deret vokal /ou/ dari vokal
/u/
contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
misterius misterious
souvenir souvenir
turis touris
(c)
Pembentukan deret vokal /oo/ dari vokal
/o/
contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
mononton monotoon
ozon ozoon
prolog prolog
·
Pembentukan Gabungan atau Gugus Konsonan
dari fonem Konsonan Tunggal
(a)
Pembentukan gabungan atau gugus konsonan
/dh/
Contoh:
Lafal baku Lafal
tidak baku
sandiwara sandhiwara
Weda Wedha
(b)
Pembentukan gabungan atau gugus konsonan
/kh/
Contoh :
Lafal baku Lafal
tidak baku
mekanik mekhanik
muhrim mukhrim
nikotin psikhiatri
Kajian segala aspek
kesalahan itu disebut dengan analisis kesalahan. Tujuan dari aanalisis
kesalahan:
1)
menentukan urutan bahan ajaran
2)
menentukan urutan jenjang penekaan bahan
ajaran
3)
merencanakan latihan dan pengajaran
remedial
4)
memilih butir pengujian kemahiran siswa
Untuk
mendapatkan hasil yang memuaskan dari analisis kesalahan maka para pendukungnya
pernah mengadakan reorientasi;
1)
Pengertian kesalahan
2)
Perbedaan antara keslahan dan kekeliruan
3)
Tujuan Anakes
4)
Data dan metode Anakes
5)
Sumber, sebab, signifikasi Anakes
Adanya
penyebab kesalahan intrabahasa;
1)
Penyamarataan berlebihan
2)
Ketidaktahuan akan pembatasan kaidah
3)
Penerapan kaidah tidak sempurna
4)
Salah menghipotesiskan konsep
Ada
beberapa kelemahan anakes, yakni:
1)
kekacauan antara aspek proses dan aspek
produk anakes (antara pemerian kesalahan dan penjelasan kesalahan;
2)
Kurang/tidaknya ketepatan dan kekhususan dalam
definisi kategori-kategori kesalahan;
3)
Penyederhanaan kategorisasi penyebab
kesalahan siswa
Kesalahan
yang berhubungan dengan daerah fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik.
a)
Daerah Kesalahan Fonologi
Berhubungan dengan pelafalan dan penulisan
bunyi bahasa. Dahulu dalam bahasa Indonesia tidak dikenal fonem /v/, sehingga
kata ‘’vak’’ dilafalkan ‘’pak’’.
b)
Daerah Kesalahan Morfologi
Berhubungan dengan tata bentuk kata. Dalam
bahasa Indonesia kesalahan pada bidang morfologi akan menyangkut derivasi,
diksi, kontaminasi dan pleonasme.
c)
Daerah Kesalahan Sintaksis
Berhubungan erat dengan kesalahan pada
daerah morfologi. Karena kalimat berunsurkan kata-kata.
d)
Daerah Kesalahan Semantis
Berhubungan dengan ini guru harus
menguasai makna kata, pemilihan kata, dan pemakaian kata. Karena ilmu semantis
ini studi tentang makna. Apabila guru tidak menguasai makna kata, pemilihan
kata dan pemakaian kata sesuai dengan makna dan fungsinya, jangan harap guru
dapat memeriksa atau menentukan kesalahan si terdidik.
e)
Daerah Kesalahan Memfosil
Kesalahan memfosil tidak berkaitan dengan
daerah kesalahan, tetapi menyangkut sifat kesalahan.
Menurut (James (Pateda, 1989:64))
kesalahan memfosil disebabkan oleh:
(1)
Integratif
(2)
Akulturatif
(3)
Biologis
A.
Kepaduan
Kalimat
efektif yang selain disebutkan dimuka adalah adanya kepaduan unsur-unsur yang
ada pada suatu kalimat.
Kepaduan
ini disejajarkan dengan koherensi dalam paragraf. Bedanya jika koherensi dalam
paragraph kesatuan atau kepaduan yang dimaksud adalah kepaduan antara kalimat
satu dengan kalimat lain.
Ada
beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan supaya pemakai bahasa dapat menyusun
kalimat yang padu;
1) Tidak
meletakkan keterangan yang berupa klausa antara subjek S dan P (predikatif)
2) Tidak
meletakkan keterangan aspek di depan S
3) Tidak
menempatkan keterangan aspek di antara pelaku dan pokok kata kerja yang
merupakan kata kerja pasif bentuk diri
4) Tidak
menyisipkan kata depan di antara P dan O (objek)
B.
Ketepatan Makna
Kalimat efektif adalah kalimat yang tepat
maknanya. Ketepatan makna ditentukan oleh ketepatan letak unsur-unsur kalimat
yang akan memantapkan makna, bisa juga ditentukan oleh ketiadaan kata yang
mubazir (kalimat hemat).
BAB
IV
Klasifikasi
kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi antara lain; (a) penghilangan
afiks, (b) bunyi yang seharusnya luluh tetapi tidak diluluhkan, (c) penyuluhan
bunyi yang tidak seharusnya tidak luluh, (d) penggantian morf, (e) penyingkatan
morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-, (f) pemakaian afiks yang tidak
tepat, (h) penempatan afiks yang tidak tepat pada penggabungan kata, dan (i)
pengulangan kata majemuk yang tidak tepat.
(a) Penghilangan
Afiks
·
Penghilangan prefiks meng-
Contoh
tidak baku:
Bunga mawar dan bunga matahari pamerkan keelokan mahkota mereka.
Contoh
baku:
Bunga mawar dan bunga matahari memamerkan keelokan mahkota mereka.
·
Penghilangan prefiks ber-
Contoh
tidak baku:
Pendapat bapakku beda dengan pendapat pamanku
Contoh
baku:
Pendapat bapakku berbeda dengan pendapat pamanku.
(b) Bunyi
yang Seharusnya Luluh dan tidak diluluhkan
Sering dijumpai kata
dasar yang berfonem awal /k/, /p/, /s/, atau /t/ tidak luluh jika mendapat
prefiks meng- dan prefiks peng-.
Contoh
tidak baku:
Kita
harus ikut serta mensukseskan Pilkada
bulan April 2010.
Contoh
baku :
Kita harus menyukseskan Pilkada bulan
April 2010.
(c)
Peluluhan Bunyi yang seharusnya tidak
Luluh
·
Peluluhan bunyi /c/ yang tidak tepat
Kata dasar yang berfonem awal bunyi /c/
sering kita lihat menjadi lulu jika mendapat prefiks meng-
Contoh
tidak baku:
Rama sudah lama menyintai Shinta.
Contoh
baku:
Rama sudah lama mencintai Shinta.
·
Peluluhan bunyi-bunyi gugus konsonan yang
tidak tepat
Pemakaian kata-kata bentukan yang berasal
dari gabungan prefiks meng- dan kata dasar berfonem awal gugus konsonan.
Contoh
tidak baku:
Pabrik itu setiap bulan dapat memroduksi 800 ribu baju.
Contoh
baku:
Pabrik itu setiap bulan dapat memproduksi 800 ribu baju.
(d) Penggantian
Morf
·
Morf menge- Tergantikan Morf Lain
contoh tidak baku:
Siapa
yang tadi pagi melap kaca mobilku?
Contoh baku:
Siapa
yang tadi pagi mengelap kaca mobilku?
·
Morf be- Tergantikan Morf ber-
contoh tidak baku:
Bintang-bintang
yang berkelip di langit membuat malam
semakin indah.
contoh
baku:
Bintang-bintang
yang bekelip di langit membuat malam
semakin indah.
·
Morf bel- Tergantikan Morf ber-
Contoh tidak baku:
berajar
tugas utamamu, bukan hanya bermaian saja!
Contoh baku :
belajar
tugas utamamu, bukan hanya bermain saja!
·
Morf pel- yang tergantikan Morf per-
Morfem
per- akan beralomorf menjadi pel- jika tergabung pada kata dasar ajar.
Contoh:
Bentuk tidak baku:
Perajaran
akan segera dimulai, siapkan bukunya!
Bentuk baku:
Pelajaran
akan segera dimulai, siapkan bukunya!
·
Morf
pe- yang Tergantikan Morf per-
Contoh
:
Bentuk tidak baku:
Banyak
lalat yang bertentangan di sekitar kita berasal dari perternakan milik Pak Tahir.
Bentuk baku:
Banyak
lalat yang beterbangan di sekitar kita berasal dari peternakan milik Pak tahir.
·
Morf te- Tergantikan Morf ter-
Contoh tidak baku:
Jangan
mudah terperdaya rayuan setan.
Contoh baku:
Jangan
mudah teperdaya rayuan setan.
(e) Penyingkatan
Morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-
Salah
satu morfem terikat pembentuk verba yang sangat produktif dalam bahasa
Indonesia adalah prefiks meng-. Alomorf prefiks meng- adalah me-, mem-, men-,
meng-, meny-, dan menge-. Penyingkatan tersebut sebenarnya adalah ragam lisan
yang dipakai dalam ragam tulis. Mencampur adukan ragam lisan dan ragam tulis
menghasilkan kata yang salah.
Contoh tidak baku:
Setiap
bulan Astuti mendapat tawaran nari di
Sanggar Ketut Jelantik.
Contoh baku:
Setiap
bulan Astuti mendapat tawaran menari
di Sanggar Ketut Jelantik.
(f) Penggunaan
Afiks yang tidak Tepat
·
Penggunaan prefiks ke-
Contoh
tidak baku:
Jangan keburu
nafsu, kamu harus bicara dengan tenang.
Contoh
baku:
Jangan terburu
nafsu, kamu harus bicara dengan tenang.
·
Penggunaan sufiks ir-
Contoh tidak baku:
Ijazah
beberapa mahasiswa belum dilegalisir oleh
Dekan.
Contoh baku:
Ijazah
beberapa mahasiswa belum dilegalisir oleh Dekan.
·
Penggunaan sufiks –isasi
Contoh
tidak baku:
Neonisasi jalan-jalan
protokol di ibu kota sudah selesai.
Contoh
baku:
Peneonan
jalan-jalan protokol di ibu kota sudah selesai.
(g) Penentuan
Bentuk Dasar yang tidak Tepat
·
Pembentukan Kata dengan Konfiks di-…-ka
Contoh tidak baku:
Telah
diketemukan sebuah STNK di ruang
parker, yang merasa kehilangan harap mengambilnya di seksi keamanan dengan
menunjukkan identitas.
Contoh baku:
Telah
ditemukan sebuah STNK di ruang
parker, yang merasa kehilangan harap mengambilnya di seksi keamanan dengan
menunjukkan identitas.
·
Pembentukan Kata dengan Prefiks meng-…
Contoh tidak baku:
Anda
harus merubah sikap anda yang kurang
terpuji itu!
Contoh baku:
Anda
harus mengubah sikap anda yang kurang
terpuji itu!
·
Pembentukan Kata dengan Sufiks –wan
Contoh tidak baku:
beberapa
ilmiawan dari berbagai disiplin ilmu
menghadiri seminar.
Contoh baku:
beberapa
ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu
menghadiri seminar.
(h) Penempatan
Afiks yang Tidak Tepat pada Gabungan Kata
Contoh
bentuk baku:
Orang yang suka
bersedekah akan dilipatkan ganda
rezekinya.
Contoh
baku:
Orang yang suka
bersedekah akan dilipatgandakan
rezekinya.
(i) Pengulangan
Kata Majemuk yang Tidak Tepat
·
Pengulangan
Seluruhnya
Bentuk baku Lafal tidak baku
besar
kecil-besar kecil besar-besar
kecil
harta
benda-harta benda harta-harta
benda
kaki
tangan-kaki tangan kaki-kaki
tangan
·
Pengulangan Sebagian
Bentuk Ekonomis Bentuk Kurang Ekonomis
abu-abu
gosok abu
gosok-abu gosok
cincin-cincin
kawin cincin
kawin-cincin kawin
hutan-hutan
bakau hutan
bakau-hutan bakau
Antarbahasa mengacu kepada pengetahuan
sistematik mengenai B2 yang berdikari dan bebas dari B1 pembelajar maupun
bahasa sasaran. Lalu terdapat proses “Antarbahasa” mencakup:
(a)
transfer bahasa
(b)
transfer latihan
(c)
siasat pembelajaran B2
(d)
siasat komunikasi B2
(e)
Overgeneralisasi kaidah-kaidah bahasa
sasaran.
Kemudian terdapat juga masalah yang
dihadapi olehantarbahasa mencakup: maslah metodologis dan masalah teoritis.
Masalah
metodologis : (a) analisis kesalahan
(b) telaah-telaah lintas sektoral
(c)
telaah-telaah kasus longitudinal
dan
masalah teoritis, yakni: (a) asal usul antarbahasa
(b)
pengabaian faktor-faktor eksternal
(c)
masalah variabilitas
Tujuan
telaah Antarbahasa:
1)
Penelitian secara langsung dan sistematis
terhadap tuturan pembelajaran sebagian terbesar telah terabaikan.
2)
Penelitian juga merupakan suatu syarat
bagi validasi atau pengesahan.
3)
Agaknya dapat diperlihatkan bahwa
pengujian atau penelitian langsung mengenai Antarbahasa memang sangat
dibutuhkan.
4)
Akhirnya penelitian terhadap kegunaan
Antarbahsa itu sendiri memang sangat menarik bagi teori linguyistik umum yang
dapat dibandingkan dengan bahasa anak.
Sumber
dan penyebab kesalahan banyak, tetapi yang terpenting dari bahasa ibu, lingkungn,
kebiasaan, interlingual, interferensi dan tidak kalah pentingnya kesadaran
penutur bahasa.
1.
Pendapat Populer
Menyebutkan kesalahan bersumber pada
ketidakhati-hatian si terdidik dan yang lain karena pengetahuan mereka terhadap
bahasa yang dipelajari, dan interferensi (Norrish (Pateda, 2010:67)) berpendapat
bahwa kesalahan bersumber pada:
-
Pemilihan bahan
-
Pengajaran
-
Contoh bahasa yang digunakan sebagai bahan
-
si terdidik
2.
Bahasa Ibu
Berdasarkan temuan tentang pengaruh bahasa
ibu, penganut analisis konstratif menghipotesiskan bahwa ada petunjuk keras bahasa
ibu mempengaruhi akusisi bahasa yang sedang dipelajari. Di Indonesia terasa
pengaruh bahasa ibu atau bahasa daerah.
3.
Lingkungan
Lingkungan dalam hal ini adalah lingkungan
yang tutur mempengaruhi penguasaan bahasa si terdidik.
Melihat kenyataan ini sumber dan penyebab
kesalahan berdasarkan lingkungan disebabkan oleh: (1) Penggunaan bahasa
dilingkungan keluarga seisi rumah
(2) teman sekolah
(3) teman sepermainan
(4) pemimpin di masyarakat
(5) Siaran radio
(6) Siaran televisI
(7) Surat kabar/majalah
(8) Kegiatan yang menggunakan
kebahasaan misalnya
spanduk selebaran
4.
Kebiasaan
Kebiasaan bertalian dengan pengaruh bahasa
ibu dan lingkungan. Si terdidik terbiasa dengan pola-pola bahsa yang di
dengarnya. Maka, dari itu bentuk sudah menjadi kebiasaan.
5.
Interlingual
Mula-mula digunakan oleh Selinker pada
tahun 1969 (Selinker (Richard, 1974:31-54). membedakan perspektif belajar teaching perspectif dan
perspektif belajar ‘learning perspektif’.
Perpektif pengajaran dihubungkan dengan
usaha mengantisipasi metodologi yang ada kaitannya antara masukan dengan hasil
yang akan dicapai.
6.
Interferensi
Memahami pengertian interferensi yang
dikutipan di atas, terdapat prinsip:
(1)
terdapat pengaruh
(2)
pengaruh itu berasal dari bahasa pertama
atau bahasa itu
(3)
bahasa pertama itu sistemnya berbeda
dengan bahasa yang sedang dipelajari
(4)
bahasa pertama mempengaruhi si terdidik
ketika ia mempelajari bahasa kedua
Soedjito
dalam (Markhamah, 2009:64) membedakan variasi berdasarkan urutan dan jenis
kalimat. Yang dimaksud variasi urutan adalah urutan unsur-unsur fungsi berbeda.
Berbeda urutan dimaksud adalah urutan biasa dan urutan inverse. Adapun
berdasarkan jenis kalimat dibedakan jadi dua; varasi aktif dan pasif.
a.
Kalimat Bervariasi Urutan
Pada setiap kalimat terdapat
subjek-predikat-objek-keterangan (S-P-O-K) atau bervariasi.
Contoh:
Pemuda itu bekerja
dengan tekun
S P
atau
Bekerja dengan tekun pemuda
itu
P S
Kalimat di atas merupakan kalimat yang
bersusun biasa, yaitu S-P. Kalimat (1a) adalah kalimat yang bersusun inverse,
yakni P-S.
Untuk menghasilkan variasi urutan yang
baik, ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan:
o
Keterangan kalimat yang letaknya bebas
dapat dipertukarkan tempatnya.
o
Objek sebagai bagian dari predikat tidak
dapat dipisahkan.
o
Predikat yang berupa verba pasif pelaku
orang 1 dan 2 pokok kata kerja tidak dapat dipisahkan.
o
Predikat yang berupa kata kerja rangkap
dapat divariasikan dengan diinversikan (dibalik susunannya) atau diprolepsisikan
(digeser posisinya).
o
Keteranga subjek tidak dipisahkan dengan
subjeknya sebagai induknya.
o
Keterangan subjek tidak dipisahkan dengan
subjeknya sebagai induknya
o
Keterangan objek tidak dapat dipisahkan
dengan objeknya.
b.
Kalimat Bervariasi Aktif-Pasif
Kalimat variasi aktif-pasif adalah variasi
yang terjadi pemakaian bahasa (bisa berupa kalimat atau wacana).
c.
Kalimat Bervariasi berita-perintah tanya.
Variasi ini adalah variasi jenis kalimat
berdasarkan intonasinya. Berdasarkan intonasinya kalimat dibedakan menjadi
kalimat berita, kalimat perintah dan kalimat tanya.
Kalimat berita, yakni kalimat yang isinya
memberitahukan, kalimat tanya adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu,
sedangkan kalimat perintah adalah kalimat yang isinya memerintah orang lain
untuk melakukan suatu tindakan.
d.
Kalimat Bervariasi Panjang-pendek
Variasi berikutnya adalah variasi panjang
pendek kalimat. Paragraf yang baik sebaiknya tidak seluruhnya kalimat panjang.
Tetapi, sebaliknya paragraf itu juga tidak terdiri atas kalimat-kalimat yang
pendek semua. Kalimat panjang merupakan hasil perluasan atau penggabungannya
dari klausa.
Daftar Pustaka :
Markhamah,
dkk. 2009. Analisis Kesalahan dan Kesatunan
Berbahasa. Surakarta:Muhammadiyah University Press.
Pateda, Mansoer. 1989. Analisis Kesalahan. Flores:Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia:
Teori dan Praktik. Surakarta: Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur, Djago Tarigan. 1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar