Rabu, 21 Oktober 2015

Perbandingan 4 Buku Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia

Nama : Fernanda Yusi Listeani
NIM : 2222121726
Kelas : VII D



BAB III

Ketika seseorang menyusun atau memperoduksi kalimat, pasti memikirkan kalimat tersebut berterima atau tidak. Kalimat harus memiliki kepaduan kata, maksudnya perpaduan hubungan makna antara unsur satu dengan unsur yang lainnya. Sedangkan keterpaduan kalimat merupakan kesatuan antara unsur kalimay yang satu dengan unsur kalimat yang lain. Unsur-unsur tersebut adalah subjek dengan predikat, dengan objek atau pelengkap, dan dengan unsur keterangan. Ada beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan supaya pemakaian bahasa dapat menyusun kalimat yang terpadu (Markhamah,dkk.2009:45), terdiri atas:
1)      Tidak meletakan keterangan yang berupa klausa diantara S (subjek) dan P (predikat). Keterangan yang berupa klausa adalah keterangan yang terdiri atas subjek klausa dan predikat klausa. Jadi, klausa tidak diletakan antara subjek dan predikat. Kalimat tersebut tidak akan berterima, seperti contoh: para nelayan ketika tiba di tengah lautan yang luas dan dalam segera melakukan aktivitas pencarian ikan sebagaimana biasanya. Pola kalimat tersebut S-K-P-O.
2)      Tidak meletakan keterangan aspek di depan S. keterangan aspek merupakan keterangan yang menyatakan aspek. Aspek adalah kategori gramatikal verba yang menunjukan lamanya dan jenisnya perbuatan; apakah mulai selesai, sedang berlangsung, berulang dll. Jika keterangan di depan subjek maka akan terjadi kalimat seperti berikut, Akan saya menanti kedatangan Tuan. Kata akan, sedang, dan telah merupakan keterangan aspek.
3)      Tidak mendapatkan keterangan aspek di antara pelaku dan pokok kata kerja yang merupakan kata pasif bentuk diri.
4)      Tidak menyisipkan kata depan diantara P dan O (objek). Kata depan yang diletakan di antara P dan O dapat mengganggu kepaduan kalimat. Hal ini desebabkan karena predikat dan objek merupakan dua unsur kalimat yang sangat erat berubungan.
 Kalimat efektif merupakan kalimat yang tepat maknanya. Ketepatan makna ditentukan oleh ketepatan letak unsur-unsur kalimat yang akan memantapkan makna, bisa juga ditentukan oleh ketiadaan kata yang mubazir (Markhamah,dkk.2009:52). Kalimat yang mantap maknanya merupakan kalimat yang maknanya tidak mendua. Jadi, kalimat yang maknanya mendua (ambigu) termasuk kalimat yang tidak efektif. Sedangkan, kalimat hemat merupakan kalimat yang tidak menggunakan kata-kata yang mubazir atau kalimat yang tidak menggandung unsur-unsur yang tidak diperlukan. Untuk menyusun kalimat hemat ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu: menggindari penggunaan kata depan yang tidak perlu. Menghindari penggunaan kata yang menyatakan jamak jika sudah ada reduplikasi yang bermakna jamak atau ada kata lain yang bermakna jamak. Menghindari penyebutan unsur-unsur klausa yang sama dalam satu kalimat. Menghindari penggunaan hipernim untuk kata-kata hiponim. Menghindari kata-kata yang tidak diperlukan dalam satu kalimat.
Hipotesis analisis kontrastif menuntut serta menyatakan bahwa kesalahan berbahasa itu disebabkan oleh perbedaan sistem B1 dengan sistem B2 yang dipelajarinya. Paling tidak, perbedaan kedua bahasa itu dapat digunakan sebagai landasan untuk memprediksi kesalahan berbahasa yang akan dibuat oleh siswa. Ada pakar pengajaran bahsa yang mengemukakan bahwa Anakes mempunyai langkah-langkah yang meliputi; pengumpulan sampel; pengidentifikasi kesalahan; penjelasan kesalahan; pengklasifikasi kesalahan; pengevaluasian kesalahan. Analisis kesalahan adalah suatu prosedur kerja yang biasa digunakan oleh para peneliti dan guru bahasa yang meliputi pengumpulan sampel; pengidentifikasi kesalahan yang terdapat pada sampel; penjelasan kesalahan; pengklasifikasi kesalahan berdasarkan penyebabnya; pengevaluasian kesalahan (Tarigan,Tarigan.1995:68). Metodologi analisis kesalahan yang ideal mencakup; mengumpulkan data kesalahan; mengidentifikasi dan mengklasifikasi kesalahan; memperingkat kesalahan; menjelaskan kesalahan; memprakirakan daerah rawan kesalahan; dan mengeroksi kesalahan. Jadi prosedur Anakes tidak akan keluar dari sirkulasi tersebut, karena proses satu dengan yang lainnya saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Adapun Analisis kesalahan bertujuan untuk menentukan urutan penyajian butir-butir yang diajarkan dalam kelas dan buku teks, menentukan urutan jenjang relatif penekanan, penjelasan dan latihan berbagai butir yang diajrkan, merencanakan latihan dan pengajaran remedial, memilih butir-butir bagi pengujian kemahiran siswa.
Menurut Tarigan,Tarigan, (1995:96) analisis kesalahan mendasar prosedur kerja kepada data yang actual dan masalah yang nyata. Anakes dianggap lebih efesien dan ekonomis dalam penyusunan rencana strategi pengajaran. Anakes dapat berfungsi sebagai dasar pengajian prediksi Anakon dan sekaligus sebagai pelenglengkap hasil Anakon. “L1 independent errors” disebabkan oleh pelbagai faktor diantaranya; strategi belajar, teknik pengajaran, folklore bahasa kedua, usia dwibahasaan, dan status sosiolinguistik siswa.
Kita mengetahui tataran linguistik terdiri atas, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Pada tataran fonologi mengalami kesalahan, kesalahan yang mudah piberbaiki maupun kesalahan yang sulit diperbaiki. Kesalahan fonologi berhubungan dengan pelafalan dan penulisan bunyi bahasa. Seperti, orang Gorontalo tidak mengenal bunyi [f], yang dikenal [p], itu sebabnya semua kata yang mengandung bunyi [f] akan dilafalkan [p]. Misalnya, falem dan fatihah dilafalkan palem dan patihah. Kesalahan pada bidang morfologi berhubungan dengan tata bentuk kata. Menurut Setyawati (2010:25) kesalahan berbahasa Indonesia dalam tataran fonologi dapat terjadi baik penggunaan bahasa secara lisan maupun tertulis. Sebagian besar kesalahan berbahasa Indonesia dalam tataran fonologi berkaitan dengan pelafalan. Bila kesalahan pelafalan tersebut dituliskan, maka terjadilah kesalahan berbahasa dalam ragam tulis. Berikut beberapa kesalahan pelafalan yang meliputi perubahan fonem, perubahan fonem terjadi pada fonem vokal dan fonem konsonan. Perubahan fonem vokal seperti: fonem /a/ dilafalkan menjadi /ê/, /i/,/o/, fonem /ê/ dilafalkan menjadi /a/ dll. Sedangkan, perubahan fonem konsonan seperti fonem /b/ dilafalkan menjadi /p/, fonem /d/ menjadi /t/, fonem /f/ menjadi /p/ dll. Perubahan pelafalan kata atau singkatan, terkadang pelafalan masih terpengaruh oleh bahasa daerah atau lafal bahasa asing. Padahal, semua singkatan yang terdapat pada bahasa Indonesia harus dilafalkan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini juga menyebabkan perubahan fonem.
Kesalahan pelafalan karena penghilangan fonem, pemakaian bahasa sering menghilangkan bunyi tertentu sebuah kata, yang mengakibatkan justru pelafalan tersebut menjadi salah atau tidak benar. Adapun penghilangan fonem ini terjadi pada fonem vokal  pada lafal baku ‘pena’ menjadi ‘pen’ dan fonem konsonan pada lafal baku ‘seks’ menjadi ‘sek’(Setyawati,2010:40). Dan kesalahan pelafalan karena penambahan fonem, pelafalan kesalahan dikarenakan pemakaian bahasa tersebut menambahkan fonem tertentu pada kata-kata yang diucapkan. Adapunpenambahan fonem ini terjadi pada fonem vokal pada lafal baku ‘mars’ menjadi ‘mares’ dan fonem konsonan pada lafal baku ‘wudu’ menjadi ‘wudhu’(Setyawati,2010:45).
Dalam bahasa Indonesia kesalahan pada bidang morfologi akan menyangkut derivasi, diksi, kontaminasi, dan pleonasme. Ini semua berhubungan dengan kosa kata. Misalkan “pada zaman dahulu kala orang tinggal di hutan” seharusnya, pada ‘zaman dahulu…’, ‘atau dahulu…’, atau ‘dahulu kala…’. Kesalahan pada daerah sintaksis berhubungan erat dengan kesalahan pada bidang morfologi, karena kalimat berunsurkan kata-kata itu sebabnya daerah kesalahan sintaksis berhubungan misalnya dengan kalimat yang berstuktur tidak baku, kalimat ambigu, kalimat tidak jelas, diksi yang tidak tepat membentuk kalimat, kontaminasi kalimat, koherensi, kalimat mubazir, kata serapan yang digunakan di dalam kalimat, dan logika kalimat. Sedangkan kesalahan semantik berhubungan dengan pemahaman makna kata dan ketepatan pemakaian kata itu dalam bertutur. Misalnya kata ‘acuh’ bermakna peduli, mengindahkan. Dan kesalahan memfosil, kesalahan ini tidak berkaitan dengan daerah kesalahan, tapi menyangkut sifat kesalahan. Kesalahan yang berhubungan dengan kaidah bahasa dan kesalahan itu sendiri telah tinggal sebagai potensi yang sewaktu-waktu akan muncul performansi oleh karena itu kesalahan itu sudah menjadi potensi, kesalahan tersebut menjadi biasa dan lama-kelamaan tidak dianggap kesalahan lagi. Fosilisasi adalah bentuk-bentuk linguistik yang salah, tetapi karena bentuk-bentuk itu selalu digunakan, kesalahan itu dianggap biasa. Adapun kenyataan yang berlaku dalam bahasa Indonesia, kesalahan memfosil disebabkan karena, kesadaran penutur bahasa, peranan media, dan para pemimpin masyarakat turut memelihara kesalahan. (Pateda,1989:50-66)

Daftar Pustaka :
Markhamah,dkk. 2009. Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa. Surakarta : Muhammadiyah University Press.
Pateda, Mansoer.1989. Analisis Kesalahan. Flores : Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Teori Dan Praktik. Surakarta : Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur.,dan Djago Tarigan. 1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar