Selasa, 20 Oktober 2015

PERBANDINGAN ANTARA EMPAT BUKU MENGENAI ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA (MAHIYAH-2222120055)



Nama         : Mahiyah
NIM          : 2222120055
Kelas         : 7A Pendidikan Bahasa Indonesia
MK            : Analisis Kesalahan Berbahasa


BAB I
Pada bab 1 dalam buku Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa Karya Henry Guntur Tarigan dijelaskan bahwa untuk memahami kesalahan berbahasa juga harus memahami pengajaran bahasa, pemerolehan bahasa, kedwibahasaan, dan interferensi. Keempat hal tersebut saling berkaitan baik langsung maupun tidak langsung. Pemerolehan bahasa ada dua yaitu pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua. Pemerolehan bahasa pertama diperoleh dalam situasi alamiah yaitu dalam lingkungan keluarga. Sedangkan pemerolehan bahasa kedua itu dapat diperoleh secara alamiah maupun ilmiah, karena dilakukan seseorang ketika sudah menguasai bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa kedua tersebut termasuk dalam pengajaran bahasa karena dapat diperoleh dalam lingkungan formal.
Setelah pemerolehan bahasa dan pengajaran bahasa didapat maka akan terjadi kedwibahasaan, yaitu seseorang memiliki kemampuan untuk menggunakan dua bahasa atau lebih. Pengertian kedwibahasaan berbeda-beda sesuai dengan tuntutan perkembangan situasi. Berkat kemampuan menggunakan dua bahasa atau lebih tersebut, kontak bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2) orang yang dwibahasawan tersebut akan saling memengaruhi bahasa yang akan diujarkannya sehingga akan terjadi interfernsi. Interferensi yaitu penggunaan sistem B1 dalam menggunakan B2, sedangkan sistem B1 dan B2 tersebut tidak sama. Saling pengaruh ini juga dapat mengakibatkan transfer positif dan transfer negatif. Transfer positif dapat terjadi jika sistem bahasa yang digunakan itu bersamaan, sedangkan transfer negatif dapat terjadi jika sistem bahasa yang digunakan itu berlainan. Transfer negatif inilah yang memicu terjadinya kesalahan berbahasa. Transfer negatif lebih dikenal dengan interferensi. 
Pada buku karya Markhamah, dkk yang berjudul Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa, saya menemukan bahwa buku ini menjelaskan hal-hal yang mendasari penellitian dan penulisan buku ajar. Selain itu juga dijelaskan sistematika penulisan buku dari bab I sampai bab VII. Lebih tepatnya pada bab 1 buku  ini menjelaskan latar belakang ditulisnya buku. Penulis tertarik mengkaji mengenai kesantunan berbahasa dalam teks terjemahan Al Quran yang mengandung etika berbahasa. Penulis ingin mengetahui sejauh mana kesantunan berbahasa didalam teks itu sendiri. Piranti-piranti apakah yang digunakan untuk menyatakan kesantunan berbahasa dalam teks itu.
Penulis juga menjelaskan bahwa ada dua sisi yang perlu mendapatkan perhatian ketika seseorang berkomunikasi, yaitu bahasa dan sikap. Sikap yang dimaksud adalah ketika seseorang berbahasa atau berkomunikasi dengan orang lain maka harus memperhatikan gerak-gerik yang dilakukannya. Namun, pada kenyataannya bahasa yang santun tidak dipraktikkan dalam pergaulan sehingga bahasa yang muncul itu untuk menyakiti, mengejek, mengancam, dan lain sebagainya. Hal ini yang membuat orang Indonesia yang mayoritas Islam perlu mendapatkan pola yang bersumberkan Al Quran dan Hadits agar mampu mencipatkan pergaulan yang baik di masyarakat. 
Buku selanjutnya yaitu buku yang berjudul Analisis Kesalahan karya Mansoer Pateda dalam pendahuluannya dijelaskan bahwa ada salah satu disiplin ilmu yang dikembangkan oleh manusia, yaitu linguistik. Didalam linguistik terdapat hal yang menarik untuk dikaji. Salah satunya yaitu analisis kesalahan. Setelah itu, barulah disampaikan materi sub bab mengenai analisis kesalahan sebagai bagian linguistik dan analisis kontrastif dan analisis kesalahannya. Buku ini langsung mengacu pada materi yang ingin dibahas dengan berlatar belakang bahwa analisis kesalahan tersebut sebagai bagian dari disiplin ilmu linguistik yang menarik untuk dikaji.
Materi yang terdapat dalam buku ini yaitu bahwa linguistik merupakan studi bahasa secara ilmiah. Salah satu subdisiplin linguistik yang dilihat dari segi pembidangnya yaitu linguistik terapan. Menurut Pateda linguistik terapan adalah subdisiplin linguistik yang menerapkan teori-teori linguistik dalam kegiatan praktis. Selanjutnya, analisis kontrastif sebagai suatu pendekatan berbahasa mengasumsikan bahwa bahasa ibu memengaruhi si terdidik ketika mempelajari bahasa kedua. Hal ini sering dialami, karena secara tidak sadar bahasa ibu memengaruhi bahasa kedua kita. 
Pada buku yang berjudul Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik karya Nanik Setyawati, dalam bagian pendahuluan dijelaskan mengenai ragam bahasa, bahasa Indonesia sebagai ragam ilmu, dan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia memiliki dua kedudukan, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa daerah. Berdasarkan kedudukannya, sebagai bahasa negara. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi negara, bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, bahasa resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional, baik untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan maupun untuk kepentingan pemerintahan, dan bahasa resmi didalam kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Berdasarkan fungsi tersebut, bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi yang dipakai untuk keperluan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi. Keanekaragaman pemakaian bahasa itulah yang disebut dengan ragam bahasa.
Ragam bahasa ilmu digunakan oleh para kaum terpelajar di seluruh pelosok tanah air. Pada hakikatnya tidak ada bahasa yang kedudukannya lebih tinggi dan tidak ada kalimat yang tidak benar atau kurang tepat. Karena yang paling berperan dalam kegiatan berbahasa adalah pemakai bahasa tersebut. Dengan demikian, benar salahnya bahasa yang digunakan seseorang ditentukan oleh orang yang menggunakan bahasa tersebut. 
                 

BAB II
                  Pada bab 2 dalam buku Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa Karya Henry Guntur Tarigan dijelaskan mengenai analisis kontrastif, materi ini sudah dijelaskan terlebih dahulu dalam buku yang berjudul Analisis Kesalahan karya Mansoer Pateda pada bab 1. Menurut Tarigan dalam buku Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa, analisis kontrastif adalah kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dan struktur B2 untuk mengidentifikasi perbedaan-perbedaan kedua bahasa itu. Dalam analisis kontrastif terdapat dua hipotesis, yaitu hipotesis bentuk lemah dan hipotesis bentuk kuat. Hipotesis bentuk kuat menyatakan bahwa semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan mengidentifikasi perbedaan antara B1 dan B2 yang dipelajari. Sedangkan hipotesis bentuk lemah menyatakan bahwa anakon hanyalah bersifat diagnostik belaka. Oleh karena itu, anakon dan anakes (analisis kesalahan) harus saling melengkapi. Anakes mengidentifikasi kesalahan di dalam korpus bahasa siswa, kemudian anakon menetapkan kesalahan mana yang termasuk ke dalam kategori yang disebabkan oleh perbedaan B1 dan B2.
                  Pada bab 2 buku karya Markhamah, dkk yang berjudul Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa, dijelaskan mengenai kalimat efektif. Ketika berkomunikasi secara lisan seseorang harus memperhatikan kalimat yang diucapkannya. Hal ini dilakukan agar lawan bicara dapat memahami kalimat yang diucapkan tersebut. Begitu pula dalam berkomunikasi secara tertulis. Kita juga harus memperhatikan kalimat-kalimat yang ditulis agar orang yang membaca tulisan dapat memahami maksud yang kita sampaikan. Dengan demikian,  baik kalimat yang kita ujarkan maupun yang kita tulis hendaknya merupakan kalimat efektif.
                  Kalimat efektif memiliki ciri-ciri tertentu yaitu ciri gramatikal (bidang morfologis dan sintaksis) dan ciri diktis (plihan kata). Pilihan kata tersebut berupa kata tutur, kata-kata bersinonim, kata yang bernilai rasa, kata-kata/ istilah asing, kata-kata kongkret dan abstrak, kata umum dan khusus, kata yang bersifat idiomatik, dan kata-kata yang lugas.   Kalimat efektif juga harus memenuhi penalaran dan keserasian.    
                  Buku yang berjudul Analisis Kesalahan karya Mansoer Pateda pada bab 2 menjelaskan mengenai jenis kesalahan. Kesalahan merupakan penyimpangan yang bersifat sistematis yang dilakukan oleh terdidik ketika ia menggunakan bahasa. Ada beberapa jenis kesalahan yaitu kesalahan acuan (kesalahan menunjuk atau meminta sesuatu), kesalahan register (kesalahan yang berhubungan dengan bidang pekerjaan seseorang), kesalahan sosial (kesalahan dalam penggunaan atau pemilihan kata yang berkaitan dengan status sosial lawan bicara), kesalahan tekstual (kesalahan yang disebabkan oleh tafsiran yang keliru terhadap kalimat atau wacaa yang didengar), kesalahan penerimaan (berhubungan dengan keterampilan menyimak atau membaca), kesalahan pengungkapan (kesalahan menyampaikan apa yang dipikirkan), kesalahan perorangan (kesalahan yang dibuat oleh seseorang diantara kawan-kawannya), kesalahan kelompok (kesalahan yang dibuat oleh kelompok yang homogen misalnya yang mempunyai bahasa ibu dan latar belakang sosial yang sama), kesalahan menganalogi (kesalahan dalam menerapkan bentuk bahasa yang dipelajari), kesalahan transfer (kebiasaan pada bahasa pertama yang diterapkan pada bahsa yang dipelajari), kesalahan guru (kesalahan yang berhubungan dengan teknik dan metode pengajaran yang dilakukan oleh guru), kesalahan lokal (kesalahan yang disebabkan oleh penggunaan bahasa yang biasa digunakan di daerah tertentu kemudian digunakan untuk berkomunikasi dengan orang di daerah lain), dan kesalahan global (kesalahan karena efek makna seluruh kalimat).  
                  Pada bab 2 dalam buku Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik karya Nanik Setyawati menjelaskan bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang artinya bernuansa dengan kesalahan yaitu penyimpangan, pelanggaran, dan kekhilafan. Kesalahan berbahasa berkaitan dengan faktor-faktor penentu dalam komunikasi dan berkaitan dengan aturan atau kaidah kebahasaan yang dikenal dengan istilah tata bahasa. Dengan kata lain, kesalahan berbahasa adalah  penggunaan bahasa baik secara lisan maupun tertulis yang menyimpang dari faktor-faktor penentu berkomunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan kaidah tata bahasa Indonesia.
                  Kesalahan berbahasa disebabkan oleh pengaruh bahasa yang lebih dahulu dikuasainya, kekurangpahaman pemakai bahasa dengan bahasa yang dipakainya, dan pengajaran bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna. Kesalahan berbahasa perlu dianalisis, karena analisis kesalahan merupakan sebuah proses yang didasarkan pada analisis kesalahan orang yang sedang belajar dengan objek (bahasa) yang sudah ditargetkan.
                  Adapun klasifikasi kesalahan berbahasa yaitu berdasarkan tataran linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan wacana), berdasarkan kegiatan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), berdasarkan sarana atau jenis bahasa yang digunakan (lisan dan tertulis), berdasarkan penyebab kesalahan berbahasa (pengajaran dan interferensi), dan berdasarkan frekuensi terjadinya (paling sering, sering, sedang, kurang, dan jarang).
    

  
BAB III
Pada bab III dalam buku Pengajaran Analisa Kesalahan Berbahasa karya Henry Guntur Tarigan dijelaskan bahwa kesalahan berbahasa yang sering dibuat oleh siswa harus dikurangi kalau bisa dihapuskan sama sekali. Hal ini dapat dicapai ketika kesalahan tersebut dikaji secara mendalam. Pengkajian dari segala aspek itulah yang disebut analisis kesalahan. Analisis kesalahan tentu saja mempunyai beberapa langkah kerja, yaitu pengumpulan sampel kesalahan, pengidentifikasian kesalahan, penjelasan kesalahan, pengklasifikasian kesalahan dan pengevaluasian kesalahan.
Analisis kesalahan juga mempunyai tujuan, yaitu untuk menentukan urutan bahan ajaran, menentukan urutan jenjang penekanan bahan ajaran, merencanakan latihan dan pengajaran remedial, dan memilih butir pengujian kemahiran siswa. Selain itu analisis kesalahan memiliki metodologi yang ideal yaitu mengumpukan data kesalahan, mengidentifikasi dan mengklasifikasi kesalahan, memperingkat kesalahan, mempraktikan daerah rawan kesalahan, dan mengoreksi kesalahan.
Analisis kesalahan (anakes) memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan anakes, yaitu dapat menjelaskan kesaahan  siswa, mengangkat martabat linguistik terapan, dan mengangkat status kesalahan (yang selama ini tidak disenangi) menjadi objek penelitian khusus. Sedangakan kelemahan anakes, yaitu adanya kekacauan antara aspek proses dan aspek produk anakes (antara pemberian kesalahan dengan penjelasan kesalahan), kurangnya/tidak adanya ketepatan dan kekhususan dalam definisi kategori-kategori kesalahan, dan penyederhanaan kategorisasi penyebab kesalahan siswa.
Menurut Markhamah, dkk dalam bukunya membahas mengenai kepaduan dan ketetapan makna. Ciri kalimat efektif yang lain yaitu adanya kepaduan unsur-unsur yang ada pada suatu kalimat. Yang dimaksud dengan kepaduan disini adalah adanya hubungan makna antar satu unsur kalimat dengan unsur kalimat lainnya. Kepaduan ini dapat disejajarkan dengan koherensi dalam paragraf. Perbedaannya kalau koherensi dalam paragraf, kepaduan yang dimaksud adalah kepaduan antara kalimat satu dengan yang lain. Sementara itu, kepaduan kalimat adalah kesatuan antara unsur kalimat yang satu dengan unsur kalimat yang lain. Unsur-unsur kalimat yang dimaksud yaitu subjek dengan predikat, dengan objek atau pelengkap, dan dengan unsur keterangan.
Ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam menyusun kalimat yang padu, yaitu:
1.        Tidak meletakkan keterangan yang berupa klausa di antara S (subjek) dan P (predikat).
2.        Tidak meletakkan keterangan aspek d depan S
3.    Tidak menempatkan keterangan aspek diantara pelaku dan pokok kata kerja yang merupakan kata kerja pasif bentuk diri.
4.        Tidak menyisipkan kata depan di antara P dan O (objek)
Kalimat efektif adalah kalimat yang yang tepat maknanya. Ketepatan makna ditentukan oleh ketepatan letak unsur-unsur kalimat dan ketiadaan kata yang mubazir (kalimat hemat). Kalimat yang mantap maknanya merupakan kalimat yang maknanya jelas dan tidak mendua (ambigu). Untuk mencapai makna yang mantap, penutur atau penulis perlu menempatkan unsur-unsur kalimat pada tempat yang tepat, dan unsur-unsur yang seharusnya ada tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya, unsur-unsur yang tidak diperlukan tidak usah disisipkan dalam kalimat.
Kalimat hemat merupakan kalimat yang tidak mengunakan kata-kata yang mubazir. Untuk menyusun kalimat hemat ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1.      Menghindari penggunaan kata depan yang tidak perlu.
2.      Menghindari penggunaan kata yang menyatakan jamak jika sudah ada reduplikasi yang bermakna jamak atau kata lain yang bermakna jamak
3.      Menghindari penyebutan unsur-unsur klausa yang sama dalam satu kalimat
4.      Menghindari penggunaan hipermim untuk kata-kata hiponim
5.      Menghindari penggunaan kata-kata yang tidak diperlukan dalam satu kalimat
Dalam buku Analisis Kesalahan karya Mansoer Paterda membahas mengenai daerah dan sifat kesalahan. Ada beberapa kesalahan yaitu:
1.      Daerah kesalahan fonologi
Kesalahan fonoogi berhubungan dengan pelafalan dan penulisan bunyi bahasa
2.      Daerah kesalahan morfologi
Kesalahan dalam bidang morfologi berhubungan dengan tata bentuk kata, seperti derivasi, diksi, kontaminasi, dan pleonasme.
3.      Daerah kesalahan sintaksis
Kesalaha dalam daerah sintaksis berhubungan dengan kesalahan daerah morfologi, karena kalimat ber unsurkan kata-kata. Itu sebabnya daerah kesalahan sintaksis berhubungan dengan kalimat yang berstruktur tidak baku, kalimat yang ambigu, kalimat yang tidak jelas, diksi yang tidak tepat yang membentuk kalimat,  kontaminasi kalimat, koherensi, kata serapan yang digunakan di dalam kalimat, dan logika kalimat.
4.      Daerah kesalahan semantis
Semantis adalah studi tentang makna. Daerah kesalahan semantis berhubungan dengan makna yang terdapat dalam sebuah kalimat.
5.      Kesalahan memfosil
Kesalahan memfosil tidak berkaitan dengan daerah kesalahan, tetapi menyangkut sifat kesalahan. Fosilisasi adaah bentuk-bentuk linguistik yang salah, tetapi karena bentuk-bentuk itu selalu digunakan, kesalahan seperti itu dianggap biasa. Kesalahan memfosil dapat terjadi disebabkan oleh kurangnya kesadaranpenutur bahasa dalam bertanggungjawab dalam pembinaan bahasa, peranasan mass-mediaI, baik yang elektronik maupun yang no elektronik, dan para pemimpin masyarakat turut memelihara kelasahan itu.

Dalam buku Nanik Setyawati, M. Hum., ia membahas kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi dapat terjadi baik penggunaan bahasa secara lisan maupun secara tertulis. Sebagian besar kesalahan berbahasa Indonesia dalam tataran fonologi berkaitan dengan pelafalan. Jika pelafalan tersebut dituliskan maka terjadilah kesalahan berbahasa dalam ragam tulis. Kesalahan pelafalan meliputi perubahan fonem, penghilangan fonem, dan penambahan fonem.
Contoh perubahan fonem vokal
a.    Fonem /a/ dilafalkan /ê/
Misal:  
Lafal Baku                Lafal Tidak Baku
Akta                           Aktê
Dapat                         Dapêt
Kamis                        Kêmis

b.    Fonem /a/ dilafalkan /i/
Misal:
Lafal Baku                Lafal Tidak Baku
Mayat                        Mayit
Moral                        Moril
Operasional               Operasionil

Contoh fonem konsonan
a.       Fonem /b/ dilafalkan menjadi /p/
Misal:
Lafal Baku                Lafal Tidak Baku
Mujarab                     Mujarap
Nasib                         Nasip
Rajab                         Rajap

b.      Fonem /d/ dilafalkan menjadi /t/
Misal:
Lafal Baku                Lafal Tidak Baku
Masjid                       Masjit
Murid                        Murit
Sujud                        Sujut
Tekad                        Tekat

Selain perubahan fonem, juga ada perubahan pelafalan kata atau singkatan. Kadang-kadang kita ragu saat melafalkan singkatan dalam bahasa indonesia. Keraguan itu disebabkan oleh pengaruh lafal bahasa daerah atau bahasa asing. Padahal semua kata atau singkatan yang terdapat dalam bahasa Indonesia (termasuk singkatan yang berasal dari bahasa asing harus diafalkan secara lafal indonesia)
Contoh:
Singkatan                       Lafal baku                               Lafal Tidak Baku
a.n                                  atas nama                                a en
Bpk.                               Bapak                                      be pe ka
dst.                                 dan seterusnya                        de es te
Sdr.                                Saudara                                   es de er
AC                                 Ace                                          a se

Pemakai bahasa sering menghilangkan bunyi tertentu pada sebuah kata, yang mengakibatkan pelafalan tersebut menjadi salah atau tidak benar. Berikut ini contoh kesalahan pelafalan karena penghilangan fonem.
-          Penghilangan fonem lokal
a.    Penghilangan fonem /a/
Misal:
Lafal Baku                     Lafal Tidak Baku
Makaroni                        Makroni
Parabola                         Parabol
Pena                               Pen

b.      Penghilangan fonem /e/
Misal:
Lafal Baku                     Lafal Tidak Baku
Jenderal                          Jendral
Karier                             Karir
Majelis                           Majlis
Sutera                             Sutra
Terampil                         Trampil

-          Penghilangan fonem vokal rangkap menjadi fonem tungga
Contoh:
Fonem /ai/ dilafalkan menjadi /e/
Lafal Baku                          Lafal Tidak Baku
Andai                                  Ande
Pantai                                  Pante
Pandai                                 Pande
Ramai                                 Rame


-          Penghilangan deret vokal menjadi vokal tunggal
Contoh:
Deret vokal /ei/ dilafalkan menjadi /e/
Lafal Baku                          Lafal Tidak Baku
Pleidoi                                Pledoi
Survei                                 Surve

-        Penghilangan gugus konsonan
Contoh:
Penghiangan gugus konsonan /kh/ menjadi /h/
Lafal Baku                          Lafal Tidak Baku
Makhluk                             Mahluk
Takhta                                 Tahta
Tarikh                                 Tarih
Terdapat pula kesalahan pelafalan karena penambahan fonem tertentu pada kata-kata yang diucapkan.
Contoh:
-     Penambahan fonem vokal
a.    Penambahan fonem vokal /a/
Misal:
Lafal Baku                        Lafal Tidak Baku
Narkotik                           Narkotika
Narwastu                          Narawastu
Rohaniwan                       Rohaniawan

b.    Penambahan fonem /e/
Misal:
Lafal Baku                        Lafal Tidak Baku
Mantra                              Mantera
Mantri                              Manteri
Mars                                 Mares

-     Penambahan fonem konsonan
Misal:
a.         Penambahan fonem /d/
Lafal Baku                     Lafal Tidak Baku
Stan                                Stand
Standar                          Standard

b.        Penambahan fonem /h/
Misal:
Lafal Baku                     Lafal Tidak Baku
Magrib                           Maghrib
Nakhoda                         Nakhohda
Percumah                       Percumah

-     Pembentukan deret vokal
a.         Pembentukan deret vokal /ai/ dari vokal /e/
Misal:
Lafal Baku                                 Lafal Tidak Baku
Primer                                        Primair
Sekunder                                    Sekundair
Syeikh                                        Syaikh

-     Pembentukan gabungan atau gugus konsonan fonem konsonan tunggal
Misal:
Lafal Baku                            Lafal Tidak Baku
Sandiwara                             Sandhiwara
Weda                                    Wedha



 
BAB IV

Pada bab IV dalam buku Prof. Henry Guntur Tarigan membahas mengenai antar bahasa atau interlanguage. Antarbahasa atau interlanguage menjadi lebih banyak dipakai dalam kepustakaan dewasa ini, mungkin karena lebih netral bagi pengarahan sikap. Adapun alasan-alasan istilah antarbahasa cocok dan serasi, yaitu karena istilah antarbahasa telah mencakup status yang tidak menentkan dari sistem sang pembelajar antarbahasa aslinya dan bahasa sasaran. Istilah antar bahasa menggambarkan “kecepatan yang tidak normal” yang dapat bertindak sebagai sarana pengubah bahasa pembelajar. Selain itu, berpusat pada istilah “bahasa”, maka secara eksplisit istilah antarbahasa ini mengakui dan menghargai hakikat performansi pembelajar yang sistematik dan taat kaidah.
Istilah antarbahasa mengacu kepada seperangkat sistem yang saling berpautan yang memberi ciri kepada pemerolehan, sistem yang dapat diawasi/dapat diobservasi pada perkembangan, dan kombinasi bahasa ibu/bahasa sasaran tertentu.
Proses antarbahasa mencakup:
a.       Transfer bahasa
b.      Transfer latihan
c.       Siasat pembelajaran B2
d.      Siasat komunikasi B2
e.       Overegeneralisasi kaidah-kaidah bahasa sasaran
Adapaun telaah antarbahasa bertujuan untuk:
a.       Memberi informasi perilaku pembelajar bagi perencanaan strategi pedagogik
b.      Bertindak sebagai prasyarat bagi validasi tuntutan keras dan tuntutan lemah pendekatan kontrastif
c.       Mencari hubuungan antara pembelajaran masa kini, dulu dan nanti
d.      Memberi sumbangan bagi teori linguistik umum
Dalam buku Markhamah, dkk, keefektifan kalimat selain dilihat dari ciri gramatikal, keselarasan, kepaduan dan kehematan juga dilihat dari kevariasian. Kevariasian dapat menghindarkan pendengar maupun pembaca dari kebosanan. Soedjito membedakan variasi urutan adalah urutan unsur-unsur fungsi yang berbeda. Berbeda urutan yang dimaksud adalah urutan biasa dan urutan inversi. Adapun variasi berdasarkan jenis kalimat dibedakan menjadi dua. Pertama, variasi antara aktif dan pasif yang disebut variasi aktif-pasif. Kedua, variasi antara kalimat berita dengan kalimat perintah dan dengan kalimat tanya. Variasi kedua ini disebut variasi berita-perintah-tanya.
Sedangkan dalam buku Mansore Pateda membahas sumber penyebab kesalahan. Kesalahan bersumber pada ketidakhati-hatian. Si terdidik dan yang lain karena pengetahuan mereka terhadap bahasa yang dipelajari, dan interferensi. Kesalahan bersumber pada pemilihan bahan pengajaran, contoh bahasa yang digunakan sebagai bahan dan si terdidik.
Istilah bahasa ibu biasanya disebut dengan first language. Bahasa ibu mempengaruhi proses belajar bahasa kedua, dengan kata lain bahasa ibu menjadi salah satu sumber dan sekaligus sebagai penyebab kesalahan.
Sumber dan penyebab kesalahan juga dapat dari lingkungan. Lingkungan yang dimaksud disini adalah lingkungan yang turut mempengaruhi penguasaan bahasa si terdidik. Lingkungan ini meliputi lingkungan di rumah, di sekolah dan lingkungan di masyarakat. Kita mengetahui bahwa si terdidik tidak hidup sendirian. Setiap hari ia bergaul dengan sesama temannya.
Selain lingkungan, juga dari kebiasaan. Kebiasaan bertaian dengan pengaruh bahasa ibu dan lingkungan. Si terdidik terbiasa dengan pola-pola bahasa yang didengarnya. Oleh karena itu, pola atau bentuk yang sudah menjadi kebiasaan, kesalahan sulit dihilangkan. Selanjutnya ada interlingual dan interferensi. Interlingual merupakan perspektif belajar si terdidik. Perspektif belajar yang dimaksud memberikan proses yang dapat diusahakan agar proses bahasa kedua berjalan dengan baik. Interferensi yaitu disebut juga transfer negatif. Transfer negatif adalah kesalahan akibat sistem bahasa pertama berbeda sekali dengan sistem bahasa yang sedang dipelajari.
Dalam buku karya Nanik Setyawati, M. Hum., pada bab IV mmbahas mengenai kesalahan berbahasa dalam bidang morfologi. Kesalahan berbahasa dalam tataran morfoogi disebabkan oleh berbagai hal. Klasifikasi kesalahan berbahasa dalam tataran morfologi antara lain:
a.    Penghilangan afiks
b.   Bunyi yang seharusnya luluh tetapi tidak diluluhkan
c.    Peluluhan bunyi yang seharusnya tidak luluh
d.   Penggantian morf
e.    Pentingkatan morf mem-, men-, meng-, meny-, dan menge-
f.    Pemakaian afiks yang tidak tepat
g.   Penentuan bentuk dasar yang tidak tepat
h.   Penempatan afiks yang tidak tepat pada gabunga kata
i.     Pengulangan kata majemuk yang tidak tepat.

Daftar Pustaka 

 Markhamah, dkk. 2009. Analisis Kesalahan dan Kesatunan Berbahasa. Surakarta:Muhammadiyah University Press.
Pateda, Mansoer. 1989. Analisis Kesalahan. Flores:Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik. Surakarta: Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur, Djago Tarigan. 1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar