Nama :
Mahiyah
NIM :
2222120055
Kelas :
7A Pendidikan Bahasa Indonesia
MK :
Analisis Kesalahan Berbahasa
BAB
I
Pada
bab 1 dalam buku Pengajaran Analisis
Kesalahan Berbahasa Karya Henry Guntur Tarigan dijelaskan bahwa untuk memahami
kesalahan berbahasa juga harus memahami pengajaran bahasa, pemerolehan bahasa,
kedwibahasaan, dan interferensi. Keempat hal tersebut saling berkaitan baik
langsung maupun tidak langsung. Pemerolehan bahasa ada dua yaitu pemerolehan
bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua. Pemerolehan bahasa pertama
diperoleh dalam situasi alamiah yaitu dalam lingkungan keluarga. Sedangkan
pemerolehan bahasa kedua itu dapat diperoleh secara alamiah maupun ilmiah,
karena dilakukan seseorang ketika sudah menguasai bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa
kedua tersebut termasuk dalam pengajaran bahasa karena dapat diperoleh dalam
lingkungan formal.
Setelah
pemerolehan bahasa dan pengajaran bahasa didapat maka akan terjadi
kedwibahasaan, yaitu seseorang memiliki kemampuan untuk menggunakan dua bahasa atau
lebih. Pengertian kedwibahasaan berbeda-beda sesuai dengan tuntutan
perkembangan situasi. Berkat kemampuan menggunakan dua bahasa atau lebih
tersebut, kontak bahasa pertama (B1) dan bahasa kedua (B2) orang yang dwibahasawan
tersebut akan saling memengaruhi bahasa yang akan diujarkannya sehingga akan
terjadi interfernsi. Interferensi yaitu penggunaan sistem B1 dalam menggunakan
B2, sedangkan sistem B1 dan B2 tersebut tidak sama. Saling pengaruh ini juga
dapat mengakibatkan transfer positif dan transfer negatif. Transfer positif
dapat terjadi jika sistem bahasa yang digunakan itu bersamaan, sedangkan
transfer negatif dapat terjadi jika sistem bahasa yang digunakan itu berlainan.
Transfer negatif inilah yang memicu terjadinya kesalahan berbahasa. Transfer negatif
lebih dikenal dengan interferensi.
Pada
buku karya Markhamah, dkk yang
berjudul Analisis Kesalahan dan
Kesantunan Berbahasa, saya menemukan bahwa buku ini menjelaskan hal-hal
yang mendasari penellitian dan penulisan buku ajar. Selain itu juga dijelaskan
sistematika penulisan buku dari bab I sampai bab VII. Lebih tepatnya pada bab 1
buku ini menjelaskan latar belakang
ditulisnya buku. Penulis tertarik mengkaji mengenai kesantunan berbahasa dalam
teks terjemahan Al Quran yang mengandung etika berbahasa. Penulis ingin
mengetahui sejauh mana kesantunan berbahasa didalam teks itu sendiri.
Piranti-piranti apakah yang digunakan untuk menyatakan kesantunan berbahasa
dalam teks itu.
Penulis
juga menjelaskan bahwa ada dua sisi yang perlu mendapatkan perhatian ketika
seseorang berkomunikasi, yaitu bahasa dan sikap. Sikap yang dimaksud adalah
ketika seseorang berbahasa atau berkomunikasi dengan orang lain maka harus
memperhatikan gerak-gerik yang dilakukannya. Namun, pada kenyataannya bahasa
yang santun tidak dipraktikkan dalam pergaulan sehingga bahasa yang muncul itu
untuk menyakiti, mengejek, mengancam, dan lain sebagainya. Hal ini yang membuat
orang Indonesia yang mayoritas Islam perlu mendapatkan pola yang bersumberkan
Al Quran dan Hadits agar mampu mencipatkan pergaulan yang baik di masyarakat.
Buku
selanjutnya yaitu buku yang berjudul Analisis
Kesalahan karya Mansoer Pateda dalam pendahuluannya dijelaskan bahwa ada
salah satu disiplin ilmu yang dikembangkan oleh manusia, yaitu linguistik. Didalam
linguistik terdapat hal yang menarik untuk dikaji. Salah satunya yaitu analisis
kesalahan. Setelah itu, barulah disampaikan materi sub bab mengenai analisis
kesalahan sebagai bagian linguistik dan analisis kontrastif dan analisis
kesalahannya. Buku ini langsung mengacu pada materi yang ingin dibahas dengan
berlatar belakang bahwa analisis kesalahan tersebut sebagai bagian dari
disiplin ilmu linguistik yang menarik untuk dikaji.
Materi
yang terdapat dalam buku ini yaitu bahwa linguistik merupakan studi bahasa secara
ilmiah. Salah satu subdisiplin linguistik yang dilihat dari segi pembidangnya
yaitu linguistik terapan. Menurut Pateda linguistik terapan adalah subdisiplin
linguistik yang menerapkan teori-teori linguistik dalam kegiatan praktis.
Selanjutnya, analisis kontrastif sebagai suatu pendekatan berbahasa mengasumsikan
bahwa bahasa ibu memengaruhi si terdidik ketika mempelajari bahasa kedua. Hal
ini sering dialami, karena secara tidak sadar bahasa ibu memengaruhi bahasa
kedua kita.
Pada
buku yang berjudul Analisis Kesalahan
Berbahasa Indonesia: Teori dan Praktik karya Nanik Setyawati, dalam bagian
pendahuluan dijelaskan mengenai ragam bahasa, bahasa Indonesia sebagai ragam
ilmu, dan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia memiliki
dua kedudukan, yaitu sebagai bahasa nasional dan bahasa daerah. Berdasarkan
kedudukannya, sebagai bahasa negara. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa
resmi negara, bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan, bahasa
resmi dalam perhubungan pada tingkat nasional, baik untuk kepentingan
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan maupun untuk kepentingan pemerintahan, dan
bahasa resmi didalam kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi
modern. Berdasarkan fungsi tersebut, bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi
yang dipakai untuk keperluan yang berbeda-beda sesuai dengan situasi dan
kondisi. Keanekaragaman pemakaian bahasa itulah yang disebut dengan ragam
bahasa.
Ragam
bahasa ilmu digunakan oleh para kaum terpelajar di seluruh pelosok tanah air.
Pada hakikatnya tidak ada bahasa yang kedudukannya lebih tinggi dan tidak ada
kalimat yang tidak benar atau kurang tepat. Karena yang paling berperan dalam
kegiatan berbahasa adalah pemakai bahasa tersebut. Dengan demikian, benar
salahnya bahasa yang digunakan seseorang ditentukan oleh orang yang menggunakan
bahasa tersebut.
BAB
II
Pada bab 2
dalam buku Pengajaran Analisis Kesalahan
Berbahasa Karya Henry Guntur Tarigan dijelaskan mengenai analisis
kontrastif, materi ini sudah dijelaskan terlebih dahulu dalam buku yang
berjudul Analisis Kesalahan karya
Mansoer Pateda pada bab 1. Menurut Tarigan dalam buku Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa, analisis kontrastif adalah
kegiatan yang mencoba membandingkan struktur B1 dan struktur B2 untuk mengidentifikasi
perbedaan-perbedaan kedua bahasa itu. Dalam analisis kontrastif terdapat dua
hipotesis, yaitu hipotesis bentuk lemah dan hipotesis bentuk kuat. Hipotesis
bentuk kuat menyatakan bahwa semua kesalahan dalam B2 dapat diramalkan dengan
mengidentifikasi perbedaan antara B1 dan B2 yang dipelajari. Sedangkan
hipotesis bentuk lemah menyatakan bahwa anakon hanyalah bersifat diagnostik
belaka. Oleh karena itu, anakon dan anakes (analisis kesalahan) harus saling
melengkapi. Anakes mengidentifikasi kesalahan di dalam korpus bahasa siswa,
kemudian anakon menetapkan kesalahan mana yang termasuk ke dalam kategori yang
disebabkan oleh perbedaan B1 dan B2.
Pada bab 2 buku karya Markhamah, dkk yang berjudul Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa, dijelaskan mengenai
kalimat efektif. Ketika berkomunikasi secara lisan seseorang harus
memperhatikan kalimat yang diucapkannya. Hal ini dilakukan agar lawan bicara
dapat memahami kalimat yang diucapkan tersebut. Begitu pula dalam berkomunikasi
secara tertulis. Kita juga harus memperhatikan kalimat-kalimat yang ditulis
agar orang yang membaca tulisan dapat memahami maksud yang kita sampaikan.
Dengan demikian, baik kalimat yang kita
ujarkan maupun yang kita tulis hendaknya merupakan kalimat efektif.
Kalimat efektif memiliki ciri-ciri tertentu yaitu
ciri gramatikal (bidang morfologis dan sintaksis) dan ciri diktis (plihan
kata). Pilihan kata tersebut berupa kata tutur, kata-kata bersinonim, kata yang
bernilai rasa, kata-kata/ istilah asing, kata-kata kongkret dan abstrak, kata
umum dan khusus, kata yang bersifat idiomatik, dan kata-kata yang lugas. Kalimat efektif juga harus memenuhi
penalaran dan keserasian.
Buku yang berjudul Analisis Kesalahan karya Mansoer Pateda pada bab 2 menjelaskan
mengenai jenis kesalahan. Kesalahan merupakan penyimpangan yang bersifat
sistematis yang dilakukan oleh terdidik ketika ia menggunakan bahasa. Ada
beberapa jenis kesalahan yaitu kesalahan acuan (kesalahan menunjuk atau meminta
sesuatu), kesalahan register (kesalahan yang berhubungan dengan bidang
pekerjaan seseorang), kesalahan sosial (kesalahan dalam penggunaan atau
pemilihan kata yang berkaitan dengan status sosial lawan bicara), kesalahan
tekstual (kesalahan yang disebabkan oleh tafsiran yang keliru terhadap kalimat
atau wacaa yang didengar), kesalahan penerimaan (berhubungan dengan
keterampilan menyimak atau membaca), kesalahan pengungkapan (kesalahan
menyampaikan apa yang dipikirkan), kesalahan perorangan (kesalahan yang dibuat
oleh seseorang diantara kawan-kawannya), kesalahan kelompok (kesalahan yang dibuat
oleh kelompok yang homogen misalnya yang mempunyai bahasa ibu dan latar
belakang sosial yang sama), kesalahan menganalogi (kesalahan dalam menerapkan
bentuk bahasa yang dipelajari), kesalahan transfer (kebiasaan pada bahasa
pertama yang diterapkan pada bahsa yang dipelajari), kesalahan guru (kesalahan
yang berhubungan dengan teknik dan metode pengajaran yang dilakukan oleh guru),
kesalahan lokal (kesalahan yang disebabkan oleh penggunaan bahasa yang biasa
digunakan di daerah tertentu kemudian digunakan untuk berkomunikasi dengan
orang di daerah lain), dan kesalahan global (kesalahan karena efek makna
seluruh kalimat).
Pada bab 2 dalam
buku Analisis Kesalahan Berbahasa
Indonesia: Teori dan Praktik karya Nanik Setyawati menjelaskan bahwa dalam
bahasa Indonesia terdapat beberapa kata yang artinya bernuansa dengan kesalahan
yaitu penyimpangan, pelanggaran, dan kekhilafan. Kesalahan berbahasa berkaitan
dengan faktor-faktor penentu dalam komunikasi dan berkaitan dengan aturan atau
kaidah kebahasaan yang dikenal dengan istilah tata bahasa. Dengan kata lain,
kesalahan berbahasa adalah penggunaan
bahasa baik secara lisan maupun tertulis yang menyimpang dari faktor-faktor
penentu berkomunikasi atau menyimpang dari norma kemasyarakatan dan kaidah tata
bahasa Indonesia.
Kesalahan berbahasa disebabkan oleh pengaruh bahasa
yang lebih dahulu dikuasainya, kekurangpahaman pemakai bahasa dengan bahasa
yang dipakainya, dan pengajaran bahasa yang kurang tepat atau kurang sempurna. Kesalahan
berbahasa perlu dianalisis, karena analisis kesalahan merupakan sebuah proses
yang didasarkan pada analisis kesalahan orang yang sedang belajar dengan objek
(bahasa) yang sudah ditargetkan.
Adapun klasifikasi kesalahan berbahasa yaitu
berdasarkan tataran linguistik (fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan
wacana), berdasarkan kegiatan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis), berdasarkan sarana atau jenis bahasa yang digunakan (lisan dan
tertulis), berdasarkan penyebab kesalahan berbahasa (pengajaran dan
interferensi), dan berdasarkan frekuensi terjadinya (paling sering, sering,
sedang, kurang, dan jarang).
BAB
III
Pada
bab III dalam buku Pengajaran Analisa
Kesalahan Berbahasa karya Henry Guntur Tarigan dijelaskan bahwa kesalahan
berbahasa yang sering dibuat oleh siswa harus dikurangi kalau bisa dihapuskan
sama sekali. Hal ini dapat dicapai ketika kesalahan tersebut dikaji secara
mendalam. Pengkajian dari segala aspek itulah yang disebut analisis kesalahan.
Analisis kesalahan tentu saja mempunyai beberapa langkah kerja, yaitu
pengumpulan sampel kesalahan, pengidentifikasian kesalahan, penjelasan
kesalahan, pengklasifikasian kesalahan dan pengevaluasian kesalahan.
Analisis
kesalahan juga mempunyai tujuan, yaitu untuk menentukan urutan bahan ajaran,
menentukan urutan jenjang penekanan bahan ajaran, merencanakan latihan dan
pengajaran remedial, dan memilih butir pengujian kemahiran siswa. Selain itu
analisis kesalahan memiliki metodologi yang ideal yaitu mengumpukan data
kesalahan, mengidentifikasi dan mengklasifikasi kesalahan, memperingkat
kesalahan, mempraktikan daerah rawan kesalahan, dan mengoreksi kesalahan.
Analisis
kesalahan (anakes) memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan anakes, yaitu
dapat menjelaskan kesaahan siswa,
mengangkat martabat linguistik terapan, dan mengangkat status kesalahan (yang
selama ini tidak disenangi) menjadi objek penelitian khusus. Sedangakan
kelemahan anakes, yaitu adanya kekacauan antara aspek proses dan aspek produk
anakes (antara pemberian kesalahan dengan penjelasan kesalahan),
kurangnya/tidak adanya ketepatan dan kekhususan dalam definisi
kategori-kategori kesalahan, dan penyederhanaan kategorisasi penyebab kesalahan
siswa.
Menurut
Markhamah, dkk dalam bukunya membahas mengenai kepaduan dan ketetapan makna.
Ciri kalimat efektif yang lain yaitu adanya kepaduan unsur-unsur yang ada pada
suatu kalimat. Yang dimaksud dengan kepaduan disini adalah adanya hubungan
makna antar satu unsur kalimat dengan unsur kalimat lainnya. Kepaduan ini dapat
disejajarkan dengan koherensi dalam paragraf. Perbedaannya kalau koherensi
dalam paragraf, kepaduan yang dimaksud adalah kepaduan antara kalimat satu
dengan yang lain. Sementara itu, kepaduan kalimat adalah kesatuan antara unsur
kalimat yang satu dengan unsur kalimat yang lain. Unsur-unsur kalimat yang
dimaksud yaitu subjek dengan predikat, dengan objek atau pelengkap, dan dengan
unsur keterangan.
Ada
beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam menyusun kalimat yang padu,
yaitu:
1.
Tidak meletakkan
keterangan yang berupa klausa di antara S (subjek) dan P (predikat).
2.
Tidak meletakkan
keterangan aspek d depan S
3. Tidak menempatkan
keterangan aspek diantara pelaku dan pokok kata kerja yang merupakan kata kerja
pasif bentuk diri.
4.
Tidak menyisipkan kata depan
di antara P dan O (objek)
Kalimat
efektif adalah kalimat yang yang tepat maknanya. Ketepatan makna ditentukan
oleh ketepatan letak unsur-unsur kalimat dan ketiadaan kata yang mubazir
(kalimat hemat). Kalimat yang mantap maknanya merupakan kalimat yang maknanya
jelas dan tidak mendua (ambigu). Untuk mencapai makna yang mantap, penutur atau
penulis perlu menempatkan unsur-unsur kalimat pada tempat yang tepat, dan
unsur-unsur yang seharusnya ada tidak boleh dihilangkan. Sebaliknya,
unsur-unsur yang tidak diperlukan tidak usah disisipkan dalam kalimat.
Kalimat
hemat merupakan kalimat yang tidak mengunakan kata-kata yang mubazir. Untuk
menyusun kalimat hemat ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1.
Menghindari penggunaan
kata depan yang tidak perlu.
2.
Menghindari penggunaan
kata yang menyatakan jamak jika sudah ada reduplikasi yang bermakna jamak atau
kata lain yang bermakna jamak
3.
Menghindari penyebutan
unsur-unsur klausa yang sama dalam satu kalimat
4.
Menghindari penggunaan
hipermim untuk kata-kata hiponim
5.
Menghindari penggunaan
kata-kata yang tidak diperlukan dalam satu kalimat
Dalam
buku Analisis Kesalahan karya Mansoer
Paterda membahas mengenai daerah dan sifat kesalahan. Ada beberapa kesalahan
yaitu:
1.
Daerah kesalahan fonologi
Kesalahan
fonoogi berhubungan dengan pelafalan dan penulisan bunyi bahasa
2.
Daerah kesalahan
morfologi
Kesalahan
dalam bidang morfologi berhubungan dengan tata bentuk kata, seperti derivasi,
diksi, kontaminasi, dan pleonasme.
3.
Daerah kesalahan
sintaksis
Kesalaha
dalam daerah sintaksis berhubungan dengan kesalahan daerah morfologi, karena
kalimat ber unsurkan kata-kata. Itu sebabnya daerah kesalahan sintaksis
berhubungan dengan kalimat yang berstruktur tidak baku, kalimat yang ambigu,
kalimat yang tidak jelas, diksi yang tidak tepat yang membentuk kalimat, kontaminasi kalimat, koherensi, kata serapan
yang digunakan di dalam kalimat, dan logika kalimat.
4.
Daerah kesalahan semantis
Semantis
adalah studi tentang makna. Daerah kesalahan semantis berhubungan dengan makna
yang terdapat dalam sebuah kalimat.
5.
Kesalahan memfosil
Kesalahan
memfosil tidak berkaitan dengan daerah kesalahan, tetapi menyangkut sifat
kesalahan. Fosilisasi adaah bentuk-bentuk linguistik yang salah, tetapi karena
bentuk-bentuk itu selalu digunakan, kesalahan seperti itu dianggap biasa.
Kesalahan memfosil dapat terjadi disebabkan oleh kurangnya kesadaranpenutur
bahasa dalam bertanggungjawab dalam pembinaan bahasa, peranasan mass-mediaI, baik yang elektronik maupun
yang no elektronik, dan para pemimpin masyarakat turut memelihara kelasahan
itu.
Dalam buku Nanik
Setyawati, M. Hum., ia membahas kesalahan berbahasa dalam tataran fonologi
dapat terjadi baik penggunaan bahasa secara lisan maupun secara tertulis.
Sebagian besar kesalahan berbahasa Indonesia dalam tataran fonologi berkaitan
dengan pelafalan. Jika pelafalan tersebut dituliskan maka terjadilah kesalahan
berbahasa dalam ragam tulis. Kesalahan pelafalan meliputi perubahan fonem,
penghilangan fonem, dan penambahan fonem.
Contoh perubahan fonem vokal
a. Fonem
/a/ dilafalkan /ê/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Akta Aktê
Dapat Dapêt
Kamis Kêmis
b. Fonem
/a/ dilafalkan /i/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Mayat Mayit
Moral Moril
Operasional Operasionil
Contoh
fonem konsonan
a. Fonem
/b/ dilafalkan menjadi /p/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Mujarab Mujarap
Nasib Nasip
Rajab Rajap
b. Fonem
/d/ dilafalkan menjadi /t/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Masjid Masjit
Murid Murit
Sujud Sujut
Tekad Tekat
Selain perubahan fonem,
juga ada perubahan pelafalan kata atau singkatan. Kadang-kadang kita ragu saat
melafalkan singkatan dalam bahasa indonesia. Keraguan itu disebabkan oleh
pengaruh lafal bahasa daerah atau bahasa asing. Padahal semua kata atau
singkatan yang terdapat dalam bahasa Indonesia (termasuk singkatan yang berasal
dari bahasa asing harus diafalkan secara lafal indonesia)
Contoh:
Singkatan Lafal baku Lafal
Tidak Baku
a.n atas
nama a en
Bpk. Bapak be pe ka
dst. dan
seterusnya de es te
Sdr. Saudara es de er
AC Ace a se
Pemakai bahasa sering
menghilangkan bunyi tertentu pada sebuah kata, yang mengakibatkan pelafalan
tersebut menjadi salah atau tidak benar. Berikut ini contoh kesalahan pelafalan
karena penghilangan fonem.
-
Penghilangan fonem lokal
a. Penghilangan
fonem /a/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Makaroni Makroni
Parabola Parabol
Pena Pen
b. Penghilangan
fonem /e/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Jenderal Jendral
Karier Karir
Majelis Majlis
Sutera Sutra
Terampil Trampil
-
Penghilangan fonem vokal
rangkap menjadi fonem tungga
Contoh:
Fonem /ai/ dilafalkan menjadi /e/
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Andai Ande
Pantai Pante
Pandai Pande
Ramai Rame
-
Penghilangan deret vokal
menjadi vokal tunggal
Contoh:
Deret vokal /ei/ dilafalkan menjadi
/e/
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Pleidoi Pledoi
Survei Surve
-
Penghilangan gugus
konsonan
Contoh:
Penghiangan gugus konsonan /kh/
menjadi /h/
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Makhluk Mahluk
Takhta Tahta
Tarikh Tarih
Terdapat
pula kesalahan pelafalan karena penambahan fonem tertentu pada kata-kata yang
diucapkan.
Contoh:
- Penambahan
fonem vokal
a. Penambahan
fonem vokal /a/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Narkotik Narkotika
Narwastu Narawastu
Rohaniwan Rohaniawan
b. Penambahan
fonem /e/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Mantra Mantera
Mantri Manteri
Mars Mares
- Penambahan
fonem konsonan
Misal:
a.
Penambahan fonem /d/
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Stan Stand
Standar Standard
b.
Penambahan fonem /h/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Magrib Maghrib
Nakhoda Nakhohda
Percumah Percumah
- Pembentukan
deret vokal
a.
Pembentukan deret vokal
/ai/ dari vokal /e/
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Primer Primair
Sekunder Sekundair
Syeikh Syaikh
- Pembentukan
gabungan atau gugus konsonan fonem konsonan tunggal
Misal:
Lafal Baku Lafal Tidak Baku
Sandiwara Sandhiwara
Weda Wedha
BAB IV
Pada bab IV dalam buku
Prof. Henry Guntur Tarigan membahas mengenai antar bahasa atau interlanguage.
Antarbahasa atau interlanguage menjadi lebih banyak dipakai dalam kepustakaan
dewasa ini, mungkin karena lebih netral bagi pengarahan sikap. Adapun
alasan-alasan istilah antarbahasa cocok dan serasi, yaitu karena istilah
antarbahasa telah mencakup status yang tidak menentkan dari sistem sang
pembelajar antarbahasa aslinya dan bahasa sasaran. Istilah antar bahasa
menggambarkan “kecepatan yang tidak normal” yang dapat bertindak sebagai sarana
pengubah bahasa pembelajar. Selain itu, berpusat pada istilah “bahasa”, maka
secara eksplisit istilah antarbahasa ini mengakui dan menghargai hakikat
performansi pembelajar yang sistematik dan taat kaidah.
Istilah antarbahasa
mengacu kepada seperangkat sistem yang saling berpautan yang memberi ciri
kepada pemerolehan, sistem yang dapat diawasi/dapat diobservasi pada
perkembangan, dan kombinasi bahasa ibu/bahasa sasaran tertentu.
Proses antarbahasa
mencakup:
a. Transfer
bahasa
b. Transfer
latihan
c. Siasat
pembelajaran B2
d. Siasat
komunikasi B2
e. Overegeneralisasi
kaidah-kaidah bahasa sasaran
Adapaun telaah antarbahasa
bertujuan untuk:
a. Memberi
informasi perilaku pembelajar bagi perencanaan strategi pedagogik
b. Bertindak
sebagai prasyarat bagi validasi tuntutan keras dan tuntutan lemah pendekatan
kontrastif
c. Mencari
hubuungan antara pembelajaran masa kini, dulu dan nanti
d. Memberi
sumbangan bagi teori linguistik umum
Dalam
buku Markhamah, dkk, keefektifan kalimat selain dilihat dari ciri gramatikal,
keselarasan, kepaduan dan kehematan juga dilihat dari kevariasian. Kevariasian
dapat menghindarkan pendengar maupun pembaca dari kebosanan. Soedjito
membedakan variasi urutan adalah urutan unsur-unsur fungsi yang berbeda.
Berbeda urutan yang dimaksud adalah urutan biasa dan urutan inversi. Adapun
variasi berdasarkan jenis kalimat dibedakan menjadi dua. Pertama, variasi antara
aktif dan pasif yang disebut variasi aktif-pasif. Kedua, variasi antara kalimat
berita dengan kalimat perintah dan dengan kalimat tanya. Variasi kedua ini
disebut variasi berita-perintah-tanya.
Sedangkan
dalam buku Mansore Pateda membahas sumber penyebab kesalahan. Kesalahan
bersumber pada ketidakhati-hatian. Si terdidik dan yang lain karena pengetahuan
mereka terhadap bahasa yang dipelajari, dan interferensi. Kesalahan bersumber
pada pemilihan bahan pengajaran, contoh bahasa yang digunakan sebagai bahan dan
si terdidik.
Istilah
bahasa ibu biasanya disebut dengan first
language. Bahasa ibu mempengaruhi proses belajar bahasa kedua, dengan kata
lain bahasa ibu menjadi salah satu sumber dan sekaligus sebagai penyebab
kesalahan.
Sumber
dan penyebab kesalahan juga dapat dari lingkungan. Lingkungan yang dimaksud
disini adalah lingkungan yang turut mempengaruhi penguasaan bahasa si terdidik.
Lingkungan ini meliputi lingkungan di rumah, di sekolah dan lingkungan di
masyarakat. Kita mengetahui bahwa si terdidik tidak hidup sendirian. Setiap
hari ia bergaul dengan sesama temannya.
Selain
lingkungan, juga dari kebiasaan. Kebiasaan bertaian dengan pengaruh bahasa ibu
dan lingkungan. Si terdidik terbiasa dengan pola-pola bahasa yang didengarnya.
Oleh karena itu, pola atau bentuk yang sudah menjadi kebiasaan, kesalahan sulit
dihilangkan. Selanjutnya ada interlingual dan interferensi. Interlingual
merupakan perspektif belajar si terdidik. Perspektif belajar yang dimaksud
memberikan proses yang dapat diusahakan agar proses bahasa kedua berjalan
dengan baik. Interferensi yaitu disebut juga transfer negatif. Transfer negatif
adalah kesalahan akibat sistem bahasa pertama berbeda sekali dengan sistem
bahasa yang sedang dipelajari.
Dalam
buku karya Nanik Setyawati, M. Hum., pada bab IV mmbahas mengenai kesalahan
berbahasa dalam bidang morfologi. Kesalahan berbahasa dalam tataran morfoogi
disebabkan oleh berbagai hal. Klasifikasi kesalahan berbahasa dalam tataran
morfologi antara lain:
a.
Penghilangan afiks
b.
Bunyi yang seharusnya
luluh tetapi tidak diluluhkan
c.
Peluluhan bunyi yang
seharusnya tidak luluh
d.
Penggantian morf
e.
Pentingkatan morf mem-,
men-, meng-, meny-, dan menge-
f.
Pemakaian afiks yang
tidak tepat
g.
Penentuan bentuk dasar
yang tidak tepat
h.
Penempatan afiks yang
tidak tepat pada gabunga kata
i. Pengulangan
kata majemuk yang tidak tepat.
Daftar
Pustaka
Markhamah, dkk. 2009. Analisis Kesalahan dan Kesatunan Berbahasa. Surakarta:Muhammadiyah
University Press.
Pateda,
Mansoer. 1989. Analisis Kesalahan.
Flores:Nusa Indah.
Setyawati, Nanik. 2010. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia:
Teori dan Praktik. Surakarta: Yuma Pustaka.
Tarigan, Henry Guntur, Djago Tarigan.
1995. Pengajaran Analisis Kesalahan
Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar